Ketika Ketenaran Menjadi Barometer Kebenaran

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Rizki Nurjaman



1. Pendahuluan

Tidak semua yang populer layak dipercaya. Namun, di era media digital, popularitas sering kali lebih cepat dipercaya daripada kebenaran. Sebuah pernyataan dapat diterima secara luas bukan karena telah diuji, melainkan karena terus beredar. Semakin sering terlihat, semakin mudah dianggap benar. Tanpa disadari, ketenaran bergeser dari sekadar penanda popularitas menjadi sumber legitimasi.

Gejala ini tampak jelas di ruang digital. Jumlah pengikut, centang biru, jutaan tayangan, hingga status trending kerap membentuk kesan bahwa suatu pendapat layak dipercaya. Figur publik pun sering memperoleh otoritas di luar bidang keahliannya, sementara penjelasan yang lebih cermat justru mudah tenggelam karena kurang memperoleh perhatian. Ukuran kepercayaan pun bergeser: bukan lagi mutu argumen yang dinilai, melainkan siapa yang menyampaikannya.

Perubahan ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Media sosial hanya mempercepat kecenderungan lama manusia untuk mengikuti apa yang diyakini banyak orang, terutama ketika menghadapi ketidakpastian. Algoritma kemudian memperkuat kecenderungan tersebut dengan terus menampilkan informasi yang memperoleh perhatian paling besar. Akibatnya, popularitas dan kebenaran tampak seolah berjalan searah, padahal keduanya berbeda secara mendasar. Popularitas berbicara mengenai siapa yang paling banyak didengar, sedangkan kebenaran ditentukan oleh siapa yang memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan tersebut: mengapa manusia begitu mudah mempercayai sesuatu hanya karena banyak orang mempercayainya, dan bagaimana Al-Qur’an memandang fenomena tersebut. Melalui dialog antara psikologi sosial, studi media digital, dan konsep al-ḥaqq, tulisan ini berupaya menunjukkan bahwa ketenaran dapat menjelaskan luasnya jangkauan sebuah gagasan, tetapi tidak pernah cukup untuk membuktikan kebenarannya.

2. Popularitas dan Ilusi Kebenaran

Popularitas tidak memperoleh pengaruhnya dari teknologi semata. Ia bertumpu pada kecenderungan manusia untuk mencari kepastian melalui orang lain. Ketika menghadapi ketidakpastian, mayoritas terasa lebih aman daripada suara yang berbeda. Robert B. Cialdini menyebut kecenderungan ini sebagai social proof (Cialdini, 2021). Dalam kehidupan sehari-hari, mekanisme tersebut membantu manusia mengambil keputusan dengan cepat. Masalah muncul ketika logika yang sama digunakan untuk menilai benar atau salahnya sebuah gagasan.

Solomon Asch pernah melakukan eksperimen sederhana pada tahun 1950-an. Sejumlah peserta diminta membandingkan panjang beberapa garis. Ketika anggota kelompok lain sengaja memberikan jawaban yang salah, sebagian peserta justru ikut memilih jawaban yang mereka ketahui keliru. Bukan karena mereka tidak mampu membedakan panjang garis, melainkan karena tekanan untuk tidak berbeda sering kali lebih kuat daripada keyakinan pribadi (Asch, 1955).

Kerumunan kini tidak lagi harus berkumpul di satu tempat. Di media sosial, jutaan pengikut dan ribuan komentar sudah cukup menciptakan tekanan sosial yang serupa. Fenomena semacam ini telah lama diamati oleh Gustave Le Bon dalam kajiannya mengenai psikologi massa (Le Bon, 2002). Tren inilah yang membuat popularitas mudah berubah menjadi sumber legitimasi. Ketika banyaknya pendukung lebih cepat menarik perhatian daripada kualitas argumentasi, orang tidak lagi bertanya apakah suatu pendapat benar, melainkan cukup memastikan bahwa pendapat tersebut telah dipercaya oleh banyak orang.

Namun, penjelasan psikologis saja belum cukup untuk memahami mengapa fenomena ini menjadi begitu masif pada era digital. Ada faktor lain yang bekerja secara senyap, yaitu algoritma media sosial yang terus memperkuat apa yang telah dianggap menarik oleh banyak orang.

3. Algoritma Mengubah Cara Mempercayai

Kecenderungan mengikuti mayoritas menemukan ruang yang sangat subur di media sosial. Platform digital tidak hanya menjadi tempat bertemunya berbagai informasi, tetapi juga ruang yang mengatur informasi mana yang lebih dahulu terlihat dan mana yang perlahan menghilang dari perhatian. Proses tersebut berlangsung melalui algoritma yang bekerja di balik layar. Setiap klik, komentar, tanda suka, atau durasi menonton direkam untuk memprediksi konten yang paling mungkin membuat pengguna bertahan lebih lama.

Logika tersebut melahirkan attention economy, yaitu kondisi ketika perhatian menjadi komoditas utama. Konten yang bersifat emosional lebih mudah memperoleh jangkauan luas dibandingkan penjelasan yang tenang dan bernuansa (Wu, 2016; Zuboff, 2019).

Algoritma juga membentuk cara pengguna memandang realitas. Melalui filter bubble dan echo chamber, seseorang semakin sering dipertemukan dengan pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sendiri, sementara perspektif yang berbeda perlahan menghilang (Pariser, 2011; Sunstein, 2017). Akibatnya, kesepakatan dalam kelompok mudah disalahartikan sebagai kebenaran yang berlaku umum.

Psikologi kognitif mengenal gejala ini sebagai Illusory Truth Effect. Informasi yang terus diulang perlahan terasa semakin benar. Keakraban berubah menjadi keyakinan (Hasher, Goldstein, & Toppino, 1977; Brashier & Marsh, 2020).

Penelitian Soroush Vosoughi, Deb Roy, dan Sinan Aral menunjukkan bahwa berita palsu menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada berita yang benar (Vosoughi, Roy, & Aral, 2018). Jika perhatian publik dapat dibentuk oleh algoritma, atas dasar apa seseorang seharusnya menentukan bahwa suatu pendapat layak dipercaya? Jauh sebelum manusia mengenal media sosial, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa banyaknya orang yang mengikuti suatu pendapat tidak pernah cukup untuk menjadikannya benar.

4. Al-Ḥaqq dan Kritik atas Logika Mayoritas

Jika popularitas bukan ukuran kebenaran, lalu apa yang dapat dijadikan ukurannya? Pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi masyarakat digital, tetapi juga telah lama dijawab oleh Al-Qur’an melalui kritik terhadap logika mayoritas. Allah Swt. berfirman:

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

"Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan." (QS. Al-An’am [6]: 116).

Sekilas, ayat ini dapat dipahami sebagai peringatan agar tidak mengikuti mayoritas. Akan tetapi, jika dicermati lebih dalam, yang dikritik Al-Qur’an bukanlah banyaknya manusia, melainkan cara berpikir yang menjadikan mayoritas sebagai dasar penentuan kebenaran. Para mufasir menjelaskan bahwa penyimpangan tersebut berakar pada kecenderungan mengikuti dugaan, tradisi, dan hawa nafsu tanpa landasan yang dapat dipertanggungjawabkan (Al-Ṭabarī, 2001; Ibn ‘Āshūr, 1984). Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada jumlah pengikut, tetapi pada fondasi yang menopang sebuah keyakinan.

Pola yang sama muncul berulang kali dalam Al-Qur’an. Allah Swt. menyebut bahwa "kebanyakan manusia tidak beriman" (QS. Yusuf [12]: 103), "sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur" (QS. Saba’ [34]: 13), serta "kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Ghafir [40]: 57). Pengulangan ungkapan akṡaru al-nās dan qalīl menunjukkan bahwa kebenaran tidak pernah ditentukan melalui pemungutan suara. Banyaknya orang yang menerima suatu pendapat hanya menunjukkan tingkat penerimaan sosial, bukan membuktikan kebenaran pendapat tersebut.

Dalam Al-Qur’an, al-ḥaqq adalah kebenaran yang berpijak pada wahyu, bukti, dan akal yang jernih. Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mendorong manusia agar berpikir, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, serta tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu (Kementerian Agama RI, 2019). Beriman bukan berarti berhenti berpikir; justru iman menuntut kesediaan membangun keyakinan di atas pengetahuan yang benar, bukan di atas tekanan sosial ataupun arus opini.

Pesan Al-Qur’an tetap relevan bagi masyarakat digital. Ketika ruang publik semakin ramai oleh perlombaan memperebutkan perhatian, wahyu mengingatkan bahwa perhatian bukanlah ukuran kebenaran. Popularitas dapat memperluas jangkauan sebuah gagasan, tetapi tidak pernah mampu menggantikan bukti.

5. Penutup

Tantangan masyarakat digital tidak berhenti pada persoalan melawan hoaks atau memeriksa fakta. Tantangan yang lebih mendasar adalah menjaga cara berpikir agar tidak menjadikan popularitas sebagai jalan pintas menuju kebenaran. Angka memang mudah dilihat, tetapi bukti tidak selalu demikian. Popularitas dapat dihitung, sedangkan kebenaran harus diuji. Perbedaan inilah yang semakin sering kabur ketika perhatian publik menjadi mata uang utama di ruang digital.

Di tengah keadaan seperti itu, pesan Al-Qur’an terasa semakin relevan. Wahyu tidak mengajarkan manusia untuk mengikuti suara yang paling keras atau kelompok yang paling besar, tetapi mengajak mereka membangun keyakinan di atas ilmu, dalil, dan penalaran yang jernih. Sikap tabayyun, kesediaan berpikir kritis, serta keberanian mengoreksi keyakinan ketika berhadapan dengan bukti merupakan bagian dari etika intelektual yang terus dibutuhkan, apa pun zaman yang dihadapi.

Ketenaran membuat sebuah suara lebih mudah didengar. Hanya itu. Ia tidak pernah menjadi bukti bahwa suara tersebut benar. Sejarah para nabi, tradisi keilmuan Islam, bahkan temuan psikologi modern sama-sama mengingatkan bahwa kebenaran tidak lahir dari banyaknya pengikut. Maka, pertanyaan yang layak kita bawa pulang bukanlah, "Siapa yang paling banyak diikuti?", melainkan, "Mengapa saya mempercayainya?"

6. Daftar Pustaka

Al-Ṭabarī, Abū Jaʿfar Muḥammad ibn Jarīr. Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān. Ed. ʿAbd Allāh ibn ʿAbd al-Muḥsin al-Turkī. 26 jilid. Cairo: Dār Hijr, 2001.

Asch, Solomon E. "Opinions and Social Pressure." Scientific American 193, no. 5 (1955): 31–35.

Brashier, Nadia M., dan Elizabeth J. Marsh. "Judging Truth." Annual Review of Psychology 71 (2020): 499–515.

Cialdini, Robert B. Influence: The Psychology of Persuasion. Revised ed. New York: Harper Business, 2021.

Hasher, Lynn, David Goldstein, dan Thomas Toppino. "Frequency and the Conference of Referential Validity." Journal of Verbal Learning and Verbal Behavior 16, no. 1 (1977): 107–112.

Ibn ʿĀshūr, Muḥammad al-Ṭāhir. Al-Taḥrīr wa al-Tanwīr. 30 jilid. Tunis: Dār Sahnūn, 1984.

Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.

Le Bon, Gustave. The Crowd: A Study of the Popular Mind. Mineola, NY: Dover Publications, 2002.

Pariser, Eli. The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. New York: Penguin Press, 2011.

Sunstein, Cass R. #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media. Princeton, NJ: Princeton University Press, 2017.

Vosoughi, Soroush, Deb Roy, dan Sinan Aral. "The Spread of True and False News Online." Science 359, no. 6380 (2018): 1146–1151.

Wu, Tim. The Attention Merchants: The Epic Scramble to Get Inside Our Heads. New York: Alfred A. Knopf, 2016.

Zuboff, Shoshana. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. New York: PublicAffairs, 2019.
Baca juga:
Labels : #alquran ,#Mahasiswa ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar