Pengaruh Tokoh Agama terhadap Praktik Keberagamaan Masyarakat: Tinjauan Tafsir dan Hadis

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Ilma Raudhatul Amalia



1. Pendahuluan

Beberapa waktu terakhir, masyarakat Kabupaten Ciamis cukup banyak membicarakan fenomena keagamaan yang berkembang di Panjalu, khususnya yang berkaitan dengan sosok Abah Aos. Perbincangan tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat sekitar, tetapi juga meluas melalui media sosial. Berbagai potongan video pengajian, kegiatan zikir, maupun aktivitas jemaah yang beredar di media sosial memunculkan beragam tanggapan. Ada yang memandang kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembinaan spiritual yang telah lama berkembang dalam tradisi tasawuf, tetapi ada pula yang mempertanyakan beberapa praktik yang dilakukan karena dianggap berbeda dengan pemahaman yang selama ini mereka kenal. Perbedaan tanggapan tersebut menjadi hal yang menarik untuk dibahas karena menunjukkan bahwa satu fenomena keagamaan dapat dipahami secara berbeda oleh setiap orang.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Sejak dahulu, praktik keagamaan selalu berkembang dengan berbagai corak sesuai dengan latar belakang masyarakatnya. Ada kelompok yang lebih menekankan aspek fikih, ada yang lebih menonjolkan dakwah, dan ada pula yang memberikan perhatian lebih pada pembinaan spiritual melalui tasawuf. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa kehidupan beragama di Indonesia memang memiliki corak yang beragam. Oleh karena itu, munculnya perbedaan praktik keagamaan bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Yang justru menjadi perhatian adalah bagaimana masyarakat memberikan respons terhadap perbedaan tersebut.

Abah Aos dikenal sebagai salah satu tokoh agama yang membimbing jemaah di lingkungan Pesantren Sirnarasa, Panjalu. Melalui pendekatan tasawuf dalam Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, beliau membina jemaah melalui kegiatan zikir, pengajian, pembinaan akhlak, dan pembelajaran keagamaan. Kehadiran beliau telah menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat di Panjalu maupun daerah lain di Jawa Barat. Namun, ketika berbagai kegiatan tersebut mulai dikenal lebih luas melalui media sosial, muncul pula berbagai penilaian. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai bentuk dakwah yang mampu membimbing umat agar lebih dekat kepada Allah Swt., sedangkan sebagian lainnya mempertanyakan beberapa praktik yang dianggap berbeda dengan pemahaman mereka.

Menurut saya, perbedaan pandangan seperti ini merupakan sesuatu yang wajar. Setiap orang memiliki pengalaman belajar agama yang berbeda sehingga cara memahami suatu praktik keagamaan pun tidak selalu sama. Ada yang memperoleh pemahaman melalui pesantren, ada yang belajar dari organisasi keagamaan tertentu, dan ada pula yang lebih banyak memperoleh informasi melalui media sosial. Perbedaan sumber belajar tersebut secara tidak langsung memengaruhi cara seseorang menilai suatu fenomena keagamaan. Karena itu, tidak semua orang akan memberikan respons yang sama terhadap praktik yang berkembang di Panjalu.

2. Pentingnya Tabayyun dalam Menyikapi Informasi Keagamaan

Hal lain yang ikut memengaruhi munculnya perbedaan penilaian adalah perkembangan media sosial. Saat ini informasi dapat tersebar dengan sangat cepat. Potongan video berdurasi beberapa detik sering kali langsung dijadikan dasar untuk memberikan penilaian terhadap seseorang ataupun suatu kelompok. Padahal, informasi yang diperoleh melalui media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan keadaan yang sebenarnya. Tidak sedikit orang yang akhirnya membentuk opini hanya berdasarkan cuplikan video tanpa mengetahui latar belakang kegiatan ataupun penjelasan yang disampaikan secara utuh. Kondisi seperti inilah yang kemudian sering menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Apabila diperhatikan lebih jauh, persoalan yang muncul sebenarnya bukan terletak pada sosok Abah Aos ataupun praktik keagamaan yang berkembang di lingkungan Sirnarasa. Persoalan utamanya justru terletak pada cara masyarakat menerima dan menyikapi informasi yang beredar. Ada yang langsung menerima tanpa berusaha memahami lebih dalam, tetapi ada pula yang langsung menolak tanpa mencari penjelasan terlebih dahulu. Menurut saya, kedua sikap tersebut sama-sama kurang tepat. Dalam persoalan agama, sikap yang lebih bijaksana adalah berusaha memahami terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Dengan cara tersebut, seseorang dapat melihat suatu persoalan secara lebih utuh dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu lengkap.

Pandangan seperti ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Hujurāt ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا...

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu." (QS. Al-Hujurāt [49]: 6).

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya tabayyun, yaitu mencari kejelasan terhadap suatu informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya. Menurut penafsiran al-Ṭabari, perintah tabayyun diberikan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengambil keputusan yang dapat merugikan orang lain. Sikap berhati-hati dalam menerima informasi merupakan bagian dari adab yang diajarkan Al-Qur'an, terutama ketika informasi tersebut berkaitan dengan kehormatan atau nama baik seseorang.

Menurut saya, pesan yang terkandung dalam ayat ini sangat relevan dengan fenomena yang berkembang di Panjalu. Ketika berbagai video dan informasi mengenai Abah Aos banyak beredar di media sosial, tidak semua orang memperoleh penjelasan yang utuh mengenai kegiatan yang dilakukan. Ada yang langsung memberikan dukungan, tetapi tidak sedikit pula yang segera menyampaikan penolakan. Padahal, Al-Qur'an justru mengajarkan agar seseorang tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum memperoleh informasi yang jelas. Sikap tabayyun menjadi penting agar perbedaan pendapat tidak berubah menjadi prasangka yang dapat merusak hubungan antarsesama muslim.

3. Etika Menyikapi Perbedaan dalam Hadis

Pandangan yang hampir serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran Muhammad Abduh. Menurutnya, ajaran Islam tidak mendorong umatnya untuk menerima ataupun menolak sesuatu secara membabi buta. Akal yang diberikan Allah kepada manusia harus digunakan untuk memahami suatu persoalan secara utuh. Seseorang tidak cukup hanya melihat sesuatu dari permukaannya, tetapi perlu mencari penjelasan, memahami latar belakangnya, kemudian memberikan penilaian secara adil. Pemikiran ini masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, seseorang sering kali lebih mudah membentuk opini daripada mencari penjelasan yang sebenarnya.

Selain Al-Qur'an, Rasulullah saw. juga memberikan pedoman penting dalam menjaga hubungan antarsesama muslim. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, beliau bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ...

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak merendahkannya. Cukuplah seseorang dianggap buruk apabila ia merendahkan saudaranya sesama muslim." (HR. Muslim).

Hadis ini tidak hanya berbicara mengenai hubungan antarsesama muslim dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memberikan pelajaran mengenai etika ketika menyikapi perbedaan. Rasulullah saw. tidak mengajarkan umatnya untuk mudah merendahkan orang lain hanya karena memiliki pemahaman yang berbeda. Justru persaudaraan harus tetap dijaga meskipun terdapat perbedaan cara pandang ataupun praktik keagamaan.

Fenomena yang berkembang di media sosial saat ini memperlihatkan bahwa komentar yang berisi ejekan, sindiran, bahkan tuduhan kepada kelompok lain sangat mudah ditemukan. Padahal, perilaku tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah saw. Perbedaan memang tidak selalu dapat dihindari, tetapi cara menyampaikan pendapat tetap harus memperhatikan adab. Kritik yang disampaikan dengan bahasa yang baik tentu akan lebih mudah diterima dibandingkan kritik yang disertai penghinaan.

4. Penutup

Fenomena yang berkembang di Panjalu memberikan pelajaran bahwa pengaruh seorang tokoh agama sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Tidak sedikit orang yang memperoleh ketenangan batin setelah mengikuti majelis ilmu ataupun kegiatan zikir yang dipimpin oleh seorang guru. Di sisi lain, terdapat pula masyarakat yang memilih untuk tidak mengikuti karena memiliki pemahaman yang berbeda. Kedua pilihan tersebut merupakan hak masing-masing selama dilakukan dengan cara yang baik dan tanpa saling merendahkan.

Perbedaan yang muncul sering kali bukan disebabkan oleh ajaran Islam itu sendiri, melainkan oleh cara manusia memahaminya. Oleh karena itu, masyarakat perlu membangun sikap terbuka, mengedepankan tabayyun, serta menjaga adab ketika menyampaikan pendapat. Menghormati tokoh agama tidak berarti menutup ruang untuk belajar dan memahami dalil, sebagaimana mengkritisi suatu praktik keagamaan juga tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan dugaan atau potongan informasi.

Dengan demikian, pengaruh tokoh agama terhadap praktik keberagamaan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial umat Islam. Kehadiran tokoh agama dapat menjadi sarana memperdalam ilmu dan memperkuat spiritualitas. Namun, masyarakat tetap perlu menjadikan Al-Qur'an dan hadis sebagai pedoman utama, membiasakan diri melakukan tabayyun terhadap setiap informasi, serta menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah berbagai perbedaan.

Baca juga:
Labels : #alquran ,#hadis ,#Living Hadis ,#Living Quran ,#Mahasiswa ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar