Abstraksi Hadis di Masyarakat Kota

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Muhammad Akmaluddin


Beberapa fenomena terkait dengan kompilasi berbagai riwayat hadis dalam satu praktik kegiatan agama banyak dilakukan oleh masyarakat urban. Di Yogyakarta, Solo, dan Semarang misalnya banyak yang menyediakan makanan serta minuman bagi jamaah salat Jumat. Di dalam hadis Rasulullah, tidak ada suatu kegiatan salat berjamaah di masjid yang diberikan makanan atau minuman secara berjamaah atau bergiliran.

Pada waktu bulan Ramadan juga terjadi abstraksi hadis sebagaimana dalam perayaan maulid. Misalnya di beberapa masjid kampus dan masjid warga di Yogyakarta diadakan kajian agama dengan peserta laki-laki atau perempuan yang campur baur menjadi satu. Kajian ini dilakukan menjelang buka puasa. Bahkan setelah salat tarawih pun masih ada sajian makanan dan minuman bagi para jamaah. Anehnya, masjid yang melakukan abstraksi ini kebanyakan tidak pernah digunakan untuk merayakan maulid.

Beberapa pamflet yang disebar guna merekrut pengajian menjelang kajian puasa banyak disisipi hadis tentang pahala memberi makanan bagi orang yang berpuasa, pahala bagi mereka yang ikut belajar ilmu agama serta hadis-hadis lainnya. Bahkan terkadang para pesertanya tidak mengerti hadis mana saja yang dijadikan dasar untuk kegiatan tersebut. Uniknya, beberapa masjid juga menyertakan tema kajian, pembicara hingga menu yang akan disajikan. Tentunya fenomena buka puasa bersama seperti dilakukan oleh masyarakat urban tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah.

Oleh karena itu, fenomena keagamaan terkait dengan abstraksi hadis yang terjadi di Indonesia paling tidak terbagi dalam dua kelompok besar. Pertama, abstraksi hadis rural, yaitu fenomena keagamaan berdasarkan atas beberapa hadis yang kemudian dijadikan satu abstraksi hadis dan dipopulerkan kepada masyarakat awam dan banyak terjadi di pedesaan. Abstraksi ini terjadi sudah sejak lama, bahkan dapat dilacak hingga masa kemunculan berbagai gerakan keagamaan abad ke-4/ke-10 – ke-5/ke-11.

Misalnya adalah perayaan maulid, membangun makam orang shalih dan lain sebagainya. Banyak hadis-hadis populer yang muncul dalam abstraksi ini, lengkap dengan teks Arab dan penjelasannya. Namun standar yang ada sangat jauh dari kriteria validitas hadis. Standar yang diterapkan dalam abstraksi hadis rural mirip dengan tipologi riwayat hadis kelompok tasawuf. Mereka lebih mementingkan esensi atas suatu hadis, bukan validitasnya. Hadis tersebut kemudian dijadikan legitimasi atas berbagai amaliah yang mereka lakukan.

Kedua, abstraksi hadis urban, yaitu fenomena keagamaan yang didasarkan pada beberapa hadis tanpa menjadikan abstraksi satu hadis, namun inti hadis dijadikan dalam satu pemaknaan atau satu kegiatan dan banyak terjadi di kota. Misalnya pemberian makan dan minum bagi jamaah salat, buka bersama dengan kajian agama dan menu tertentu, dan lainnya. Hadis yang disebutkan cenderung mempunyai tema yang umum dan tidak terkait dengan suatu kegiatan yang sedang dilaksanakan. Standar hadis abstraksi ini banyak dimunculkan dalam terjemahan bahasa nasional dan sangat ketat mengenai validitas hadis. Mereka lebih mementing- kan validitas hadis daripada esensinya.

Abtraksi hadis rural tidak menggunakan validitas hadis, namun lebih fokus pada esensi hadisnya. Abtraksi ini juga tidak memakai terjemahan hadis, namun memakai abstraksi dalam bahasa Arab dan melahirkan versi singkat hadis yang kemudian populer melalui beberapa kitab pesantren, ceramah, pengajian, dan lain sebagainya.

Selain hadis maulid, ada juga beberapa praktik keagamaan yang menggunakan abstraksi hadis rural. Misalnya tahlilan, membaca manaqib, halal bi halal, pengajian akbar, sedekah bumi, dan lain sebagainya. Dalam kajian hadis kontemporer, praktik keagamaan yang menggunakan semacam abtraksi tersebut disebut sebagai living hadis atau hadis yang hidup di dalam masyarakat. Fenomena ini juga banyak dijumpai di beberapa negara yang mempunyai praktik keagamaan dengan ciri khusus seperti Jama‘ah Tabligh di semenanjung India.

Kajian makna atau pemahaman hadis adalah kajian yang unik. Pemahaman hadis tidak bisa diukur hanya melalui standar validitas hadis saja. Perlunya suatu kalimat yang dianggap hadis oleh masyarakat tidak bisa dipandang sebagai hadis yang sahih atau tidak.

Bisa jadi hadis tersebut merupakan versi singkat dari beberapa hadis yang memuat beragam tema. Hadis-hadis tersebut kemudian dibuat menjadi suatu abstraksi atau talkhish yang merupakan versi pendek dari beberapa hadis yang ada. Abstraksi hadis yang kemudian dianggap hadis ini dianggap masyarakat sebagai hadis yang benar dan digunakan untuk legitimasi suatu amaliah.

Hadis versi pendek tersebut tidak muncul dalam kitab kanonik hadis. Namun begitu, tema hadis-hadis yang menjadi satu abstraksi tersebut dapat dilacak dalam kitab kanonik. Versi pendek hadis dapat dijumpai dalam beberapa kitab yang membahas keutamaan suatu praktik keagamaan yang mungkin dianggap bidah oleh kelompok masyarakat yang lain.

Praktik keagamaan tersebut utamanya berasal dari persinggungan budaya, cara berpikir masyarakat, perayaan beberapa peristiwa agung, dan lainnya yang tidak ada di pusat Islam di Timur Tengah. Penilaian terhadap berbagai praktik keagamaan tersebut haruslah memakai standar pemahaman teks keagamaan yang dimiliki masyarakat. Dengan begitu, penilaian praktik tersebut dapat difahami dengan komprehensif, objektif dan konstruktif bagi keragaman perspektif agama di Indonesia.

 

Disarikan dari artikel Metode Riwayat bi al-Ma‘nâ dan Hadis Populer di Indonesia: Studi Hadis-hadis Maulid Rasulullah

Baca juga:
Labels : #Abstraksi Hadis ,#Ilmu Hadis ,#Opini ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar