Bagi orang yang memiliki ilmu, maka ilmu harus diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. bagi yang tidak memiliki, maka harus bertanya kepada orang alim untuk mengamalkan sesuatu. Semua orang harus sadar akan posisinya dan menjadikan dirinya serta bertindak sesuai dengan tingkatan yang dimilikinya.
1. Tipe Pengetahuan Manusia
Dalam Ihya ‘Ulum al-Din, al-Imam
al-Ghazali mengutip perkataan al-Khalil bin Ahmad:
الرجال أربعة:
رجل يدري ويدري أنه يدري فذلك عالم فاتبعوه
ورجل يدري ولا يدري أنه يدري فذلك نائم فأيقظوه
ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذلك مسترشد فأرشدوه
ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري فذلك جاهل فارفضوه
“Manusia dibagi menjadi empat
- Seseorang yang mengetahui dan tahu bahwa ia mengetahui. Itu adalah orang alim, maka ikutilah
- Seseorang yang mengetahui dan tidak tahu bahwa ia mengetahui. Itu adalah orang tidur, maka bangunkanlah
- Seseorang yang tidak mengetahui dan tahu bahwa ia tidak mengetahui. Itu adalah orang yang meminta petunjuk, maka tunjukkanlah
- Seseorang yang tidak mengetahui dan tidak tahu bahwa ia tidak mengetahui. Itu adalah orang bodoh, maka jauhilah
Dalam konteks tersebut, al-Imam al-Ghazali
menjelaskan kutipan al-Khalil bin Ahmad dalam kerangka bab bahaya ilmu, dan penjelasan
tanda ulama akhirat dan ulama yang buruk. Oleh karena itu, seorang alim harus
mengetahui kemampuan dirinya dalam menguasai ilmu. Sebaliknya, orang yang tidak
alim harus mengetahui ketidakmampuan dirinya dalam menguasai ilmu.
Orang yang alim harus sadar akan posisinya,
mengamalkan ilmunya dan menjadi panutan bagi orang lain. Orang yang belum
mencapai tingkatan orang alim juga harus sadar akan posisinya, selalu mencari
ilmu dan mengingatkan atau menunjukkan orang lain yang membutuhkan
pertolongannya. Sebaliknya, orang yang bodoh, tidak punya ilmu, tidak sadar
akan posisinya, harus dijauhi karena ia sesat dan akan menyesatkan yang lain. Namun
orang bodoh tidak boleh kita tinggalkan begitu saja, tapi harus diselamatkan,
kecuali dia tidak mau.
2. Berlomba Tidak Mengetahui
Dalam tradisi ulama awal, mereka malah berlomba
tidak mengetahui ketika ditanya tentang sesuatu. Mereka harus memikirkan apakah
jawaban yang diberikan akan membawa pada surga atau neraka, apakah membawa
manfaat atau mafsadat, apakah memperbaiki masyarakat atau memperburuk mereka,
dan lain sebagainya. Banyak sekali yang mereka pertimbangkan terkait jawaban yang
diminta dengan ilmu yang mereka miliki.
Dalam Adab al-Mufti wa al-Mustafti, Ibn
al-Shalah banyak mengutip pandangan ulama awal seperti Malik bin Anas, Sahnun
bin Sa’id, Sufyan bin ‘Uyainah, Muhammad bin al-Munkadir, Sahl al-Tustari, ‘Abd
al-Rahman bin Abi Laila, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, al-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal
dan lain sebagainya tentang kehati-hatian dalam memberikan jawaban meskipun ilmu
mereka sundul langit.
Mereka berlomba-lomba untuk tidak segera
memberikan jawaban. Istilah “la adri” (aku tidak tahu) menjadi simbol hati-hati
dan rendah hati dalam keseharian mereka. Dalam tradisi Malikiyyah, la adri menjadi
suatu kewajiban bagi para penganutnya. Al-Qadli ‘Iyadl dalam Tartib al-Madarik
mengutip pendapat berbagai ulama tentang jawaban la adri, dimulai
dari al-Imam Malik bin Anas, Ibn ‘Ajlan, Ibn Hurmuz, al-Mughirah bin Syu’bah,
Ibn al-Zubair, Ibn ‘Umar, Ibn al-Faradli, Muhammad bin Haris dan lain sebagainya.
Ibn Wahb meriwayatkan bahwa Imam Malik ketika
ditanya 30.000 pertanyaan, hanya sepertiga yang terjawab. Dua pertiga sisanya
mengatakan la uhsinu atau la adri. Perihal jawaban ini, Malik
mengatakan bahwa ilmu lebih luas daripada pertanyaan yang diajukan (al-‘ilm
ausa’ min hadza), juga menghindari kebanggaan (ujub) dan mencari kedudukan.
3. Ushibat Maqatiluhu au Maqalatuhu
Di samping simbol berhati-hati dan bentuk rendah hati, la adri merupakan jalan alternatif untuk jatuh ke dalam jurang kesalahan yang lebih besar. Ibn ‘Ajlan mengatakan jika seorang alim lupa mengatakan la adri, maka usibat maqatiluhu (versi Ibn al-Shalah) au maqalatuhu (versi al-Qadli ‘Iyadl). Artinya jika jika seorang alim lupa mengatakan la adri, maka usibat maqatiluhu (kebaikan-kebaikannya akan rentan menjadi keburukan) au maqalatuhu (pendapatnya akan rentan salah). Terlalu cepat dalam menjawab mungkin akan menyebabkan penanya merasa takjub akan kemampuan orang alim tersebut. Namun semakin lama, semakin cepat dan semakin tanpa pertimbangan, pengetahuan dan jawabannya akan rentan masuk ke dalam kesalahan.
Di zaman serba cepat dan instan ini, bertindak lebih hati-hati dan rendah diri menjadikan seseorang lebih mawas diri, memiliki banyak pertimbangan, mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, dan menjadi panutan dalam memberikan jawaban atas ilmu yang diketahuinya. Di samping itu, dengan tindakan tersebut, orang alim akan lebih menjadi pengayom dan menjadi rujukan bagi semua orang, daripada menjadi penyenang satu pihak dan terkesan memiliki kecenderungan terhadap pihak yang menguntungkan dirinya sendiri.
