Bukti Empiris dan Historis yang Hilang dalam Hadis

Daftar Isi [Tampilkan]


Oleh: Muhammad Akmaluddin

Pembuktian empiris dan historis dalam hadis dianggap tidak mudah. Dalam hal ini, Motzki mengatakan:

“It is well known that the majority of Muslim traditions about the first century consists of a text (matn) and of corresponding information on how this text was handed down (isnad). The chain of transmission or isnad allegedly provides detailed information on how the text got to the author of the compilation in which it is to be found. Muslim hadith criticism judged the reliability of a given tradition first of all from the standpoint of its isnad. In contrast, Western scholarship, with its aim of assessing the historical value of a tradition, has restricted its attention mainly to the text. The latter approach was prompted by the conviction that the isnad is, in the most cases, purely fictional. This opinion was shared by Ignaz Goldziher, one of the founding fathers of Western hadith studies. On the other hand, due to the scarcity of sources, it was extremely difficult, if not impossible, to verify the reliability of the asanid. This could not be done without referring to information given by the early Muslims themselves in the biographical dictionaries on the traditionists. Yet this information was not considered to be very reliable by Western scholars.”

 

“Sudah diketahui dengan baik bahwa mayoritas tradisi Muslim sekitar abad pertama terdiri dari teks (matn) dan informasi yang sesuai tentang bagaimana teks ini diturunkan (isnad). Rantai transmisi atau isnad diduga memberikan informasi rinci tentang bagaimana teks sampai ke penulis kompilasi di mana ia dapat ditemukan. Kritisisme hadith Muslim pertama-tama menilai keandalan suatu tradisi tertentu dari sudut isnad -nya. Sebaliknya, keilmuan Barat, dengan tujuannya menaksir nilai historis sebuah tradisi, telah membatasi perhatiannya terutama pada teks. Pendekatan terakhir didorong oleh keyakinan bahwa assessing, dalam banyak kasus, murni fiktif. Pendapat ini diamini oleh Ignaz Goldziher, salah satu pendiri studi hadis Barat. Di sisi lain, karena kelangkaan sumber, sangat sulit, jika bukan tidak mungkin, untuk memverifikasi keandalan asanid. Hal ini tidak dapat dilakukan tanpa mengacu pada informasi yang diberikan oleh kaum Muslim awal sendiri dalam kamus biografi tentang para ahli hadis. Namun informasi ini tidak dianggap sangat dapat diandalkan oleh para sarjana Barat.”

 

Motzki tidak menyebutkan alasan kenapa banyak naskah yang sulit ditemukan, bahkan tidak mungkin, untuk memverifikasi reliabilitas sanad. Pesimisme Motzki sebenarnya dapat dijumpai dalam sejarah kodifikasi hadis yang penuh dengan kejadian yang tidak menguntungkan Dalam sejarah kodifikasi hadis, banyak naskah dan buku yang hilang karena beberapa faktor.

Misalnya kitab-kitab Ibn Lahi‘ah (w. 174/790) yang terbakar sedangkan ia mengandalkan hadis dari kitabnya tersebut. Ada juga yang hilang karena memang tidak sesuai dengan ideologi pemerintah sehingga kitab tersebut disensor dan dilarang untuk dipublikasikan seperti Musnad Baqi b. Makhlad karya Baqi b. Makhlad (w. 276/889).

Usaha-usaha filologis dan arkeologis untuk menemukan bukti empiris dan historis masih dilakukan sampai sekarang. Misalnya dengan munculnya berbagai manuskrip yang berasal dari akhir abad II/VIII seperti Sahifah Hammam b. Munabbih karya Hammam b. Munabbih (w. 183/799) semakin meneguhkan otentisitas hadis-hadis yang diproyeksikan ke belakang.

Begitu juga dengan penemuan berbagai papyri tentang penanggalan hijrah Rasulullah, inskripsi dan manuskrip al-Qur’an yang tidak lengkap, koin Arab-Sasania dan lain sebagainya. Ada juga aliran skeptis yang melakukan kesalahan terhadap penerjemahan teks Arab dan tidak memahami istilah atau gramatika di dalamnya, yang kemudian dikritik oleh aliran tradisionalis.

Penemuan tersebut secara tidak langsung memberikan tantangan atas postulat-postulat negatif aliran skeptis yang terus menerus dikembangkan dan dilestarikan. Di samping itu, usaha digitalisasi manuskrip di beberapa website juga semakin menambah tantangan yang ada. Dengan digitalisasi tersebut, semua orang bisa mengakses manuskrip secara bebas dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Manuskrip tidak lagi menjadi barang yang mewah dan terbatas bagi peneliti tertentu saja.


Disarikan dari artikel Pembuktian Empiris dan Validasi Alternatif dalam Kajian Hadis Kontemporer

Baca juga:
Labels : #Ilmu Hadis ,#Opini ,#Revisionis ,#Tradisionalis ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar