Oleh: Muhammad Akmaluddin
Aliran skeptis dalam kajian hadis mendapatkan rintangan dari bukti-bukti empiris dan historis yang dikemukakan oleh aliran tradisionalis. Namun begitu, bukan berarti aliran skeptis berhenti dan pensiun dari tradisi pemikiran hadis. Mereka akan melakukan falsifikasi terhadap penemuan dari aliran tradisionalis, menjelma menjadi aliran skeptis baru, atau menjadi sintesis antara keduanya yang memadukan aliran skeptis dan aliran tradisionalis.
Di sisi yang lain, aliran tradisionalis tidak kemudian puas akan penemuan dan kecanggihan metode yang mereka miliki dalam menghadapi aliran skeptis. Mereka juga tidak kemudian berkesimpulan bahwa bukti empiris dan historis yang mereka kemukakan akan berakhir dan taken for granted, namun menjadi titik awal untuk mengkaji fenomena kajian hadis yang dinamis dan selalu berkembang.
Artinya, kajian hadis tidak selalu monoton terkait dengan kritik sanad dan matan yang kaku, tetapi juga terkait dengan berbagai fenomena dan tren kajian yang sedang berkembang. Terlebih dengan kemajuan ilmu alam, ilmu sosial dan teknologi, kajian hadis akan semakin banyak dan tidak terbatas hanya di teks saja, namun masuk ke dalam relung realitas masyarakat dan praktek di dalamnya seperti abstraksi hadis dan living hadis.
Pembuktian alternatif sanad melalui i‘tibar al-asanid dan gerakan tanpa isnad melalui talkhis al-hadith (abstraksi hadis) dan hadis yang hidup di dalam masyarakat (living hadith), dalam konteks ini, menjadi tawaran alternatif bagi perkembangan kajian hadis yang selama ini terbatas pada oposisi biner antara aliran tradisionalis dan skeptis.
Disarikan dari artikel Pembuktian Empiris dan Validasi Alternatif dalam Kajian Hadis Kontemporer
.png)