Oleh: Muhammad Akmaluddin
Pembuktian alternatif kedua adalah gerakan tanpa sanad melalui talkhish al-hadith (abstraksi hadis) dan hadis yang hidup di dalam masyarakat (living hadith). Gerakan tanpa sanad merupakan realitas yang terjadi di pedesaan maupun perkotaan yang tidak begitu mementingkan sanad dalam menukil atau menyebar hadis.
Mereka lebih fokus kepada matan, baik
esensinya (abstraksi rural) maupun teksnya secara literal dan kaku (abstraksi
urban). Gerakan ini bukannya menolak sanad, tetapi lebih mengesampingkan mata
rantai rawi yang sifatnya lebih teoritis daripada praksis. Namun jika dilacak
sanadnya, kedua abstraksi hadis tersebut akan ditemukan dalam kitab-kitab hadis
yang tercetak.
Abstraksi hadis rural adalah suatu peristiwa keagamaan (misalnya, peringatan maulid Rasulullah) yang berlandaskan pada beberapa tema hadis tertentu (kemuliaan Rasulullah, penghormatan kepada beliau, keutamaan lahirnya beliau) dengan mementingkan esensi hadisnya. Beberapa tema tersebut kemudian diabstraksikan atau diringkas ke dalam suatu kalimat dalam bahasa Arab yang dianggap sebagai hadis (keutamaan peringatan maulid Rasulullah).
Sedangkan
abstraksi hadis urban adalah peristiwa keagamaan tertentu (misalnya, salat
Jumat) yang berlandaskan pada beberapa hadis yang temanya umum (memberi makan,
sedekah dan lainnya) dengan mementingkan teks hadisnya. Beberapa hadis dengan
tema umum tersebut kemudian dijadikan dasar dan motivasi bagi masyarakat dalam
peristiwa keagamaan tertentu (misalnya memberikan makan, minum dan sedekah
setelah salat Jumat).
Kepentingan hadis tanpa sanad merupakan kebutuhan yang instan dan cepat bagi orang awam yang ingin mengetahui makna atau pemahaman hadis secara langsung. Mereka tidak ingin terjebak dalam ilmu dan kitab hadis yang sangat banyak, yang membutuhkan banyak waktu untuk mempelajari dan membacanya.
Sedangkan kebutuhan akan makna hadis dibutuhkan saat itu juga. Oleh karena itu,
gerakan tanpa sanad bukan berarti memutus rantai periwayatan, tetapi justru
melestarikannya melalui periwayatan hadis dengan membuang sanad sebagaimana
dilakukan oleh banyak ulama dalam karya-karya mereka.
Jika abstraksi hadis beranjak dari tekstualitas hadis (baik esensi maupun teks literal hadis) menuju kepada realitas yang ada di masyarakat, living hadis menawarkan sebaliknya. Living hadis berasal dari resepsi dan realitas masyarakat terhadap suatu hadis, yang kemudian dibawa kepada tekstualitas hadis itu sendiri.
Masyarakat tidak perlu mengetahui apakah
praktik yang dilakukan ada di dalam suatu hadis yang sahih atau tidak, atau
bahkan perdebatan status hadis tersebut. Mereka cukup mengetahui bahwa praktik
itu pada dasarnya adalah dianjurkan secara mutlak, tanpa harus kaku ada teks
yang literal di dalamnya. Misalnya tradisi tahlilan tidak ada dalam hadis
secara literal, namun bacaan di dalam tahlilan berupa membaca al-Qur’an,
tasbih, tahlil, tahmid, dan lainnya ada di dalam hadis.
Abstraksi dan living hadis menggambarkan pemahaman hadis yang dilakukan secara terus menerus, yang menjadi suatu praktek berkelanjutan dalam tingkat pemahamannya. Dalam hal ini, keduanya menjadi semacam praktek ahli Madinah (‘amal ahl Madinah) yang digunakan oleh mazhab Maliki, yang tingkatannya lebih tinggi daripada hadis ahad. Jika hadis mutawatir harus berkelanjutan dan berturut-turut lafal atau maknanya (tawatur lafdhan aw ma‘nan), maka abstraksi dan living hadis menjadi hadis yang mutawatir pemahamannya (tawatur fahman).
Pemahaman hadis dalam abstraksi dan living
hadis memang tidak menyebutkan secara jelas atau eksplisit lafal atau makna
hadisnya. Namun esensi hadis tersebut diriwayatkan oleh orang-orang sebelumnya,
baik dari kitab, pengajian, riwayat maupun lainnya, hingga kepada Rasulullah
walaupun tanpa sanad atau legalitas dalam tahammul wa ada’ seperti
ijazah dan semacamnya. Oleh karena itu, abstraksi dan living hadis
menjadi pembuktian bagi eksistensi sebuah hadis, yang muncul dari masyarakat,
yang berasal dari para ulama atau pemahaman mereka sendiri atas suatu hadis,
dan kemudian dilaksanakan dan dipraktekkan oleh masyarakat.
Keduanya merupakan fenomena teks yang dibuat ringkas dan hidup di dalam masyarakat. Baik abstraksi maupun living hadis seakan tidak mementingkan segi sanad, tapi pada kenyataannya sanad masih merupakan komponen penting di dalamnya.
Namun porsi dan kepentingan akademiknya tidak terlalu
tampak di dalam masyarakat yang awam akan hal tersebut. Keduanya menawarkan
penilaian hadis yang bertolak dari cara dan sistem berfikir masyarakat untuk
memahami hadis, bukan dari ilmu dan pengetahuan hadis yang digunakan untuk
menilai cara dan sistem berfikir mereka.
Disarikan dari artikel Pembuktian Empiris dan Validasi Alternatif dalam Kajian Hadis Kontemporer
.png)