Musannaf ‘Abd al-Razzaq al-San’ani Sebagai Sumber Hadis Asli Abad Pertama Hijriah (Bagian 4)

Daftar Isi [Tampilkan]



Diterjemahkan dari “The Muṣannaf of ʿAbd al-Razzāq al-Sanʿānī as a Source of Authentic Aḥādīth of the First Century A. H.” oleh Harald Motzki, Journal of Near Eastern Studies 50(1): 1–21

Penerjemah: Muhammad Akmaluddin

Keandalan Ibnu Jurayj dan keaslian sumber-sumbernya dapat diteliti lebih lanjut. Untuk mendemonstrasikannya, saya telah memilih sumber terbesarnya, yaitu trans misinya ­dari ‘Ata’ b. Abi Rabah. Pada awalnya, sangat mengejutkan bahwa materi ini terdiri dari teks-teks dari dua genre berbeda yang muncul dengan frekuensi yang hampir sama. Separuh teks dapat diklasifikasikan sebagai responsa, separuh lainnya sebagai dikta. Yang saya maksud dengan responsa adalah jawaban-jawaban Ata atas pertanyaan-pertanyaan Ibnu Jurayj sendiri atau orang lain, baik yang disebutkan namanya maupun yang tidak ­disebutkan namanya. Dikta diartikan sebagai pernyataan ‘Ata’ yang tidak diawali dengan pertanyaan. Kedua genre tersebut memuat pendapat (ray) Ata sendiri atau tradisi orang lain (hadits, athar).

Sejauh ini, jumlah tanggapan terbesar terdiri dari jawaban ‘Ata’ atas pertanyaan Ibnu Jurayj sendiri. Pertanyaan anonim tidak berjumlah 10 persen, dan pertanyaan dari orang lain yang disebutkan namanya sangat jarang. Responsa-nya didominasi oleh ra’y ‘Ata sendiri, sedangkan tradisi mempunyai frekuensi dalam genre ini hanya 10 persen. Di antara dicta tersebut, perbedaannya tidak terlalu mencolok; di sini proporsi ra’y terhadap tradisi adalah 70 hingga 30 persen. Membandingkan rasio dua genre utama dalam ‘Ata’, 50:50, dengan materi dari otoritas penting lainnya dari Ibnu Jurayj, sebuah hasil yang luar biasa muncul: di antara teks-teks Amr b. Dinar, proporsi responsa-nya hanya 9 persen (khusus pada pertanyaan Ibnu Jurayj); di antara Ibnu Shihab sekitar 14 persen (di sini hanya 1,5 persen jika ditanya oleh Ibn Jurayj !); dari Ibnu Tawus, 5,5 persen dilaporkan; dari ‘Abd al-Karim, 8 persen respona (semua pertanyaan Ibnu Jurayj); dan dari Abu 1-Zubayr, tidak ada satu pun responsum.

Bagaimana studi genre berkontribusi terhadap pertanyaan keaslian teks? Fakta bahwa kedua genre utama tersebut didistribusikan dalam sumber-sumber Ibnu Jurayj dengan cara yang berbeda tampaknya bertentangan dengan kemungkinan adanya proyeksi sistematis ke belakang ­pada generasi ulama sebelumnya. Jika memang demikian, kita akan mengharapkan lebih banyak keseragaman dalam cara pembuatannya. Hal yang sama berlaku untuk beragam frekuensi jenis pertanyaan di antara responsa yang disampaikan Ibnu Jurayj dari ‘Ata’. Dapatkah kita menjelaskan berbagai macam pertanyaan—pertanyaan langsung, tidak langsung, anonim, dan pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari pihak yang berwenang selain ‘Ata’ hanya sebagai perangkat stilistika yang digunakan Ibnu Jurayj berdasarkan prinsip variatio delectate?

Pola tanya jawab menyiratkan klaim keaslian yang kuat, karena pertanyaan tersebut diajukan oleh penyampai, atau murid sendiri, dan segera dijawab oleh otoritas atau guru yang bersangkutan. Dengan pertanyaannya, si penanya mempunyai andil, dalam beberapa hal, dalam jawabannya (sebagai penghasut sebenarnya). Keterusterangan penularannya sulit diungkapkan dengan lebih kuat. Rumusan seperti “sami’tuhu yaqul,” “akhbarani” atau “qala li,” yang juga menunjukkan transmisi lisan langsung (yang tidak mengecualikan penulisannya), jelas menunjukkan kurang dapat diandalkannya, belum lagi “an x qala.” Jika seseorang beranggapan, berdasarkan kekuatan dari banyaknya pertanyaan langsung Ibnu Jurayj kepada cAta ‘, bahwa ia bermaksud untuk mensimulasikan tingkat keaslian tertinggi, bagaimana dua pendahuluan berikut ini dapat dijelaskan? Ibnu Jurayj berkata: “Saya menugaskan seseorang untuk bertanya kepada ‘Ata’ tentang..., ? karena saya tidak dapat mendengarnya,” atau: “Saya mengirim seseorang ke ‘Ata’ dengan pertanyaan tentang... ?” Mengapa dia menciptakan, selain banyak pertanyaan langsung, beberapa pertanyaan anonim, pertanyaan-pertanyaan yang umumnya dianggap kurang autentik karena pertanyaan-pertanyaan tersebut mengidentifikasi pemancar hanya dalam peran pasif dan bukan aktif? Lalu mengapa Ibnu Jurayj meriwayatkan selain respona begitu banyak dikta dari Ata, dua pertiganya dengan rumus sederhana ‘an ‘Ata’ ‘qala”! Mereka yang mengusulkan teori proyeksi atau pemalsuan berdasarkan jenis transmisi ini harus mengkaji pertanyaan ini lebih jauh. Saya ­berpendapat bahwa studi tentang genre ini menentang hipotesis pemalsuan.

Selain dua kriteria keaslian formal ekstrinsik, yaitu perluasan dan genre, ada indikator lebih lanjut yang menunjukkan bahwa transmisi Ibnu Jurayj dari Ata adalah otentik. Saya menyebutnya kriteria keaslian formal intrinsik karena kriteria ini didasarkan pada penyelidikan terhadap cara Ibnu Jurayj menyajikan materi ‘Ata. Pertanyaan utamanya adalah apakah kita dapat mengenali profil khas Ibnu Jurayj yang berbeda dengan profil ‘Ata’ dan apakah ada komentar kritisnya mengenai pendapat gurunya, atau petunjuk formal lainnya yang tidak sesuai dengan anggapan Ibnu Jurayj. proyeksi belakang dan fabrikasi.

Sebagai kriteria formal intrinsik keaslian, saya mengusulkan enam jenis materi: opini hukum Ibnu Jurayj sendiri, komentarnya terhadap teks ‘Ata’, transmisi tidak langsung dari ‘Ata’, ekspresi ketidakpastian Ibnu Jurayj, adanya varian, dan pelaporan kekurangan ‘Ata.

1.   ‘Abd al-Razzaq menyampaikan dari Ibnu Jurayj tidak hanya pendapat hukum yang dianggap berasal dari otoritas sebelumnya, tetapi juga pendapatnya sendiri. Jika ada yang berpendapat bahwa Ibnu Jurayj adalah seorang pemalsu yang memproyeksikan pendapat hukumnya kembali kepada otoritas yang lebih tua dengan maksud memberi bobot lebih pada pendapat tersebut, kita harus menemukan penjelasan yang meyakinkan atas fakta bahwa ada pernyataan hukum Ibnu Jurayj sendiri yang tidak benar. dikaitkan dengan ulama sebelumnya.

2.   Bahwa hipotesis proyeksi balik tidak dapat dipertahankan adalah bukti lebih lanjut jika kita melihat komentar-komentar yang diberikan Ibnu Jurayj untuk beberapa transmisi ‘Ata’. Mereka dapat diklasifikasikan sebagai tambahan, yang menjelaskan atau menguraikan, atau oposisi. Ibnu Jurayj jelas menambahkan kedua jenis pernyataan tersebut ke dalam teksnya kemudian. Tidaklah masuk akal untuk mengatakan bahwa Ibnu Jurayj adalah orang pertama yang menciptakan teks-teks tersebut, kemudian secara keliru mengaitkannya dengan ‘Ata’, dan pada saat yang sama, atau di kemudian hari, menghiasinya dengan komentar dan kritik. Namun nampaknya tidak terlalu berlebihan untuk menganggap bahwa Ibnu Jurayj, ketika ia mendengar ajaran gurunya ketika ia masih seorang murid muda, tidak memiliki kompetensi dan rasa percaya diri untuk menyelesaikan atau mengkritiknya, suatu kompetensi yang pasti ia peroleh di kemudian hari.

3.    Dilihat dari jumlah materi yang ditransmisikan, ‘Ata’ jelas merupakan otoritas utama Ibnu Jurayj. Jika penulis Ataj seluruhnya atau sebagian fiktif, kita tidak akan berharap bahwa Ibnu Jurayj juga akan melaporkan pendapat-pendapat yang diterima secara tidak langsung, yaitu melalui orang ketiga. Meskipun demikian, tradisi-tradisi seperti itu tetap ada.

4.    Terkadang Ibnu Jurayj menunjukkan bahwa dia tidak yakin dengan kata-kata atau makna perkataan Ata. Pengakuan keraguan ini harus dilihat sebagai bukti kebenarannya dan sebagai niatnya untuk mereproduksi ajaran gurunya setepat mungkin.

5.   Upaya untuk menghubungkan secara tepat dan kata demi kata juga dapat diamati dalam kasus di mana Ibnu Jurayj mencatat varian ‘Ata’ dalam sebuah hadis yang ia dengar darinya pada waktu yang berbeda atau yang ia dengar baik darinya maupun dari informan lain. Perbedaan tersebut ­mungkin hanya sedikit, namun dapat juga disertai dengan perubahan makna yang nyata. Kasus-kasus di mana Ibnu Jurayj mempertahankan versi-versi berbeda dari subjek yang sama dari ‘Ata’ sendiri sangat sulit untuk diselaraskan dengan anggapan bahwa ia juga mengaitkan teks-teks tersebut secara salah dengan ‘Ata’. Jika memang demikian, kontradiksi-kontradiksi yang dibuatnya sendiri akan disadari oleh Ibnu Jurayj. Selain itu, ia menambahkan catatan pada beberapa pendapat hukum ‘Ata’ bahwa hal ini juga merupakan pandangan yang dianut oleh “Sahabat Nabi” tertentu atau oleh seorang khalifah. Biasanya, ia menyatakan hal ini dengan jelas sebagai catatannya sendiri, tanpa mengutip informan mana pun. Seorang pemalsu tidak akan bisa menahan godaan untuk mengklaim otoritas ‘Ata’ atas barang tersebut.

6.   pentingnya ajaran ‘Ata’ baginya, Ibnu Jurayj tidak selalu membiarkan dia tampil sebagai sarjana hukum tanpa cacat seperti yang diharapkan dari seorang pemalsu yang secara salah mengaitkan gagasannya sendiri atau tradisi yang umum didengar kepada seorang ahli ilmu pengetahuan yang hebat. masa lalu. Karena tidak memiliki istilah yang lebih baik, saya menyebutnya sebagai “petunjuk kekurangan ‘Ata’” Diantaranya adalah ketidaktahuan, ketidakpastian, perubahan pendapat, dan kontradiksi.

Semua kriteria formal ekstrinsik dan intrinsik yang disebutkan mendukung keaslian ­transmisi ‘Ata’ seperti yang dilestarikan oleh muridnya Ibnu Jurayj dan terkandung dalam Musannaf ‘Abd al-Razzaq. Materi ini tampaknya benar-benar milik ‘Ata’, yang tentunya merupakan salah satu guru terpenting Ibnu Jurayj, sebuah kesimpulan yang juga dibuktikan dalam literatur biografi. Ibnu Jurayj biasanya membedakan secara tepat antara pernyataan ‘Ata’, pernyataan ulama lain, dan pendapatnya sendiri, serta tidak segan-segan menyimpang dari ajaran gurunya. Dalam misi trans ini, kita tentunya tidak berhadapan dengan proyeksi belakang yang disengaja atau atribusi palsu. Menurut pendapat saya, karyanya dapat dianggap sebagai sumber historis yang dapat dipercaya mengenai keadaan perkembangan hukum di Mekkah pada dekade pertama abad kedua Hijriyah.

Baca juga:
Labels : #Ilmu Hadis ,#Musannaf 'Abd al-Razzaq ,#Orientalis ,#Sejarah ,#Tradisionalis ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar