Daftar Isi [Tampilkan]
Oleh: Muhammad Anshori
Staf Pengajar Ilmu Hadis
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Ketika Nabi Muhammad pergi hijrah ke Madinah, beliau bersembunyi gua Tsur bersama Abū Bakar. Sahabat yang setia ini merasa khawatir dan sedih karena kaum kafir Quraisy terus mengejar dan hampir mengetahui tempat persembunyian mereka. Nabi saw. kemudian menghibur sahabat beliau dengan mengatakan; “lā taḥzan innallāha ma’anā” (jangan bersedih karena Allah bersama kita). Nampaknya dari ungkapan Nabi saw. tersebut yang diceritakan oleh Allah dalam Al-Qur’an, Dr. ‘Āid al-Qarnī terinspirasi menulis buku berjudul Lā Taḥzan. Buku ini menjadi “Best Seller” karena sangat laris dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Hidup ini sangat singkat sehingga kita tidak perlu bersedih terhadap hal-hal yang tidak bisa kita lakukan dan tidak bisa kita raih. Apapun yang terjadi di dunia ini pada hakikat telah ditentukan oleh Allah. Jangan bersedih terhadap apa yang telah terjadi, selalu optimis dalam menatap masa depan. Saya kira hadis di bawah ini penting untuk diperhatikan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.
“Dari Abū Hurairah dia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; seandainya saya telah berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu. Tetapi katakanlah; lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membuka jalan bagi godaan setan”. (Ṣaḥīḥ Muslim, no. 4816. Sunan Ibn Mājah, no. 76 dan 4158. Musnad Aḥmad, no. 8436 dan 8473).
Jika diperhatikan dengan saksama, semua yang terjadi pada diri kita sebenarnya telah ditentukan oleh Allah. Apa yang telah Allah tentukan untuk kita pasti kita dapatkan, dan apa yang tidak ditentukan pasti kita tidak akan mendapatkannya. Seseorang tidak bisa mencelakakan dan memberi manfaat kepada kita, kecuali jika telah ditentukan oleh Allah. Ini termasuk bagian dari keimanan, meskipun demikian kita wajib tetap berusaha. Fokuslah beribadah kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan kita, terus meminta pertolongan Allah dengan hanya berharap kepada-Nya. Dalam sebuah hadis disebutkan:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.
“Dari Ibnu ‘Abbās berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah saw. pada suatu hari, beliau bersabda: Hai nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya di hadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering (maksudnya takdir telah ditetapkan)”. (Sunan al-Tirmiżī, no. 2440).
Dalam menjalani kehidupan ini, kita harus santai, tenang, sabar dan tabah dalam menghadapi segala rintangan. Semua terjadi atas kehendak Allah, untuk apa kita bersedih memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Jika kita menghadapi kesulitan sehingga kita merasa sedih dan banyak beban, maka mengadulah kepada Allah, bukan kepada manusia. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللَّهِ فَيُوشِكُ اللَّهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ.
“Dari ‘Abdullāh bin Mas’ūd berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa tertimpa kesusahan lalu mengeluh/mengadu kepada manusia maka kesusahannya tidak akan tertutupi dan barangsiapa tertimpa kesusahan lalu mengeluh/mengadu kepada Allah, hampir saja Allah memberinya rizki, cepat atau lambat”. (Sunan At-Tirmiżī, no. 2248). Riwayat lain menyebutkan:
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.
“Dari Ibnu Mas’ūd, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu menampakkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak hilang, dan barangsiapa yang menampakkannya kepada Allah, maka Allah akan mempercepat kekayaan baginya, baik dengan kematian yang segera atau dengan kekayaan yang cepat”. (Sunan Abū Dāwud, no. 1402).
Semua masalah yang kita miliki sebisa mungkin tidak dinampakkan atau diceritakan kepada manusia, kecuali orang yang terpercaya untuk diminta nasehat atau solusi. Bagaimanapun juga, Allah merupakan orang yang paling tepat untuk meminta dan melaporkan semua persoalan hidup. Salah satu cara mengeluh kepada Allah adalah dengan berdoa. Jika kita ditimpa kesusahan, kemelaratan, kita dianjurkan untuk banyak membaca doa di bawah ini:
أَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.
“Ya Allah, ya Tuhanku, aku mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri (janganlah Engkau berpaling dariku) sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tidak ada Tuhan selain Engkau)”. (Sunan Abū Dāwud, no. 4426. Musnad Aḥmad, no. 19535).
يَاحَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَ لَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.
“Ya Allah, Tuhan yang Maha Hidup, yang terus menerus Mengurusi makhlukNya, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan, perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau menyerahkan (urusan)ku kepada diriku sekejap matapun”.
Doa ini diajarkan oleh Nabi saw. kepada Fāṭimah, putri beliau, supaya dibaca di waktu pagi dan sore, kemudian diriwayatkan oleh Anas bin Mālik. Lihat al-Ḥākim, al-Mustadrak ‘alā al-Ṣaḥīḥain, no. 2000. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, tetap berprasangka baik kepada Allah ataupun antar sesama. Semua yang terjadi pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik untuk menjalani kehidupan ini. Intinya tetap semangat, sehat, dan bahagia selalu. Semua pasti akan berlalu dan berakhir.
Baca juga:
Labels :
#Opini ,
Menunggu informasi...
.jpg)