Genre Hadis dalam Pandangan Roberto Tottoli

Daftar Isi [Tampilkan]
Oleh: Feby Amelza Putra
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga


Hadis menempati urutan kedua setelah Al-Quran. Keberlangsungan hadis tidak hanya menjadi sumber penentu hukum Islam, namun juga menjadi rujukan berharga dalam memahami Al-Qur’an. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika hadis ini banyak digemari masyarakat. Berbeda halnya bagi mukmin yang tidak mengimaninya sebagai pedoman hidup, apalagi bagi yang tidak mengimani hendaknya berhati-hati dalam melakukan penelitian atau penelitian terhadap hadis. Para ulama mengklasifikasikan peran dan kedudukan hadis dalam agama Islam sesuai dengan tindakan Nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an (Reinhart, 2010).

Diskursus Islam tidak pernah habis untuk diteliti dan khazanah Islam yang melimpah menjadi fokus para sarjana dan kelompok kepentingan Barat. Diantaranya muncul orientalisme, kajian tentang Timur oleh para sarjana Barat, yang wacananya kemudian banyak berkaitan dengan Islam. Dengan visi dan misi yang berbeda, mereka merambah dunia Timur, yaitu Islam. Ada orientalis obyektif yang tujuannya hanya kemajuan intelektual saja, dan itu cukup memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Di sisi lain, ada pula orientalis subjektif yang tujuannya telah terkontaminasi oleh kepentingan selain sains dan secara aktif mengejek isi Islam (Yaqin, 2023).

Pertanyaan kritis tentang keaslian sabda Nabi dalam kaitannya dengan pelestariannya memunculkan berbagai perpustakaan buku yang ditulis pertama kali dalam bahasa Arab dan juga dalam bahasa lain. Tujuannya adalah untuk melestarikan dan memberikan sumber referensi lain bagi umat Islam setelah Al-Qur’an. Namun, pentingnya Hadis dan pengenalannya juga mendorong penyebaran di luar genre sastra Arab yang berisi kutipan dari hadis. Meskipun begitu, tidak mudah menelusuri jejak hadis melalui literatur-literatur yang dihasilkan umat Islam. Roberto Tottoli mencari beberapa kutipan hadis yang dikutip dalam berbagai literatur Islam yakni tafsir, historiografi, dan yuridis (Tottoli, 2020).

Biografi Roberto Tottoli

Roberto Tottoli adalah seorang ahli bahasa Arab dan cendekiawan terkemuka dalam sejarah Islam dan seorang ahli dalam tradisi manuskrip Al-Qur’an Arab serta dalam sejarah terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Latin dan bahasa daerah di Eropa. Sejak tahun 2002, ia telah mengajar Studi Islam dan sastra Arab Islam di Departemen Afrika dan Asia Mediterania di Universitas Napoli L’Orientale. Minat penelitiannya berfokus pada tradisi dan sastra Muslim. Studi awalnya dan gelar doktornya berkaitan dengan kisah-kisah para nabi dalam Alquran dan literatur Islam, terutama pada abad-abad awal Islam. Ia kemudian memperluas minatnya pada literatur hadis, tafsir Alquran, dan literatur kontemporer Muslim. Dalam beberapa tahun terakhir, minat Profesor Tottoli berfokus pada isu-isu seputar kritik tekstual dalam kaitannya dengan teks-teks Arab, genre sastra Islam, dan Islam kontemporer. Profesor Roberto Tottoli adalah kontributor tetap untuk Ensiklopedi Islam dan menulis sebagai komentator tentang isu-isu yang berkaitan dengan Islam dan dunia Islam di Corriere della sera. Publikasi-publikasinya termasuk ‘Biblical Prophets in the Qur'an and Muslim literature’ dan ‘The Stories of the Prophets of Ibn Mutarrif al-Tarafi.’

Genre Hadis

Wacana mengenai makna hadis terus berkembang baik di kalangan umat Islam sendiri maupun di kalangan pemikir orientalis Barat, yang masing-masing berargumentasi dengan menggunakan model dan metode yang berbeda-beda. Salah satunya Roberto Tottoli yang mengkritik cara mengutip hadis nabi di berbagai literatur Islam. Genre yang dimaksud Tottoli adalah bagian-bagian literatur Islam yang kemudian dilihat dari bagaimana cara mengutip hadisnya. Ada 4 literatur Islam yang dibahas Tottoli dalam artikelnya yang berjudul “Genres” sebagai berikut:

Tafsir

Genre yang paling tinggi yakni Tafsir Al-Qur’an, sedangkan hubungan Al-Qur’an dan hadis merupakan topik yang sangat penting dalam kajian keislaman. Menurut Tottoli bahwa mengomentari Al-Qur’an adalah kegiatan awal, meskipun ada beberapa penentangan, namun seiring berjalannya waktu, umat Islam mulai memproduksi karya tafsir yakni tafsir ensiklopedis. Mengumpulkan tafsir dan hadis atau jenis penafsiran yang lainnya dan juga menyertakan referensi tentang apa yang dikatakan Nabi. Dalam hal ini penggunaan hadis dalam menjelaskan Al-Qur’an dan sebagai konsekuensi mengutipnya dalam tafsir tidak dapat diterima begitu saja. Sejarah Islam telah beberapa kali melihat ketegangan yang terjadi antara otoritas kata Al-Qur’an di satu sisi dan otoritas sabda nabi di sisi lain. Ketegangan ini mendorong solusi yang berbeda dikarenakan genre hadis dan tafsir Al-Qur’an memiliki perhatian yang berbeda. Tafsir pertama yang ditulis oleh Muqatil bin Sulaiman adalah tafsir al-Kabir. Dalam tafsirnya, Muqatil ini menyebutkan kata-kata nabi tidak menggunakan kata hadis tapi lebih menyebutkannya dengan khabar. Adapun karya yang lainnya yakni tafsir Al-Qurtubi, yang menunjukkan sifat enskilopedis, memilih untuk menyertakan dan mendiskusikan hadis-hadis yang kontroversial, sembari melihat keraguan akan reliabilitas materi hadis yang dalam mengutip hadis dan sumbernya dan biasanya hanya perawinya saja. Yang menjadi kritik Tottoli di sini ialah ada yang mengutip hadis isinya saja, yang berargumen bahwa hadis nabi itu kan sudah dinyatakan shahih oleh ulama sebelumnya. Dan dengan demikian bahwa sebuah genre dimana perkataan Nabi dikutip dan digunakan untuk menguatkan diskusi-diskusi tafsir.

Historiografi

Dalam historiografi Islam, penggunaan dan pengutipan hadis sangat relevan dengan dua sub-genre, yaitu kehidupan Nabi Muhammad SAW dan konstruksi sastra biografi yang merupakan garis besar dari sejarah keislaman. Tradisi historiografi dan annalistik di dunia Islam sangat terkait dengan produksi sastra genre lain. Historiografi biasanya tidak menjadi perhatian utama para pengarang, yang bisa jadi juga merupakan penghasil karya-karya khusus tentang hadis. Gaya sastra dan topik-topik khusus yang dibahas dalam biografi Muhammad sangat erat berkaitan dengan kepemimpinan politik dan bahkan militernya, dan dalam topik-topik ini kesempatan untuk mengutip kata-kata yang dinisbatkan kepadanya dalam literatur hadis yang lebih baru tidak jarang terjadi. Literatur-literatur historiografi di kemudian hari tidak terkait erat dengan disiplin ilmu hadis dan jika kata-kata Nabi diperlukan, tidak ada jalan sistematis untuk hadis dan tidak ada cara untuk mengelolahnya. Al-Thabari yang menyebutkan perkataan Nabi atau hadis dan mengutipnya dengan istilah umum yakni laporan atau narasi, tetapi tidak sering dan kebanyakan kaitannya dengan hadis-hadis Ibnu Ishaq atau pengarang-pengarang awal lainnya. Contohnya ketika ia menyebutkan hadits al-ifk yang ia maksudkan adalah kisah fitnah ‘A’isyah dan bukannya perkataan Nabi yang “kanonik” mengenai kejadian ini, meskipun ia juga mengutipnya dengan referensi yang lainnya.


Yuridis

Pembahasan yuridis ini memiliki signifikansi religius, karena literatur yuridis juga membahas kewajiban-kewajiban ritual dan topik-topik lain yang berkaitan dengan agama. Oleh karna itu, karya-karya tentang hukum dari masa awal Islam berkaitan dengan isi Al-Qur’an, perilaku Nabi dan para sahabatnya serta praktik hukum yang dibuktikan dalam masyarakatnya. Tokoh utama dalam literatur yuridis ini ialah al-Syafi’i, yang berteori tentang sentralitas sunnah Nabi sebagaimana ditunjukan oleh hadis shahih dalam wacana hukum. Karya-karya fikih yang muncul kemudian menggunakan dan mengutip hadis biasanya menunjukkan sikap yang sama dengan sastra genre lainnya. Sebagai contohnya kitab al-Mabsuth karya as-Sarakhsi, sebuah buku yang sering merujuk kepada perkataan Nabi Muhammad, yang dikutip dan diletakkan dalam karyanya dalam bentuk yang standar pada umumnya, yakni dengan menyebutkan perawi pertamanya saja.

Dengan berbagai genre sastra hadis ini membuat kita tau bahwa di beberapa literatur hadis yang mengutip hadis ada yang menggunakan perawinya saja, ada yang memasukkan isi matannya saja, ada juga sanad lengkap yang dimasukkan ke dalam karya-karyanya. Yang menitikberatkan Tottoli dalam mengkritik literatur Islam bahwa ada karya al-Ghazali, yakni kitab Ihya Ulumuddin yang memasuki hadis yang dinyatakan dhaif untuk memperkuat argumen dalam karyanya.

Referensi

Reinhart, A.K., 2010. Juynbolliana, Gradualism, The Big Bang, and Ḥadīth Study in The Twenty-First Century.

Tottoli, R., 2020. Genres, in: Brown, D.W. (Ed.), The Wiley Blackwell Concise Companion to the Hadith. Wiley, pp. 187–202. https://doi.org/10.1002/9781118638477.ch9

Yaqin, A.A., 2023. Dualisme Pemikiran Orientalis Terhadap Sanad. Holistic al-Hadis 9, 20–40.

Baca juga:
Labels : #Mahasiswa ,#Opini ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar