Hadis dalam Genre Literatur Islam

Daftar Isi [Tampilkan]
Oleh: Yenanda Putri Zanuba
Mahasiswa Pascasarjana FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Pendahuluan

Hadis adalah salah satu landasan keimanan umat Islam. Hadis mempengaruhi kehidupan umat Islam dan bahkan bahasa yang digunakan umat Islam di seluruh dunia. “Hadits” dalam bahasa Arab berarti berita atau cerita. Kata ini muncul pada abad pertama sebagai salah satu istilah yang digunakan untuk menunjuk ucapan Muhammad. Pada generasi pertama, konsep hadis dan hubungannya dengan Sunnah Nabi masih dalam tahap perkembangan. Literatur awal membuktikan bahwa hadis bukanlah satu-satunya istilah yang digunakan untuk kata-kata Nabi, dan di hampir semua teks, kata-kata Nabi diperkenalkan dengan istilah seperti khabar (Tottoli, 2015).

Kajian hadis terus berkembang bahkan di zaman modern ini. Faktanya, kritik tidak hanya disuarakan oleh para muhaddis dan ulama, tetapi juga oleh para orientalis (Barat). Terdapat bukti bahwa sejumlah ulama hadis bermunculan di kalangan umat Islam yang berupaya mengembangkan dan mengkritisi gagasan tentang hadis, seperti Muhammad al-Ghazali, Muhammad Yusuf al-Qaradawi, dan Fazlur Rahman. Kemudian di kalangan non-muslim seperti Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht. Hal ini menjadi bukti bahwa kajian pemikiran hadis semakin populer di kalangan muslim dan non-Muslim dan senantiasa dikaji.

Kajian hadis mencakup berbagai genre literatur hadiss seperti maghazi, sirah nabawiyyah, muwaththa’, musnad, jami’, sunan, mu’jam, dll, dan rijal al-hadis, di samping kayanya literatur yang berkaitan dengan ‘ulum al-hadits.

Karya-karya hadis begitu penting sehingga membentuk sekumpulan genre literatur yang menjadi bagian penting dari karya literatur Islam (Tottoli, Genres, 2020). Makna dan pentingnya hadis juga memfasilitasi penyebaran kisah-kisah tradisional di luar genre literatur hadis. Dalam hal ini penting untuk membahas bagaimana sabda Nabi Muhammad SAW muncul dalam literatur Islam dan bagaimana kutipan tersebut berinteraksi dan berfungsi. Hal ini karena literatur Islam menyajikan banyak cara lain dalam mengutip dan menyajikan hadis dan sabda Nabi.

Sejak Abad Pertengahan hingga saat ini, berbagai kecenderungan muncul dalam kata pengantar dan kutipan sabda para Nabi. Dalam karya-karya abad pertengahan, hadis dikutip dan digunakan dalam berbagai cara, dan kutipan serta sindiran ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa hadis terus menjadi aspek mendasar dari literatur yang dihasilkan dalam Islam. Oleh karena itu, penulis ingin membahas bagaimana kata hadis digunakan dan dikutip dalam literatur Islam dan bagaimana literatur Islam dikaitkan dengan hadis dan sabda Nabi.

Pembahasan

1.    Literatur Tafsir

Tafsir adalah ilmu untuk mengetahui penjelasan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Di antara genre sastra Islam, tafsir Al-Qur’an adalah salah satu yang paling penting. Tafsir Al-Qur’an mewakili genre di mana kata-kata Nabi dikutip dan digunakan untuk memperkuat argumen penafsiran, karena memberikan bukti yang baik mengenai penggunaan kata-kata Nabi Muhammad. Dalam literatur tafsir, referensi hadis mencirikan ucapan- ucapan penting Muhammad, seperti kata-kata tentang syafaat di hari kiamat (hadits al-syafa’ah) dan hadis tentang Kenaikan (hadits al-mi’rāj) (Salam, 2004).

Namun terlepas dari itu, terdapat perbedaan sikap para penafsir terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hadis. Ada yang hanya mempertimbangkan isinya saja, ada pula yang mempertimbangkan keseluruhan hadis, termasuk perawi yang menjamin kebenarannya.

2.    Literatur Historiografi

Historiografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara menggambarkan sejarah, termasuk asal usul, sejarah, dan pengetahuan tentang peristiwa masa lalu. Dalam historiografi Islam, penggunaan dan pengutipan hadis terkait dengan dua subgenre: konstruksi kehidupan dan literatur biografi Muhammad serta gambaran sejarah periode Islam. Pada keduanya, kata-kata yang berhubungan dengan Nabi relatif jarang dan sering digunakan dalam konteks cerita yang muncul dalam teks sejarah. Jika membahas tentang biografi Nabi Muhammad SAW dan teks-teks sirah tidak memiliki banyak kesamaan dengan diskusi hadis tradisional, dan kata-kata yang umum dalam kumpulan Hadis dan karya Sirah jarang diteliti. Seperti yang ditunjukkan oleh Görke, Maghazi (“Pertempuran Muhammad”) dan sirah, dan hadiss di sisi lain, muncul sebagai genre literatur yang berbeda dengan kepentingan yang berbeda dan oleh karena itu mungkin tidak menggunakan referensi atau sumber yang sama (Gorke, 2011). Hal ini terlihat pada karya-karya yang menggambarkan kehidupan Muhammad dan peperangannya, yang hanya memuat sedikit sabda Nabi.

3.    Literatur Yuridis

Yuridis adalah suatu peraturan yang dianggap sah atau yang keabsahannya dibenarkan menurut hukum, apapun bentuk peraturan, adat istiadat, etika, atau bahkan moralitas yang menjadi dasar penilaiannya. Dalam literatur yuridis, penggunaan hadis bersifat konstan dan penting. Namun, kekhawatirannya berbeda-beda tergantung pada posisi ulama dan mazhab, dan meskipun hadis memainkan peran penting dalam pembentukan hukum Islam, peran hadis tidaklah tetap. Misalnya, Hanbalī dan Dhāhirī menganggap hadis sangat penting karena sikap mereka yang ketat terhadap teks dan kata-kata. Alhasil, karya sastra mereka lebih fokus pada apa yang dikatakan dan dibuktikan hadis tentang tindakan dan pendapat Nabi. Misalnya, Ibnu Qudāmah dalam bukunya al-Mughnī bertujuan untuk mengumpulkan hadis paling terpercaya yang mendukung aliran Hanbalī (Brown, 2009).

4.    Literatur Teologis

Teologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang ketuhanan atau illahi. Seperti ‘ilm al-kalam, yaitu pengetahuan tentang Tuhan dan sifat-Nya serta tentang Nabi dan landasan keyakinan yang dibawanya. Oleh karena itu, para teolog menganggapnya sebagai ilmu yang agung. Sebagaimana ditegaskan al-Ghazali, ada hubungan dekat antara kalam dan hadis, namun, para teolog dan ulama hadis berbeda pendapat dalam isu-isu agama dan berulang kali mempertanyakan legitimasi satu sama lain. Misalnya, kebenaran para nabi dan perkataan mereka ditentukan oleh para teolog. Sebaliknya, para ahli hadis hanya tertarik pada keandalan dan penyampaian kata-kata Nabi, bukan makna atau kebenarannya (Al-Ghazali, 1993). Dalam literatur teologis, hadis jarang dikutip karena tidak menjadi rujukan penting dalam perdebatan teologis paling awal (Ess, 1975). Namun, pada abad kesembilan, perkataan Nabi tersebut tampak dibuktikan dengan baik. Sehingga relevansi hadis dalam karya-karya teologis, dan fakta bahwa hadis menjadi rujukan utama dalam perdebatan teologis.

5.    Literatur Sufi

Sufi adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang dikenal sebagai ahli tasawuf atau sufisme. Kaum Sufi banyak mengutip hadis untuk mendukung pernyataan mereka (Palmer, 2020). Literatur Sufi diketahui sebagai literatur yang berkaitan dengan mistik karena bagi kaum sufi, keteladanan Nabi dianggap sebagai sumber kepekaan dan pendekatan mistik. Dalam literatur sufi, hadis hadir dan dikutip, di mana ucapan-ucapan tertentu diutamakan dan memiliki arti khusus, dengan tujuan untuk menguatkan keyakinan atau penafsiran tertentu. Namun mengenai perawi dan keasliannya tidak terlalu penting.

Kesimpulan

Demikian gambaran singkat mengenai hadis dalam beberapa genre literatur Islam. Genre seperti tafsir Al-Qur’an, literatur teologis dan terkait, serta karya sejarah pada tingkat yang berbeda-beda dikaitkan dengan Islam awal. Literatur sufi dan literatur yuridis atau hukum selalu berdialog dengan literatur hadis dan sabda Muhammad. Segala jenis karya yang termasuk dalam genre ini mengandalkan versi lengkap atau tidak lengkap untuk menggunakan dan mengutip sabda Nabi atau mengungkapkan sabda Muhammad sebagaimana tercatat dalam literatur hadis. Terdapat perbedaan dalam cara pengutipannya, karena sifat dan isi kutipan berkaitan dengan hadis atau genre atau karya yang dijadikan acuan, sehingga metode pengutipannya dipengaruhi oleh pentingnya genre dan karya yang berbeda.

Referensi:

Al-Ghazali, A. H. (1993). Mustasfa min 'ilm al-Usul. Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmaniyyah.

Brown, J. A. (2009). Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World. Oxford: Oneworld.

Ess, J. V. (1975). The Beginnings of Islamic Theology. Leiden: Brill.

Gorke, A. (2011). The Relationship between Maghazi and Hadith in Early Islamic Scholarship. Bulletin of the School of Oriental and African Studies.

Palmer, A. (2020). Sufism. In D. W. Brown, The Wiley Blackwell Concise Companion tu the Hadith. John Wiley & Sons Ltd.

Salam, Y. I. (2004). Tafsir Yahya Ibn Salam . Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmaniyyah.

Tottoli, R. (2015). “Gautier H.A. Juynboll, Ḥadıth̄ and Ḥadıth̄ ‐related Technical Terminology: Khabar in Western Studies and early Muslim Literature.” . Leiden: Brill.

Tottoli, R. (2020). Genres. In D. W. Brown, The Wiley Blackwell Concise Companion to the Hadith. John Wiley & Sons Ltd.

Baca juga:
Labels : #Mahasiswa ,#Opini ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar