Metode Pembelajaran Hadis di Perguruan Tinggi Islam

Daftar Isi [Tampilkan]
Oleh: Affandi Yakup Gumelar Mahulae Nainggolan
Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Studi hadis merupakan bagian dari kajian Islamic Studies atau studi Islam. Studi Islam telah mengalami berbagai perkembangan di berbagai negara, tidak terkecuali pada negara Indonesia. Studi keislaman banyak dilakukan diberbagai perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) yang ada di indonesia seperti UIN/IAIN/STAIN, dan juga diberbagai perguruan tinggi swasta maupun Ma'had Aly.[1] Oleh karena itu, studi hadis senantiasa berkembang seiring dengan perjalanan waktu.

Sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur'an, hadis memiliki posisi yang sangat penting dalam pembelajaran keislaman. Oleh karena itu, mempelajari hadis dan mempelajari studi tentang keilmuan hadis sangat penting. Hal ini dilakukan sebagai upaya dalam mengkaji dan menelusuri berbagai hadis, yang dapat dijadikan dalil dalam menyelesaikan berbagai masalah persoalan dalam kehidupan umat manusia. Dalam pembelajarannya, studi hadis secara garis besarnya dibagi menjadi dua; yaitu studi hadis riwayah dan dirayah. Kedua disiplin keilmuan hadis tersebut tidak hanya menjelaskan bagaimana seseorang berhadapan dengan hadis Nabi yang digunakan sebagai teks, namun juga bagaimana menyikapi otentisitas hadis tersebut secara kritis dan ilmiah sehingga kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan.[2]

Penelitian hadis dalam berbagai cakupannya mengalami perkembangan yang signifikan di Indonesia. Tinjauan perkembangan di bidang hadis mencakup studi hadis, ilmu hadis, pemikiran hadis, pemahaman hadis, literatur hadis, studi tokoh hadis dan organisasi masyarakat Islam, dan kajian hadis kesarjanaan Barat. Tinjauan berkenaan dengan perkembangan metode penelitian hadis meliputi metode pemahaman hadis, kritik matan hadis, metode syarah, living hadis, dan metodologi studi hadis kontemporer.[3]

Pembelaan hadis di berbagai perguruan tinggi telah mengalami perkembangan yang mengarah kepada kemajuan yang baik. Perkembangan studi hadis di dalam perguruan tinggi terlihat dari semakin banyak minatnya akan jurusan Ilmu Hadis pada beberapa perguruan tinggi berbasis Islam. Di samping itu, terdapat banyak karya-karya mahasiswa seputar hadis mulai dari karya tulis, jurnal, skripsi, tesis, dan bahkan disertasi karya para akademisi dari berbagai perguruan tinggi.

Studi hadis di PTKI memiliki pola, ragam dan karakteristik sesuai dengan kekhasan masing-masing. Berbagai jenis dan bentuk mata kuliah yang ditawarkan dalam studi hadis menandakan adanya dinamika yang berkesinambungan. Studi hadis tidak identik dengan ilmu hadis atau hadis, akan tetapi studi ini sudah mengikuti arus perkembangan dan tuntutan zaman dimana arus teknologi yang menghasilkan adanya transformasi ilmu pengetahuan ke berbagai belahan dunia menyebabkan pemahaman yang segar terhadap kajian hadis.[4]

Tidak seperti kajian hadis pada umumnya yang diajarkan di bangku-bangku pendidikan, kita mengetahui bahwa umumnya pengajaran hadis di beberapa lembaga pendidikan di Indonesia hanya berorientasi terhadap teks. Para pelajar hanya diperintahkan untuk menghafal matan hadis saja. Secara umum, model-model kajian hadis akademik di PTKI pada penelitian hadis dapat diklasifikasikan dalam 5 kategori, yaitu penelitian tentang musthalah al-hadits, naqd al-hadits, fiqh al-hadits, kajian kitab hadis dan pemikiran/tokoh hadis.[5] Studi hadis di PTKI memiliki ragam antara lain ‘ulum al-hadits, yang memiliki basis pola analisis yang ada di dalam hadis, yakni sanad, matan, rawi. Keilmuan seputar hal tersebut dikaji secara mendalam dalam bingkai ‘ulum al-hadis, ilm jarh wa ta'dil. ilm gharib al-hadits, ilm musykil al-hadits dan sebagainya.[6]

Selanjutnya dalam metode penelitiannya, ranah yang dikaji dalam studi hadis adalah kitab-kitab hadis mulai dari karangan ulama mutaqaddimin maupun muta’akhirin dan juga karya sarjana Barat. Selain itu, ada juga kajian hadis Nabi Muhammad SAW melalui sanad dan matannya, dengan menggunakan metode takhrij al-hadits, yang bisa mempermudah meneliti keotentikan hadis sampai ke akar-akarnya. Kemudian syarh al-hadits juga dikembangkan dalam pembelajarannya seperti syarah hadis akidah, akhlak, sosial, hukum, politik dan ilmu alam atau sains. Kajian ini juga dimekarkan ke arah non-teks dengan living hadis sebagaimana ditemukan di beberapa PTKI.[7]

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam perkembangan studi Islam, ilmu hadis sudah mengalami kemajuan dalam pembelajarannya, terutama di dalam pengajaran di PTKI. Metode pembelajaran dalam studi hadis di perguruan tinggi memiliki perbedaan dengan berbagai lembaga pendidikan yang ada di Indonesia seperti di bangku sekolah maupun pondok pesantren. Di dua lembaga tersebut, studi hadis umumnya di pelajari hanya berorientasi dalam teks matan, serta menghafal hadis Nabi saja. Model kajian studi hadis di PTKI lebih menjurus ke dalam karna mempelajari seluk beluk hadis itu sendiri, seperti tentang musthalah al-hadits, naqd al-hadits, fiqh al-hadits, juga meneliti keotentikan hadis dengan ‘ilm jarh wa ta’dil, ‘ilm gharib al-hadits, dan ilm musykil al-hadits. Diharapkan kajian tersebut bisa menjaga warisan Nabi, terutama dalam menjaga sunah Nabi. Pasalnya, di era sekarang, banyak bermunculan hadis-hadis palsu yang kurang jelas keotentikannya  yang bisa menjerumuskan umat Islam.



[1] Abu Nawas Zuhri M, Dkk. Pengembangan Mata Kuliah Hadis Tarbawi pada Perguruan Tinggi Islam, Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol 16 No 2, (2020) hal. 163

[2] H.Idri dkk, Studi Hadis, (Surabaya, UIN Sunan Ampel Press) 2021.

[3] Darmalaksana Wahyudin dan Busro, Rencana Implementasi Penelitian Hadis pada PTKI di Indonesia: Sebuah Analisis Kebijakan, Syaikhuna: Jurnal pendidikan dan Pranata Islam STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan Vol.11 No.2 (2020) hal.262

[4] Ardiansyah. NZ, Pola Kajian Akademik di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia (Study Skripsi Mahasiswa Tafsir Hadis UIN Raden Fatah Palembang, UIN Syarif Kasim Pekanbaru dan UIN Imam Bonjol Padang, International Conference on Tradition and Religious Studies, Vol.1 No.1 (2022) hal.343

[5] Ardiansyah. NZ ……. ……Hal.348

[6] M Alfatih Suryadilaga, Ragam Studi Hadis di PTKIN Indonesia dan Karakteritiknya: Studi Atas Kurikulum IAIN Bukittinggi, IAIN Batusangkar, UIN Sunan Kalijaga, dan IAIN Jember, Journal of Qur'an and Hadith Sudies, Vol.4 No.2 (2015) hal.224

[7] M Alfatih Suryadilaga . . . . . . . . .hal. 224

Baca juga:
Labels : #Mahasiswa ,#Opini ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar