Perkembangan Literatur Hadis di Indonesia

Daftar Isi [Tampilkan]
Oleh: Ade Rahmat Ritonga
Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam



Tradisi Penulisan Hadis di Kalangan Ulama Indonesia

Hadis adalah semua ucapan, perbuatan dan taqrir yang dikukuhkan kepada Rasulullah saw. Hadis sebagai sumber hukum Islam yang ke dua setelah Al-Qur’an. Tradisi penulisan risalah hadis di kalangan ulama Indonesia adalah titik kosong seperti yang telah diasumsikan selama ini. Wacana mengenai hadis di Indonesia masih relatif sedikit diketahui oleh para ulama yang ada pada masa itu. Hal ini berbeda dengan kajian tasawuf dan fiqih. Salah satu penelitian menjelaskan bahwa transmisi hadis di Indonesia baru dimulai pada abad ke 20 melalui Syaikh Mahfudh al-Tarmasi (W. 1919H/1920M). Ini adalah pernyataan yang keliru. Sebelum abad ke-20 sudah ada beberapa risalah hadis ulama-ulama yang telah menuliskan karya-karyanya di bidang hadis, seperti Nur al-Din al-Raniri, ‘Abd al-Ra’uf ibn ‘Ali al-Jawi al-Fansuri dan Nawawi al-Bantani.

Masih banyak lagi ulama yang telah menorehkan karyanya dalam penulisan risalah hadis. Seperti yang kita ketahui, produksi teks-teks Islam berkembang dengan menakjubkan dan sistematis. Oleh karena itu, tidak heran bahwa dunia Islam banyak mewariskan karya keilmuan yang menyesuaikan dengan kebutuhan zamannya. Akan tetapi kenyataannya bahwa kajian hadis tidak sekuat kajian keislaman lainnya, seperti al-Qur’an, fiqh, tasawuf dan lainnya. Kajian hadis di Indonesia berjalan dengan sangat lambat. Upaya penelusuran hadis di Indonesia bisa dikatakan belum dilakukan secara sistematis dan belum memadai.

Tulisan-tulisan ulama Indonesia tidak dikembangkan lebih jauh karena melihat kondisi dan kebutuhan ummat waktu itu. Oleh karena itu kajian hadis mengalami kemandekan yang lama hampir satu setengah abad lamanya. Perhatian pengamat dari kajian hadis di Indonesia masih sangat kurang, walaupun ada peneliti yang menaruh perhatiannya terhadap kajian perkembangan kajian hadis, maka perhatiannya masih parsial dan tidak komprehensif.

Kitab Hadis Pelopor di Indonesia

Beberapa kitab pelopor yang mendasari risalah karya-karya hadis di Indonesia, antara lain Hidayat al-Habib Fi al Targhib Wa al-Tarhib (Haluan akan Nabi SAW Menyatakan Mennggemari Segala Kebajikan Dan Menjauhi Daripada Segala Amal Kejahatan), Kitab hadis ini ditulis oleh Nur al-Din Muhammad bin ‘Ali bin Ibnu Hasanji al-Hamid al-Syafi’i al-Asy’ari al-Aidrusi al-Raniri. Hanya satu naskah dari kitab Hidayat al-Habib yang telah ditemukan, dan disimpan dalam koleksi PNM dengan rak (MS 1042). Kitab ini dianggap sebagai kitab hadis pertama dan dimuat dalam bahasa Melayu. Edisi ini ditulis pada tanggal 6 Syawal 1045 H/14 Maret 1636 M. Kitab ini berisikan 831 hadis yang diambil dari berbagai sumber hadis seperti Shahih al-Bukhari, Muslim dan lainnya. Kitab ini masih belum banyak dikaji karena terbatasnya akses terhadap sumber naskah primer.

Ada juga kitab al-Mawa’idh al-Badiah yang ditulis oleh ‘Abdul al-Ra’uf al-Fansuri. Kitab ini lebih condong kepada uraian mengenai pengajaran moral dengan berpegangan pada ilmu tasawuf. Kitab ini mungkin lebih dianggap sebagai kitab tentang etika/akhlak, karena mengandung nasehat agama yang membicarakan tentang peringatan-peringatan yang indah buat seorang Muslim.

Ada juga Nawawi al-Bantani, ulama dari Banten, yang mempunyai banyak karya dalam berbagai bidang. Beliau menulis dua kitab hadis yang berjudul Tanqih al-Qaul Hatsis (Pemeriksaan Ulang Kata-Kata Cepat) yang mana merupakan komentar terhadap kitab Lubab al-Hadits karya Imam al-Suyuthi. Karyanya yang kedua adalah Nasa’ih al-‘Ibad (Nasehat Bagi Hamba-Hamba Allah SWT) yang memuat sekitar 250 hadis didalamnya.

Berdasarkan uraian yang telah di berikan diatas, bisa dilihat dari jejak historis tentang perkembangan literatur hadis di Indonesia yang begitu hangat dan semangat para ulama dalam menorehkan karyanya dalam bidang hadis. Walaupun sempat mengalami kemandekan yang sangat lama, semangat para ulama dalam penulisan literatur hadis di Indonesia tidak surut. Demikian selintas tentang perkembangan literatur hadis di Indonesia, dimana sempat terdapat gelombang besar yang menyertai perkembangan hadis. Hal yang harus dicatat adalah kita sebagai penggerak dalam kajian hadis harus tetap belajar dan menghargai karya ulama-ulama terdahulu. Begitu juga kita harus berusaha merekonstruksi metode kajian hadis sehingga dapat diterima oleh banyak masyarakat Indonesia pada masa sekarang.

Baca juga:
Labels : #Mahasiswa ,#Opini ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar