Laisa lahu min Shiyamihi: Meningkatkan Kualitas Puasa Menurut al-Ghazali

Daftar Isi [Tampilkan]




Disarikan dari Kitab Asrar al-Shaum dalam kitab Ihya’ Ulumiddin karya al-Imam al-Ghazali

1. Tingkatan Puasa

Dalam suatu hadis, Rasulullah mengatakan bahwa banyak orang yang puasa tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Mereka tidak mendapatkan pahala maupun tujuan dari puasa itu sendiri. Puasa hanya menjadi ritual keagamaan formal saja, tidak diikuti dengan hal-hal yang dapat mendidik jiwa mereka yang berpuasa.

Al-Imam al-Ghazali dalam bab puasa di dalam Ihya’ Ulumiddin mengatakan bahwa puasa itu memiliki tiga tingkatan. Pertama adalah puasa orang kebanyakan (ṣaum al-‘umūm), puasa orang khusus (ṣaum al-khuṣūṣ), dan puasa khususnya orang khusus (ṣaum khuṣūṣ al-khuṣūṣ).

Pertama adalah puasa orang kebanyakan (ṣaum al-‘umūm). Puasa tingkatan ini ialah mereka menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat dan hal-hal yang membatalkan puasa.

Kedua adalah puasa orang khusus (ṣaum al-khuṣūṣ) di mana mereka melakukan puasa tingkatan pertama serta menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.

Ketiga adalah puasa khususnya orang khusus (ṣaum khuṣūṣ al-khuṣūṣ) adalah mereka yang melakukan tingkatan puasa pertama dan kedua serta puasa hati dari cita-cita yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahan hati dari selain Allah secara total. Dalam puasa tingkatan ini, seseorang dianggap berbuka apabila ia memikirkan selain Allah dan hari akhir, atau memikirkan dunia, kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena itu termasuk bekal akhirat dan bukan termasuk dunia (yang tercela). Dalam hal ini, para sufi mengatakan bahwa mereka yang pada siang harinya sibuk memikirkan apa yang akan ia makan ketika berbuka, maka dicatat baginya suatu kesalahan. Sebab itu termasuk kurangnya kepercayaan kepada karunia Allah dan lemahnya keyakinan terhadap rezeki yang dijanjikan-Nya.

Ini adalah derajat para nabi, para ṣiddīqīn, dan muqarrabīn. Penjelasannya tidak panjang dalam kata-kata, tetapi realisasinya melalui amal. Puasa tingkatan ini adalah pemusatan tekad sepenuhnya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya, serta mengenakan makna firman Allah: “Katakanlah: Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka.”

 

2. Melangkah Menuju Puasa Khusus

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, puasa tingkatan kedua yaitu orang khusus (ṣaum al-khuṣūṣ) adalah puasanya orang-orang saleh, ialah menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Untuk menuju puasa orang khusus (ṣaum al-khuṣūṣ) ini, ada enam hal yang harus dilakukan menurut al-Ghazali, yaitu:

 

a. Menundukkan Pandangan

Menahan pandangan dari memperluas penglihatan kepada segala yang tercela, dibenci, dan yang menyibukkan hati dari mengingat Allah. Rasulullah bersabda:

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah Iblis. Siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberinya iman yang ia rasakan manisnya di dalam hati.”

 Diriwayatkan pula bahwa beliau bersabda:

“Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa: dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.”

b. Menjaga Lisan

Menjaganya dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, namimah, perkataan keji, kasar, pertengkaran, dan perdebatan. Hendaknya ia membiasakan diam dan menyibukkannya dengan zikir dan membaca Al-Qur’an. Itulah puasa lisan. Ghibah dan dusta dapat merusak pahala puasa sebagaimana Rasulullah bersabda:

“Puasa itu perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan jangan bertindak bodoh. Jika ada yang memeranginya atau mencacinya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”

Disebutkan pula kisah dua perempuan yang berpuasa pada masa Rasulullah, lalu mereka sangat kehausan dan kelaparan hingga hampir binasa. Ketika diperintahkan untuk memuntahkan apa yang telah mereka makan, keluarlah darah segar dan daging. Beliau bersabda bahwa mereka berpuasa dari yang halal, namun berbuka dengan yang haram, yakni dengan memakan daging manusia melalui ghibah.

c. Menjaga Pendengaran

Menahan telinga dari mendengarkan segala yang haram, sebab apa yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Allah menyamakan antara pendengar kebohongan dan pemakan yang haram. Diam terhadap ghibah juga haram. Rasulullah bersabda:

“Orang yang menggunjing dan yang mendengarkannya adalah dua sekutu dalam dosa.”

d. Menahan Anggota Tubuh Lainnya

Menahan tangan dan kaki dari kemaksiatan, serta menjaga perut dari makanan syubhat ketika berbuka. Tidak ada makna puasa jika seseorang menahan diri dari makanan halal, namun berbuka dengan yang haram. Itu seperti orang yang membangun istana tetapi meruntuhkan kota. Makanan halal itu membahayakan karena banyaknya, bukan karena jenisnya. Puasa bertujuan menguranginya. Haram itu seperti racun yang membinasakan agama.

Rasulullah bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

e. Tidak Berlebihan Saat Berbuka

Jangan memperbanyak makanan halal saat berbuka hingga memenuhi perut. Tidak ada wadah yang lebih dibenci Allah daripada perut yang penuh, walaupun dari yang halal. Tujuan puasa adalah mengosongkan perut dan melemahkan hawa nafsu agar jiwa kuat dalam ketakwaan. Jika seseorang menahan diri sepanjang hari, lalu menggantinya secara berlebihan saat berbuka, maka tujuan puasa tidak tercapai. Ruh dan rahasia puasa ialah melemahkan kekuatan yang menjadi jalan setan menuju keburukan. Itu tidak tercapai kecuali dengan mengurangi makan.

f. Hati Antara Takut dan Harap

Setelah berbuka, hendaknya hati tetap berguncang antara takut dan harap. Ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga termasuk orang-orang yang didekatkan, atau ditolak sehingga termasuk orang-orang yang dimurkai. Demikianlah seharusnya setelah setiap ibadah.

  

3. Formalitas Puasa dan Tujuan Puasa

Bagaimana dengan orang yang hanya menahan perut dan kemaluan saja? Para fuqaha menetapkan sahnya puasa secara lahiriah berdasarkan syarat-syarat lahir. Namun ulama akhirat memaknai “sah” sebagai “diterima” dan “diterima” sebagai tercapainya tujuan. Tujuan puasa adalah meneladani salah satu sifat Allah, yaitu aṣ-Ṣamadiyyah (ketidaktergantungan), dan meneladani malaikat dalam menahan syahwat semampunya.

Manusia berada di atas binatang karena akalnya mampu mengendalikan syahwat, namun di bawah malaikat karena masih dikuasai syahwat. Jika ia tenggelam dalam syahwat, ia turun ke derajat paling rendah; jika ia menekannya, ia naik ke derajat tertinggi dan mendekati malaikat.

Kedekatan itu bukan kedekatan tempat, melainkan kedekatan sifat.

Karena itu Rasulullah bersabda:

“Puasa adalah amanah, maka hendaklah salah seorang dari kalian menjaga amanahnya.”

Pendengaran adalah amanah, penglihatan adalah amanah. Seandainya bukan bagian dari amanah puasa, tentu beliau tidak memerintahkan orang yang dicaci untuk berkata: “Aku sedang berpuasa.”

Maka setiap ibadah memiliki lahir dan batin, kulit dan inti. Kulit itu bertingkat-tingkat, dan setiap tingkat memiliki lapisan. Kini pilihan ada padamu: apakah engkau rela berhenti pada kulit tanpa inti, atau engkau ingin bergabung bersama golongan orang-orang yang memiliki inti (ahl al-albāb)?

Baca juga:
Labels : #Ilmu Hadis ,#Ilmu Terkait ,#puasa ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar