1. Perkiraan Lailatul Qadar
"Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari no. 2017). Begitulah perintah Rasulullah untuk mencari Lailatul Qadar. Lailatul Qadr adalah malam mulia di bulan
Ramadan, yang lebih baik dari 1000 bulan atau 83 tahun lebih, saat Al-Qur’an
diturunkan dan malaikat turun membawa berkah. Menurut sebagian ulama, malam ini
diperkirakan jatuh pada 10 malam terakhir Ramadan, terutama malam ganjil,
ditandai dengan kedamaian hingga fajar. Di antara para ulama yang memperkirakan
Lailatul Qadr jatuh pada 10 malam terakhir Ramadan adalah Imam al-Qalyubi dan
Sayyid Bakri Syatha
2. Lailatul Qadar Menurut al-Qalyubi
Syihab ad-Din Abu al-‘Abbas Ahmad ibn Ahmad ibn
Salamah, yang terkenal dengan al-Qalyubi (w. 1069 H / 1658 M). Beliau dalam ḥāsyiyah-nya
atas al‑Maḥallī Syarḥ Minhāj al‑Ṭālibīn mengatakan tentang pendapat para
ulama terkait jatuhnya malam Lailatul Qadar. Beliau kemudian membuat syair:
يَا سَائِلِي
عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ الَّتِي … فِي عَشْرِ رَمَضَانَ الْأَخِيرِ حَلَّتْ
فَإِنَّهَا فِي
مُفْرَدَاتِ الْعَشْرِ … تُعْرَفُ مِنْ يَوْمِ ابْتِدَاءِ الشَّهْرِ
فَبِالْأَحَدْ
وَالْأَرْبِعَا فِي التَّاسِعَهْ … وَجُمُعَةٍ مَعَ الثَّلَاثَا السَّابِعَهْ
وَإِنْ بَدَا
الْخَمِيسَ فَالْخَامِسَةُ … وَإِنْ بَدَا بِالسَّبْتِ فَالثَّالِثَةُ
وَإِنْ بَدَا
الِاثْنَيْنِ فَهْيَ الْحَادِي … هَذَا عَنْ الصُّوفِيَّةِ الزَّهَّادِيَّ
Artinya:
“Wahai orang yang bertanya tentang malam
Lailatul Qadar,
yang berada pada sepuluh malam terakhir bulan
Ramadan.
Sesungguhnya ia berada pada malam-malam ganjil
dari sepuluh itu,
dan dapat diketahui dari hari dimulainya bulan.
Jika awal bulan jatuh pada hari Ahad atau Rabu,
maka pada malam ke-9.
Jika awal bulan jatuh pada hari Jumat atau
Selasa, maka pada malam ke-7.
Jika awal bulan jatuh pada hari Kamis, maka
pada malam ke-5.
Jika awal bulan jatuh pada hari Sabtu, maka
pada malam ke-3.
Jika awal bulan jatuh pada hari Senin, maka
pada malam ke-1 (malam ke-21).
Ini merupakan perkiraan yang dinukil dari
kalangan para sufi yang zuhud.”
3. Tabel Lailatul Qadar Menurut al-Qalyubi
|
Hari Awal
Ramadan |
Perkiraan
Lailatul Qadar |
Tanggal
Malam |
|
Ahad |
Malam ke-9
dari sepuluh terakhir |
29 Ramadan |
|
Rabu |
Malam ke-9
dari sepuluh terakhir |
29 Ramadan |
|
Jumat |
Malam ke-7
dari sepuluh terakhir |
27 Ramadan |
|
Selasa |
Malam ke-7
dari sepuluh terakhir |
27 Ramadan |
|
Kamis |
Malam ke-5
dari sepuluh terakhir |
25 Ramadan |
|
Sabtu |
Malam ke-3
dari sepuluh terakhir |
23 Ramadan |
|
Senin |
Malam ke-1
dari sepuluh terakhir |
21 Ramadan |
4. Lailatul Qadar Menurut Sayyid Bakri Syatha
Melanjutkan apa yang dikatakan oleh al-Qalyubi,
Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Makki yang masyhur dengan Sayyid
Bakri Syatha (w. 1310 H / 1892 M) juga mengutip pendapat para ulama alternatif
tentang jatuhnya malam Lailatul Qadar. Ia kemudian mengutip syair sebagian
ulama:
وإنا جميعا إن
نصم يوم جمعة … ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر
وإن كان يوم
السبت أول صومنا … فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر
وإن هل يوم
الصوم في أحد فذا ... بسابعة العشرين ما رمت فاستقر
وإن هل
بالاثنين فاعلم بأنه ... يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري
ويوم الثلاثا
إن بدا الشهر فاعتمد ... على خامس العشرين تحظى بها فادر
وفي الأربعا إن
هل يا من يرومها ... فدونك فاطلب وصلها سابع العشري
ويوم الخميس إن
بد الشهر فاجتهد ... توافيك بعد العشر في ليلة الوتر
Artinya:
“Jika kita semua berpuasa mulai hari Jumat,
maka pada malam ke-29 ambillah Lailatul Qadar.
Jika hari Sabtu
menjadi awal puasa kita,
maka berpeganglah pada malam ke-21 tanpa
keraguan.
Jika awal puasa
jatuh pada hari Ahad,
maka ia berada pada malam ke-27, maka
tetapkanlah.
Jika awalnya
hari Senin,
ketahuilah bahwa engkau akan meraih pertemuan
(dengan keutamaannya) pada malam ke-29.
Jika awal bulan
tampak pada hari Selasa,
maka peganglah malam ke-25 agar engkau mendapatkannya.
Jika awalnya
hari Rabu, wahai pencarinya,
maka carilah ia pada malam ke-27.
Jika awal
bulan pada hari Kamis, maka bersungguh-sungguhlah,
engkau akan menemuinya setelah sepuluh malam
pada salah satu malam ganjil.”
5. Tabel Lailatul Qadar Menurut Sayyid Bakri Syatha
|
Awal
Ramadan |
Perkiraan
Lailatul Qadar |
Tanggal |
|
Jumat |
Malam ke-9
dari sepuluh terakhir |
29 Ramadan |
|
Sabtu |
Malam
pertama dari sepuluh terakhir |
21 Ramadan |
|
Ahad |
Malam ke-7
dari sepuluh terakhir |
27 Ramadan |
|
Senin |
Malam ke-9
dari sepuluh terakhir |
29 Ramadan |
|
Selasa |
Malam ke-5
dari sepuluh terakhir |
25 Ramadan |
|
Rabu |
Malam ke-7
dari sepuluh terakhir |
27 Ramadan |
|
Kamis |
Salah satu
malam ganjil setelah sepuluh terakhir |
21 / 23 /
25 / 27 / 29 |
6. Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadar
Sayyid Bakri mengatakan bahwa dalam
Tuhfat al-Muhtaj disebutkan hikmah disamarkannya Lailatul Qadar dalam sepuluh
malam terakhir adalah agar manusia menghidupkan seluruh malamnya. Hal ini
termasuk kekhususan umat Nabi Muhammad saw., dan tetap ada sampai hari kiamat.
Pada malam itulah diputuskan setiap urusan yang penuh hikmah.
Pendapat yang menyatakan bahwa
Lailatul Qadar berada pada malam pertengahan bulan Nisfu Sya'ban adalah
pendapat yang ganjil dan menyimpang.
7. Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Tanda-tandanya adalah malamnya
tenang dan seimbang; dan pada pagi harinya matahari terbit tanpa sinar yang
kuat, karena banyaknya cahaya para malaikat yang naik dan turun pada malam itu.
Faedah mengetahui harinya adalah agar disunnahkan bersungguh-sungguh beribadah
pada siang harinya sebagaimana malamnya.
