1. Pendahuluan
Sebuah
naskah kuno selalu mempunyai cerita yang menarik untuk dijelajahi, bukan hanya
isi tulisannya, melainkan juga perjalanan panjang yang membuatnya tetap
bertahan hingga hari ini. Dari lembaran-lembaran tua itu, kita bisa melihat
bagaimana masyarakat masa lalu menulis, belajar, dan menjaga nilai-nilai
keagamaan serta budaya mereka. Menariknya, banyak naskah Nusantara justru kini
tersimpan di berbagai perpustakaan dunia, sehingga menjadi bukti bahwa warisan
budaya Indonesia pernah menjangkau perhatian internasional. Koleksi-koleksi itu
bukan sekedar sejarah, melainkan juga cermin identitas peradaban yang hidup dan
terus berbicara melampaui batas zaman.
2. Naskah Al-Qur’an Tahun 1591 di Berlin
Salah
satu contohnya adalah naskah Al-Qur’an tahun 1591 merupakan warisan budaya Jawa
yang luar biasa. Saat ini, artefak berharga tersebut tersimpan di Staatsbibliothek
zu Berlin, Perpustakaan negara Jerman yang menjadi salah satu pusat
koleksi manuskrip terbesar di Eropa. Keberadaannya di Jerman memperlihatkan
bagaimana perjalanan manuskrip Nusantara telah melintasi berbagai wilayah, menembus
samudra dan batas-batas kolonial, hingga akhirnya menetap di ruang arsip Eropa.
Perpustakaan tersebut mendokumentasikan naskah ini dengan sangat terperinci
sehingga memudahkan para peneliti dari seluruh dunia untuk mengakses da
mengkaji secara ilmiah.
Istilah-istilah
Jerman digunakan secara konsisten untuk menjelaskan karakteristik kodikologi
naskah tersebut, yang membantu para peneliti memahami aspek fisik manuskrip
secara lebih sistematis. Struktur fisik jilidannya disebut sebagai Einband
dalam deskripsi katalog tersebut. Bagian depan jilidnya diidentifikasi dengan
istilah Vorderdeckel. Di balik sampul, terdapat bagian yang disebut Spiegel
atau cermin sampul, serta lembaran kertas pelapis yang dikenal dengan nama Vorsatz.
Istilah-istilah ini mencerminkan ketelitian sistem pengarsipan yang dilakukan
pihak Jerman, sekaligus menunjukan betapa seriusnya lembaga tersebut dalam
memperlakukan warisan intelektual dunia Islam.
Keindahan visual utama naskah ini terletak pada bagian Buchschmuck, yakni Istilah yang merujuk pada hiasan buku atau iluminasi yang menghiasi halaman, fokus iluminasi yang paling menonjol terdapat pada bagian Titelblatt atau halaman judul, yang menampilkan kekayaan estetika Jawa secara utuh dan memukau. Iluminasi pada halaman surah Al-Fatihah surah pembuka Al-Qur’an menampilkan warna hijau muda sebagai latar belakang dominan, dipadukan dengan motif-motif bunga yang dberi sentuhan warna merah jambu serta merah tua. Kombinasi warna ini bukan sekedar pilihan estetis, melainkan juga mencerminan kepekaan seniman Jawa terhadap harmoni dan keseimbangan visual.
Pola geometris pada bingkai naskah ini membentuk struktur persegi panjang yang rapi. Terdapat motif berbentuk segitiga yang diletakkan secara simetris di atas dan bawah teks, memberikan keseimbangan visual yang sangat memukau bagi siapapun yang melihatnya. Ornamen floral berukuran kecil menghiasi hampir seluruh ruang dalam bingkai iluminasi, menunjukkan kemahiran seniman Jawa dalam menyusun pola hias yang sekaligus berdimensi religius. Detail ini, menjadi bukti nyata bahwa tradisi seni rupa Islam di Nusantara telah mencapai tingkat kematangan yang tinggi pada abad ke-16, jauh sebelum dunia Barat mengenal kekayaan visual tersebut.
3. Gaya Kaligrafi Al-Qur’an Berlin
Teks
ayat suci ditulis di bagian tengah halaman dengan kaligrafi yang sangat jelas
dan indah, berada di dalam kotak khusus yang dikelilingi hiasan iluminasi. Gaya
kaligrafi yang digunakan mencerminkan tradisi penulisan mushaf yang telah
berkembang di kalangan masyarakat Muslim Jawa sejak abad ke-15. Paduan antara
seni tulis dan iluminasi ini menjadi ciri khas mushaf Nusantara yang
membedakannya dari tradisi mushaf Timur Tengah maupun persia. Dalam konteks
ini, naskah 1591 bukan hanya dokumen keagamaan, tetapi juga merupakan karya
seni yang merangkum identitas budaya lokal dalam bingkai spiritualitas Islam. Katalog
juga mencantumkan detail sampul belakang yang disebut sebagai Ruckdeckel.
Serta penjelasan mengenai Buchschnitt atau bagian pinggiran kertas buku.
Selain itu, terdapat informasi Farbinfomation yang merinci keterangan warna-warna
yang digunakan dalam naskah. Kelengkapan data kodikologis ni sangat memudahkan
para ahli dalam melakukan restorasi, studi konservasi, maupun analisis pigmen
secara ilmiah. Punggung buku yang disebut Buchrucken pun tidak luput
dari perhatian ahli katalog, menandakan bahwa setiap bagian fisik naskah
dianggap memiliki nilai informasi tersendiri.
Identitas naskah ini sebagai karya yang berasal dari tanah Jawa menambah nilai historis yang sangat tinggi, mengingat abad ke-16 adalah masa ketika Islam sedang mengalami proses penyebaran yang pesat di Kepulauan Nusantara. Perpaduan motif lokal Jawa dengan teks Al-Qur’an di dalam sat mushaf menjadi bukti konkret tentang bagaimana Islam diserap, diadaptasi, dan dirayakan dalam ekspresi budaya setempat. Koleksi manuskrip Islam di Berlin kini telah tersedia secara digital melalui portal Staatbibliothek zu Berlin Digitlisierte Sammlungen, sehingga masyarakat Indonesia dan dunia dapat mengaksesnya tanpa haris hadir secara fisik ke Jerman. Kemudahan akses ini sangat penting, terutama bagi para peneliti, mahasiswa, dan pecinta sejarah yang ingin mendalami warisan tekstual Islam Nusantara. Digitalisasi juga berperan besar dalam upaya pelestarian, karena naskah fisik yang sangat rentan terhadap kerusakan kini memiliki salinan digital yang dapat direproduksi tanpa merusak aslinya. Langkah ini mencerminkan komitmen dunia internasional terhadap warisan dokumenter umat manusia.
4. Referensi
Gallop, Annabel Teh. The Art of the Qur’an
in Java. London: British Library, 2004. Tersedia daring: https://www.bl.uk/sacred-texts/articles/the-art-of-the-quran-in-southeast-asia.
Staatsbibliothek zu Berlin. al-Qurʾān.
Diakses 1 Mei 2026. https://digital.staatsbibliothekberlin.de/werkansicht/?PPN=PPN769982875&PHYSID=PHYS_0006.
UNESCO. Memory of the World: Safeguarding
Documentary Heritage. Paris: UNESCO, 2002. Tersedia daring: https://www.unesco.org/en/memory-world.

