Daun yang Menyimpan Ayat: Daun Lontar sebagai Medium Penulisan Mushaf Al-Qur'an dalam Tradisi Islam Nusantara

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Hasbi Nasrulloh
Universitas Islam Darussalam (UID) Ciamis

1. Penggunaan Lontar di Nusantara

Tradisi penulisan teks keagamaan di Nusantara tidak selalu bergantung pada kertas impor dari Eropa atau Cina. Jauh sebelum kedua media tersebut dikenal luas, masyarakat Asia Tenggara telah memanfaatkan kekayaan alam sekitar mereka sebagai sarana mencatat dan mewariskan ilmu pengetahuan. Salah satu media yang paling menonjol adalah daun lontar, yang telah digunakan sejak abad ke-9 Masehi berdasarkan temuan prasasti dan naskah awal di Bali, Lombok, Sulawesi Selatan, serta Jawa. Ketika Islam kemudian masuk dan menyebar ke seluruh pelosok kepulauan, tradisi penulisan berbasis lontar ini tidak serta-merta ditinggalkan, melainkan diadaptasi untuk keperluan baru termasuk penulisan mushaf Al-Qur'an. Fenomena inilah yang menjadikan naskah-naskah lontar berisi teks Al-Qur'an sebagai objek kajian yang sangat berharga, bukan hanya dari sisi keagamaan, tetapi juga sebagai pintu masuk memahami sejarah dan budaya Islam di tingkat lokal.

Lontar (Borassus flabellifer L.) adalah tanaman dari keluarga Palmae yang tumbuh subur di wilayah beriklim kering dengan ketinggian 0 hingga 500 meter di atas permukaan laut. Persebarannya mencakup berbagai daerah di Indonesia sekaligus negara-negara lain seperti India, Myanmar, Kamboja, dan Sri Lanka. Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan berbagai sebutan lokal: ental di Bali dan Jawa, taal di Madura, lontara di Toraja, serta tua di Timor. Keberagaman nama tersebut mencerminkan betapa dalamnya tanaman ini berakar dalam kehidupan masyarakat Nusantara lintas budaya dan generasi.

2. Pengolahan Daun Lontar untuk Naskah

Sebelum dapat dijadikan wahana penulisan, daun lontar melewati serangkaian proses pengolahan tradisional yang cukup panjang. Daun dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan, kemudian direbus menggunakan ramuan tertentu untuk meningkatkan kelenturan dan daya tahannya. Setelah dikeringkan, daun dijepit (tepes) lalu diberi garis-garis panduan (spat) dengan jarak yang teratur. Proses akhirnya adalah penulisan menggunakan alat khusus lalu hasilnya dihitamkan dengan bahan dari kemiri atau buah tertentu agar tulisan tampak jelas. Teknik pengerjaan yang cermat ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara kuno memiliki pengetahuan teknologi pengolahan material yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Salah satu bukti konkret dari perpaduan tradisi lontar dengan Islam dapat ditemukan pada naskah koleksi Kampung Nagarapageh, Panawangan, Ciamis, Jawa Barat. Naskah tersebut terdiri dari 35 bilah daun lontar berukuran 30 x 4 cm yang memuat surat-surat pendek dari Juz 30 Al-Qur'an, mulai dari Al-Fatihah hingga Al-Kautsar. Penulisannya dilakukan menggunakan tinta berbasis karbon yang diaplikasikan dengan pena tradisional (qalam) berbahan bambu atau batang pohon handam. Arah penulisan mengikuti tradisi Arab, yakni horizontal dari kanan ke kiri. Yang menarik, keberadaan naskah ini bukan sebatas artefak keagamaan semata; ia menjadi saksi bisu bagaimana Islam hadir dan berakar di tengah masyarakat pedesaan Jawa Barat melalui cara yang sangat membumi memanfaatkan bahan yang akrab di tangan masyarakat setempat.

Fenomena serupa juga dijumpai pada mushaf koleksi Kiai Abdurrochim dari Desa Tarub, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah sebuah naskah lontar yang diperkirakan dibuat sekitar 40 hingga 50 tahun lalu dan diproduksi dengan tujuan komersial oleh seorang kiai dari Jawa Timur. Kemiripan antara kedua naskah ini mengindikasikan bahwa penggunaan lontar sebagai medium penulisan Al-Qur'an bukan gejala yang terisolasi di satu daerah, melainkan bagian dari tradisi yang lebih luas dan tersebar di berbagai penjuru Pulau Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa akulturasi antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal berlangsung secara organik, tanpa paksaan, melainkan melalui adaptasi yang kreatif dan berkesinambungan.

 


Naskah Surat Pendek Koleksi Nagarapageh

3. Daun Lontar dan Teks al-Qur’an

Dari perspektif kodikologi, kajian terhadap materialitas naskah lontar membuka wawasan yang lebih luas tentang pola transmisi pengetahuan keagamaan di Nusantara. Kajian selama ini cenderung memusatkan perhatian pada naskah-naskah bermedium kertas Eropa atau Cina, sehingga naskah berbahan lokal seperti lontar kerap luput dari sorotan. Padahal, justru di sinilah letak keistimewaannya: naskah lontar merekam bukan hanya teks keagamaan, tetapi juga jejak interaksi antara manusia, lingkungan, dan kepercayaan yang membentuk identitas budaya suatu komunitas. Bali bahkan hingga kini masih aktif mempertahankan tradisi penulisan di atas lontar sebagai bagian dari praktik literasi dan spiritualitas sehari-hari, membuktikan bahwa medium kuno ini memiliki daya tahan dan relevansi yang melampaui batas zaman.

Daun lontar bukan sekadar benda purba yang tersimpan di museum. Ia adalah cerminan kecerdasan lokal yang mampu bertransformasi mengikuti kebutuhan zaman termasuk ketika Islam datang membawa tradisi tulis-menulis teks suci. Penggunaannya sebagai medium penulisan mushaf Al-Qur'an, seperti yang terlihat pada naskah Nagarapageh maupun koleksi Kiai Abdurrochim, menunjukkan bahwa Islamisasi di Nusantara berjalan melalui jalan yang lentur: tidak menghapus budaya lokal, melainkan meresap ke dalamnya dan memberi makna baru. Oleh karena itu, pelestarian naskah-naskah lontar bukan hanya tanggung jawab akademik, tetapi juga kewajiban kultural agar generasi mendatang tetap dapat membaca warisan peradaban yang tertulis di atas helai-helai daun yang rapuh namun penuh makna.

4. Referensi

Lukman Baihaqi dkk., “Pemanfaatan Tradisional dan Pengetahuan Lokal Tanaman Lontar (Borassus flabellifer L.) oleh Masyarakat Pamekasan Madura,” LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi 11, no. 1 (2022): 208 16, https://doi.org/10.26740/lenterabio.v11n1.p208-216

S. Sibi Aadhithyan dkk., “Utilization and Value Enhancement in Palmyra Palm (Borassus Flabellifer) - A Critical Review,” Plant Science Today, advance online publication, 19 Juli 2025, https://doi.org/10.14719/pst.9343.

Yasa, I. Wayan Putra. “Manuskrip ‘Lontar’ Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal Alternatif Di Bali.” Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia 3, no. 1 (2020): 63. https://doi.org/10.17977/um0330v3i1p63-76.

Hastuti, Qona’ah Dwi, dan Moh. Abdul Kholiq Hasan. “MANUSKRIP MUSHAF AL-QUR‘AN DAUN LONTAR KOLEKSI KIAI ABDURROCHIM (KAJIAN Pemakaian Rasm Dan Qira’at).” Profetika: Jurnal Studi Islam 21, no. 1 (2020): 57–76. https://doi.org/10.23917/profetika.v21i1.11060

Baca juga:
Labels : #alquran ,#manuskrip ,#Nusantara ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar