Terjemahan Interlinear Al-Qur’an Banten: Kenapa Harus Jawa, Bukan Sunda?

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Andri Ridwan
Universitas Islam Darussalam Ciamis



 

Manuskrip Al-Quran Banten A54c

1. Pendahuluan

Bahasa Arab dalam Al-Qur’an, sebuah pilihan yang tidak tanpa alasan. Ada hal menarik yang dapat kita amati terkait penggunaan bahasa Arab dalam teks suci suatu agama. Pemilihan bahasa ini berkaitan dengan fakta bahwa Nabi yang menyampaikan wahyu ini adalah seorang Arab, dan target dakwah beliau juga ditujukan kepada masyarakat Arab. Dengan demikian, penggunaan bahasa Arab memudahkan penjelasan wahyu ilahi kepada objek dakwah tersebut. Keputusan ini bukan hanya sekedar kebetulan histori seperti yang terdapat dalam teks Al-Qur’annya sendiri dalam surat Yusuf ayat 2 yang secara eksplisit menyebutkan “ kitab berbahasa Arab agar kamu memahaminya”, melainkan sebuah keputusan Ilahi yang membawa hikmah yang luar biasa karena pada masa diturunkannya Al-Qur’an memang bahasa Arab itu sangat kaya, kompleks, dan sangat dihormati.

Ketika seseorang mampu membuat syairan-syairan yang indah dengan menggunakan bahasa Arab. Penguasaan bahasaa Arab bukan hanya sekitaran wilayah Arab saja, melainkan meluas seiring perkembangan Islam di berbagai wilayah seperti di Nusantara. Banyak ulama asal Nusantara yang pandai dalam berbahasa Arab ini sehinga bisa membuat banyak karya dalam bahasa Arab sekaligus menerjemahkannya kedalam bahasa lokal, Banten salah satu contoh daerah yang dari sanalah terlahir sebuah karya terjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa Jawa. Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari perjalanan panjang dan kompleks dalam tradisi keilmuan pada abad ke-17 dan ke-18. Kesultanan Banten dikenal sebagai pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan di Asia Tenggara, di mana banyak ulama berangkat ke Mekkah dan Madinah untuk memperdalam ilmu tafsir, nahwu, dan sharaf. Selain itu, ulama dari luar Nusantara juga diundang untuk mengajar sebagai langkah awal dalam memahami Al-Qur’an.

2. Terjemah Interlinear dalam Naskah Al-Quran Banten A54c

Seperti kita lihat dalam naskah Al-Qur’an yang ditemukan di Banten ini merupakan salahsatu hasil kecerdasan intelektual ulama Banten dalam menerjemahkan teks berbahasa Arab. Dalam proses penerjemahannya digunakan metode yang khas yaitu terjemahan antar baris (interlinear), dimana arti setiap kata ditulis tepat dibawah kata Arabnya. Sehingga pembaca dapat memahami makna secara rinci tanpa kehilangan konteks ayatnya, hal ini menjadi tradisi khas penerjemahan di Nusantara khususnya di pesantren Sunda yang disebut “ngalogat” dengan menggunakan tulisan “pegon” yang berasal dari lafal “jawa pego” artinya menyimpang, hal ini dikarenakan huruf pegon menyimpang dari literatur Arab dan juga menyimpang dari literatur Jawa.

Menariknya, meskipun Banten terletak di wilayah Sunda, terjemahan dalam naskah tersebut justru menggunakan bahasa Jawa, yang bahkan mengandung unsur-unsur Sunda dan bahasa pesantren kuno. Hal ini dapat dijelaskan melalui dua alasan utama. Pertama, pada masa itu, bahasa Jawa, khususnya dialek pesantren, memiliki status sebagai bahasa yang prestisius dalam keilmuan Islam di wilayah pesisir Nusantara, sehingga banyak digunakan oleh para santri dari berbagai daerah.

3. Terjemah Al-Qur’an Jawa di Naskah Banten

Tradisi penerjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa telah lebih dahulu berkembang di pesantren-pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebelum akhirnya dibawa ke Banten oleh para ulama yang belajar di sana. Kedua, Kesultanan Banten menjalin hubungan politik dan budaya yang erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, baik melalui jalur kekuasaan, jaringan pesantren, maupun hubungan keluarga antar-ulama. Akibatnya, terjadi semacam perpaduan bahasa keilmuan, di mana bahasa Jawa diterima sebagai media untuk menyampaikan ilmu agama, meskipun masyarakat sehari-hari menggunakan bahasa Sunda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa ilmiah tidak selalu sejalan dengan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh suatu komunitas. Seperti halnya bahasa Latin di Eropa pada abad pertengahan yang digunakan oleh para cendekiawan dari berbagai bangsa, bahasa Jawa pesantren berfungsi sebagai medium yang melampaui batas etnis dan geografis di Nusantara.

Jadi penggunaan bahasa Jawa dalam naskah Banten bukan sebuah kekeliruan tetapi sebuah keunikan tersendiri dan bukti dari kecerdasan intelektual ulama Nusantara dalam menjembatani bahasa wahyu dengan pemahaman lokal. Sehingga naskah tersebut memberikan pemahaman kepada kita, bahwa ilmu tidak memilih suku dan kebijaksanaan tidak mengenal batas wilayah. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita menggali kembali warisan intelektual ulama lokal yang kaya akan keilmuan Islam.

 

Baca juga:
Labels : #alquran ,#banten ,#manuskrip ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar