Tinta Arab Pegon Jawa di Tanah Sunda

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Silmi Hapizha
Prodi IAT Universitas Islam Darussalam Ciamis

1. Manuskrip DS 0084 00002

Islam yang tersebar diseluruh penjuru Nusantara, begitu juga manuskrip yang hadir menjadi jejak penyebarannya disetiap penjurunya. Di antara ribuan manuskrip yang tersebar dari Aceh hingga Maluku, ada sebuah naskah tua yang menyimpan kejutan kecil. Naskah itu tersimpan dalam koleksi pribadi Ahmad Saepuddin di Bogor, Jawa Barat yang kini telah terdigitalisasi dan dapat diakses publik melalui proyek Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) dengan kode DS 0084 00002. Naskah tersebut ditulis dari kanan ke kiri, diatas kertas Eropa. Manuskrip tersebut telah disampul dengan dimensi: 20,5 x 16 cm dengan jumlah halaman 86 halaman. Diantaranya terdapat halaman kosong 10 halaman. Manuskrip tersebut juga memiliki rubrikasi dan ilustrasi tetapi tidak dengan iluminasi, dan keadaan manuskripnya bisa dikatakan buruk.

2. Isi Manuskrip DS 0084 00002

Manuskrip tersebut berisi sembilan teks tentang ilmu Islam. Dimulai dengan kewajiban untuk belajar dan dilanjutkan dengan mempelajari yurisprudensi Islam. Setiap pembahasan disertai dengan komentar. Di dalamnya juga memuat pembahasan tentang prinsip-prinsip keimanan yang khas (hayyun, qadirun, muridun, sami’un, bashirun, ‘alimun, mutakkalimun, baqun) dan prinsip-prinsip Islam. Di dalamnya juga terdapat niat shalat awwabin ma’ hifzhil iman dan shalat anbiya ma’ baqa’ al-iman. Di akhir teks terdapat penjelasan Ali bin Abu Thalib tentang sifat-sifat Nabi Muhammad yang mampu menangkal segala bentuk kejahatan.

Inilah wajah naskah hadis yang ada di Nusantara tepatnya di bogor Di atas kertas yang menguning dan pinggiran yang telah rapuh, tertulis sebuah hadis Nabi dalam aksara Arab yang besar dan tegas. Namun di sela-selanya dalam tulisan kecil miring yang merayap di tepi dan antarbaris tersembunyi sesuatu yang lebih mengejutkan: komentar dan penjelasan dalam bahasa Jawa, ditulis dengan aksara Arab Pegon. Itu semua menjadi bukti bahwa hadis bukan sekedar teks suci yang dibaca atau dihafal, tetapi juga dibumikan ke dalam bahasa ibu para pembacanya.

3. Hadis yang Tertulis, Jawa yang Berbicara

Bisa kita lihat pada halaman naskah diatas memuat salah satu hadis yang sangat dikenal

“Qāla al-Nabiyyu ṣallallāhu 'alayhi wa sallam: ṭalaba al-'ilmi farīḍatun 'alā kulli muslimin wa muslimatin”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (No. 224) dan menjadi salah satu hadis paling populer dalam tradisi pesantren Nusantara. Jika kita terjemahkan kedalam bahasa Indoneasia dalam hadis tersebut nabi bersabda

“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan perempuan."

Namun yang membuat manuskrip ini istimewa bukan hadisnya saja melainkan logatan dan juga catatan pinggir (marginalia) berbahasa Jawa Pegon yang mengiringinya. Dalam naskah tersebut, sang penyalin atau pengajar juga menerjemahkan dan menjelaskan makna hadis kata per kata dalam bahasa Jawa, menggunakan sistem yang dikenal sebagai logatan tradisi khas pesantren Nusantara dalam memaknai teks Arab.

Di antara goresan Pegon yang samar itu, dapat kita baca dalam logatan dari hadis pertama:



Engandika nabi saw utawi angulati ilmu iku fardhu ingatase sakabe wong islam lanang lan wong islam wedon lan engandika  anak Abas kang karido dining Allah” 

 


Marginalia (catatan pinggir ) yang terdapat di salah satu halaman tersebut:“Ya’ni angulati ilmu iku fardu ingatase sakabe wong islam ..... lan maknane utawi amal iku .... iku fardu maka angulati ilmune ingatase iku fardu.”

Yang menarik dari logatan dalam manuskrip ini bukan sekadar terjemahannya, melainkan sistem gramatikalnya. Sang penulis menggunakan apa yang dikenal sebagai sistem ”utawi-iku” penanda gramatikal khas pesantren Jawa yang berfungsi menjelaskan kedudukan setiap kata dalam kalimat Arab sekaligus maknanya dalam bahasa Jawa. Dimana setiap Mubtada’ akan ditandai dengan “utawi” seperti pada kata طَلَبُ (ṭalabu) pada hadis diatas, juga setiap Khabar yang ditandai dengan “iku” seperti pada kata  فَرِيْضَةٌ )farīḍah) ”iku fardhu”.

Sistem utawi-iku ini sangat cerdas secara pedagogis: ia tidak hanya menerjemahkan makna kata, tetapi sekaligus mengajarkan struktur gramatikal (nahwu) Arab. Santri yang membaca logatan ini secara otomatis belajar dua ilmu sekaligus ilmu hadis dan ilmu nahwu dalam satu tarikan napas.

4. Misteri Bogor: Mengapa Jawa, Bukan Sunda?

Di sinilah pertanyaan menarik muncul: mengapa sebuah manuskrip yang ditemukan di Bogor jantung tanah Sunda justru berlogatan Jawa? Ada beberapa kemungkinan yang layak direnungkan. Pertama, Bogor secara tradisional berada dalam jalur pengaruh jaringan pesantren Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banyak santri Sunda yang menuntut ilmu ke pesantren-pesantren besar di Jawa, kemudian pulang membawa kitab beserta logatan gurunya lengkap dengan aksara Pegon Jawa yang mereka pelajari di sana.

Kedua, manuskrip ini kemungkinan besar ditulis di Jawa lalu berpindah tangan hingga akhirnya tersimpan dalam koleksi Ahmad Saepuddin di Bogor. Perpindahan kitab antar daerah adalah hal yang sangat lazim dalam tradisi pesantren Nusantara kitab adalah warisan yang diwariskan, dihadiahkan, bahkan dibawa merantau.

Ketiga, ada kemungkinan sang penulis adalah seorang ulama atau santri Jawa yang menetap dan mengajar di wilayah Bogor. Fenomena ulama perantau ini sangat umum di abad ke-18 dan ke-19, ketika jaringan keilmuan Islam Nusantara tidak mengenal batas geografis etnis.

Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal yang pasti. Namun justru itulah yang membuat manuskrip ini hidup sebagai objek kajian ia menyimpan misteri kecil yang mengundang kita untuk menelusuri lebih jauh sejarah perjalanan ilmu di Nusantara.

Sebuah Refleksi: Hadis Milik Semua Bahasa

Di era ketika akses terhadap teks-teks hadis begitu mudah tinggal ketik di aplikasi, ratusan ribu hadis langsung tersaji manuskrip seperti DS 0084 mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih fundamental: bahwa transmisi hadis bukan hanya soal teks, melainkan soal manusia yang merawatnya.

Seseorang pada suatu masa yang tidak kita ketahui persis kapannya, memilih untuk tidak hanya menyalin hadis dalam aksara Arab. Ia menambahkan penjelasan dalam bahasa ibunya sendiri, kata per kata, dengan sistem yang mengajarkan tata bahasa Arab sekaligus makna hadis dalam satu tarikan napas.

Tindakan itu kecil dalam ukuran tinta. Namun besar dalam maknanya. Inilah, sejatinya, spirit dari ilmu hadis yang hidup di Nusantara. Bukan hadis yang tersimpan dalam lemari kaca museum, melainkan hadis yang terus bergerak, berganti bahasa, menyesuaikan dirinya dengan lidah dan telinga umat yang menerimanya. Manuskrip tua dari Bogor itu mungkin rapuh dan menguning. Tetapi pesan yang dikandungnya bahwa ilmu adalah kewajiban, dan kewajiban itu harus disampaikan dalam bahasa yang dimengerti tetap segar hingga hari ini.

Baca juga:
Labels : #alquran ,#manuskrip ,#sunda ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar