Iluminasi, Khat, dan Rasm dalam Naskah Al-Qur’an Mindanao : Refleksi atas Warisan Manuskrip Islam

Daftar Isi [Tampilkan]
Oleh: Abdul Asykar Mufti Mubarok
Universitas IsIam Darussalam Ciamis

1. Pendahuluan

Naskah kuno merupakan salah satu peninggalan yang memiliki nilai penting dalam kajian sejarah, filologi, dan studi Islam. Melalui sebuah manuskrip, berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan, tradisi tulis, serta dinamika sosial . Salah satu manuskrip yang menarik untuk dikaji adalah Naskah Al-Qur'an Mindanao yang berasal dari Filipina Selatan. Berdasarkan kajian para peneliti, manuskrip ini diperkirakan ditulis pada abad ke-18 hingga ke-19 ketika tradisi penyalinan mushaf berkembang di lingkungan masyarakat Muslim Mindanao. Saat ini naskah tersebut tersimpan di Staatsbibliothek zu Berlin, Jerman, dengan nomor koleksi Ms. or. fol. 4134.



Naskah Al-Qur'an Mindanao, SzB, Ms. Or. Fol. 4134, f. 1r. (Sumber: Qalamos) Naskah Mindanao

2. Keindahan Iluminasi

Bagian yang paling memikat dari naskah Mindanao adalah iluminasinya. Motif floral yang menyerupai dedaunan, bentuk-bentuk geometris, serta perpaduan warna merah, hitam, dan putih memperlihatkan karakter khas seni Nusantara. Pola tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai hiasan, tetapi menjadi simbol penghormatan terhadap kalam Ilahi. Keunikan lain terlihat dari pengerjaan yang dilakukan secara manual. Detail motif yang tidak sepenuhnya simetris justru memperlihatkan sentuhan manusia di balik proses penyalinan. Setiap goresan menghadirkan kesan bahwa mushaf dibuat dengan ketelitian, kesabaran, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Iluminasi pada awal Surah Al-Baqarah bahkan menunjukkan komposisi yang lebih kompleks dengan perpaduan bentuk trapesium, segitiga, dan setengah lingkaran. Keindahan tersebut memperlihatkan bahwa seni Islam di Asia Tenggara berkembang melalui kreativitas lokal tanpa kehilangan nilai-nilai religius yang menjadi fondasinya.

3. Khat dan Rasm

Selain iluminasi, naskah Mindanao memperlihatkan penggunaan Khat Naskhi Nusantara yang memiliki bentuk huruf membulat, lentur, dan mudah dibaca. Gaya penulisan ini menunjukkan bahwa tujuan utama penyalinan mushaf adalah menjaga keterbacaan teks sehingga dapat dipahami oleh masyarakat. Di sisi lain, penggunaan Rasm Utsmani memperlihatkan keterhubungan naskah ini dengan tradisi penulisan Al-Qur’an yang telah diwariskan sejak masa awal Islam. Meskipun berada jauh dari pusat-pusat peradaban Islam, para penyalin tetap mempertahankan kaidah penulisan yang menjadi standar dalam mushaf Al- Qur’an. Perpaduan antara khat lokal dan Rasm yang baku memberikan pelajaran penting bahwa identitas lokal tidak harus menghilangkan nilai universal. Justru melalui adaptasi tersebut, Islam mampu tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah dengan tetap menjaga otentisitas ajarannya.

4. Kesimpulan

Naskah Al-Qur'an Mindanao menunjukkan bahwa manuskrip tidak hanya berfungsi sebagai media penyimpan wahyu, tetapi juga sebagai representasi perkembangan tradisi intelektual dan budaya Islam di Asia Tenggara. Keindahan iluminasi, penggunaan Khat Naskhi Nusantara, serta penerapan Rasm Utsmani memperlihatkan adanya perpaduan yang harmonis antara nilai estetika, identitas lokal, dan upaya menjaga keautentikan teks Al-Qur'an. Setiap unsur dalam manuskrip ini mencerminkan penghormatan yang mendalam terhadap kalam Ilahi sekaligus menunjukkan tingginya tradisi keilmuan masyarakat Muslim Mindanao.

5. Referensi

Annabel Teh Gallop. (2019). The Art of the Qur'an in Southeast Asia. London: The British Library

Annabel Teh Gallop. (2021). Qalamos: Illuminated Qur’an Manuscripts from Mindanao. Qalamos: Connecting Manuscript Tradition. https://www.qalamos.net

 

Baca juga:
Labels : #alquran ,#iluminasi ,#khat ,#manuskrip ,#rasm ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar