1. Pendahuluan
Di tahun
1143 menjadi catatan penting dalam sejarah hubungan Islam-Barat. Untuk pertama
kalinya, Al-Qur’ān diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa Latin. Proyek ini
diprakarsai oleh Petrus Venerabilis (Petrus Yang Terhormat), abbas biara Cluny
di Prancis. Ia melakukannya bukan karena kecintaan pada Islam, melainkan karena
ingin menjatuhkan Islam.
Pada saat
itu, Perang Salib Kedua (Secunda Cruciata, 1147–1149) sedang disiapkan.
Petrus ingin para sarjana Kristen memiliki senjata intelektual untuk membantah Islam.
Ia merekrut Robertus Ketenensis (Robert of Ketton) dan Hermannus Dalmata
(Hermann dari Carinthia), dua penerjemah ulung teks ilmiah Arab.
Hasilnya
adalah kumpulan teks Islam dalam bahasa Latin. Di dalamnya terdapat Alkoranus
(terjemahan Al-Qur’ān), Risālat al-Kindī, Doctrina Mahumet, dan De
generatione Mahumeth. Tiga teks terakhir dikumpulkan dengan judul Fabulae
Sarracenorum ‘dongeng-dongeng orang Saracen’ (Ferrero Hernández, 2021:
3–4). Nama itu sendiri sudah mengandung penghinaan.
Para penerjemah sebenarnya sangat kompeten. Robertus Ketenensis menguasai retorika Latin kelas tinggi. Hermannus Dalmata ahli dalam astronomi dan filsafat. Namun, kompetensi teknis tidak menjamin objektivitas. Mereka membawa misi teologis, yaitu membantah Islam dan bukan memahaminya.
2. Distorsi Terjemahan
Akibatnya,
terjemahan yang dihasilkan penuh dengan distorsi. Norman Daniel mencatat bahwa
Robertus “selalu mengambil jalan ekstrem dalam menerjemahkan teks yang tidak
agresif sekalipun, membuatnya tampak menjijikkan atau pornografis” (dikutip dalam
Abdul Muttalib et al., 2024: 185). Ini bukan sekadar kesalahan, melainkan
faktor kesengajaan.
Contoh
paling nyata adalah komentar Robertus terhadap Sūrat al-Ghāshiyah ayat 21–22.
Dalam bahasa Arab, ayat itu berbunyi: fa-dhakkir innamā anta mudhakkir,
lasta ‘alayhim bi-muṣayṭir. Artinya: “Maka berilah peringatan, karena
engkau hanyalah pemberi peringatan, engkau bukanlah orang yang berkuasa atas
mereka.”
Ayat ini dengan tegas menolak pemaksaan dalam agama. Namun, Robertus justru menuduh Muḥammad memaksa orang masuk Islam dengan pedang. Ia menulis dalam catatan kaki: “Mengapa engkau mencoba meyakinkan orang untuk masuk agamamu menggunakan pedang?” (Abdul Muttalib et al., 2024: 188). Tuduhan tersebut jelas bertentangan dengan teks yang ia terjemahkan.
Ironisnya, terjemahan ini lahir di tengah kegemilangan intelektual Eropa yang justru berutang banyak pada dunia Islam. Para sarjana Eropa saat itu sangat mengagumi Ibn Sīnā (Avicenna) dan Ibn Rushd (Averroes). Karya mereka diajarkan di universitas-universitas Eropa (Abdul Muttalib et al., 2024: 187).
Bahkan Thomas Aquinas, pilar teologi Kristen, bergantung pada pemikiran Ibn Rushd. Namun, kekaguman pada ilmuwan Muslim tidak pernah melunakkan kebencian terhadap Islam sebagai agama.
Dante Alighieri dalam Divina Commedia menempatkan Avicenna dan Averroes di Limbus, tempat orang kafir berbudi luhur. Namun, ia tetap memberi mereka posisi lebih rendah daripada filsuf Yunani dan Romawi. Islam diakui kontribusinya, tetapi direndahkan statusnya.
Petrus Venerabilis sendiri menunjukkan kontradiksi yang lebih ekstrem. Dalam satu tulisan ia mengaku mengasihi Muslim dan lebih memilih “kata-kata daripada senjata, akal daripada kebencian, cinta di atas segalanya” (dikutip dalam Abdul Muttalib et al., 2024: 188). Ia menulis bahwa ia ingin menjangkau Muslim dengan kasih.
Namun, di kesempatan lain, ia berharap Raja Ludovicus VII dari Prancis membunuh sebanyak mungkin Muslim dalam Perang Salib (Abdul Muttalib et al., 2024: 187). Ia membandingkannya dengan tindakan Musa dan Iosue yang membantai bangsa Amorrhaei dan Chanaan.
Petrus juga menulis sebuah risalah tentang Islam. Ia memberi judul Synopsis haereticae doctrinae Sarracenorum ‘Ikhtisar Sesat dari Doktrin Setan Saracen’. Ia tidak pernah bisa melepaskan diri dari kerangka polemik yang menganggap Islam sebagai bid’ah Kristen (Abdul Muttalib et al., 2024: 188).
Terjemahan Latin pertama ini tidak langsung dicetak setelah selesai pada 1143. Pihak gereja khawatir publikasinya justru akan mempromosikan Islam di tengah emosi Perang Salib yang masih menyala (Abdul Muttalib et al., 2024: 185).
Baru pada 1543, tepat 400 tahun kemudian, Theodorus Bibliander menerbitkannya di Basel. Menariknya, Bibliander adalah seorang reformis Protestan. Ia menggunakan Alkoranus sebagai alat untuk melawan kepausan. Islam tiba-tiba menjadi “sekutu” dalam perdebatan internal Kristen (Ferrero Hernández, 2021: 7).
3. Cetakan Terjemahan Latin
Setelah dicetak, terjemahan ini menjadi sangat populer. Cetakan ulang muncul di Zurich pada 1550 dan 1556 (Abdul Muttalib et al., 2024: 185). Para sarjana, pendeta, dan pemikir Eropa membaca Al-Qur’ān dari terjemahan yang salah dan cacat ini. Mereka mengira sedang memahami Islam, padahal sedang mengonsumsi distorsi.
Marcus
Toletanus (Mark dari Toledo) membuat terjemahan Latin kedua pada 1210. Ia
menggunakan pendekatan harfiah kata per kata, berbeda dengan gaya retoris
Robertus. Namun, perbedaan metode tidak mengubah misi utama dari kedua
terjemahan tersebut yang tetap lahir dari semangat anti-Islam (Ferrero
Hernández, 2021: 4).
Mengapa
kisah ini penting untuk direnungkan hari ini? Karena warisan distorsi abad
ke-12 masih hidup di abad ke-21. Banyak orang Barat masih menganggap Islam
sebagai ‘agama pedang’. Mereka tidak tahu bahwa citra itu sengaja dikonstruksi
oleh para penerjemah abad pertengahan.
Citra “Islam
dengan kekerasan” terus diulang dalam media, film, dan pernyataan politisi.
Padahal, seperti ditunjukkan oleh ayat yang sengaja disalahartikan oleh
Robertus, Al-Qur’ān sendiri menolak pemaksaan. Ironisnya, pembelaan iman ala
Petrus Venerabilis justru melanggar ajaran kasih yang ia klaim.
Kisah ini
juga mengingatkan kita bahwa penerjemahan bukanlah kegiatan netral. Setiap
penerjemah membawa agenda, bias, dan konteks zamannya. Ketika penerjemah
membenci teks yang ia terjemahkan, hasilnya bukanlah pemahaman, melainkan
karikatur.
Petrus
Venerabilis dan Robertus Ketenensis mungkin tidak pernah menyadari ironi
terbesar mereka. Upaya untuk “membantah” Islam melalui terjemahan justru
menjadi satu-satunya jendela bagi Eropa untuk melihat Al-Qur’ān selama 400 tahun.
Mereka memberi makan kebencian dengan pengetahuan yang buruk dan cacat.
Pada akhirnya, yang tersisa dari proyek Cluny bukanlah kebenaran tentang Islam. Yang tersisa adalah peringatan tentang bahaya membaca teks suci orang lain dengan niat menghancurkan, bukan memahami. Alkoranus Latin 1143 adalah monumen bagi niat baik yang dijalankan dengan cara yang salah.
4. Nasib Terjemahan Latin
Nasib dari kedua terjemahan Latin pertama Al-Qur’ān juga menunjukkan perbedaan menarik. Terjemahan Robertus dari Ketton tersimpan dalam 26 naskah, sementara terjemahan Marcus Toletanus hanya dalam 7 naskah (Petrus Pons, 2021: 285). Marcus memilih pendekatan harfiah kata per kata, bukan gaya retoris Robertus. Naskah Marcus juga tidak memiliki anotasi polemik yang sengaja memicu kebencian. Ironisnya, terjemahan yang lebih setia justru kurang populer dibandingkan terjemahan yang penuh distorsi.
5. Daftar Pustaka
Abdul
Muttalib, F., Hawamdeh, M. A., Al-Yousuf, H., & Mansour, A. W. (2024). A
Historical-Critical Study of the First Latin Translation of the Holy Quran.
International Journal of Linguistics, Literature and Translation, 7(1),
1–8.
Cándida
Ferrero Hernández. (2021). “Introduction.” Dalam The Latin Qur’an,
1143–1500: Translation, Transition, Interpretation, edited by Cándida
Ferrero Hernández and John Tolan, 1–6. Berlin/Boston: De Gruyter.