Ketika Cluny Memerangi Islam dengan Pena: Distorsi Al-Qur'an Latin 1143

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Muhamad Arif Firdaus


Theodor Bibilander. Dokumen Wikimedia Commons


1. Pendahuluan

Di tahun 1143 menjadi catatan penting dalam sejarah hubungan Islam-Barat. Untuk pertama kalinya, Al-Qur’ān diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa Latin. Proyek ini diprakarsai oleh Petrus Venerabilis (Petrus Yang Terhormat), abbas biara Cluny di Prancis. Ia melakukannya bukan karena kecintaan pada Islam, melainkan karena ingin menjatuhkan Islam.

Pada saat itu, Perang Salib Kedua (Secunda Cruciata, 1147–1149) sedang disiapkan. Petrus ingin para sarjana Kristen memiliki senjata intelektual untuk membantah Islam. Ia merekrut Robertus Ketenensis (Robert of Ketton) dan Hermannus Dalmata (Hermann dari Carinthia), dua penerjemah ulung teks ilmiah Arab.

Hasilnya adalah kumpulan teks Islam dalam bahasa Latin. Di dalamnya terdapat Alkoranus (terjemahan Al-Qur’ān), Risālat al-Kindī, Doctrina Mahumet, dan De generatione Mahumeth. Tiga teks terakhir dikumpulkan dengan judul Fabulae Sarracenorum ‘dongeng-dongeng orang Saracen’ (Ferrero Hernández, 2021: 3–4). Nama itu sendiri sudah mengandung penghinaan.

Para penerjemah sebenarnya sangat kompeten. Robertus Ketenensis menguasai retorika Latin kelas tinggi. Hermannus Dalmata ahli dalam astronomi dan filsafat. Namun, kompetensi teknis tidak menjamin objektivitas. Mereka membawa misi teologis, yaitu membantah Islam dan bukan memahaminya.

2. Distorsi Terjemahan

Akibatnya, terjemahan yang dihasilkan penuh dengan distorsi. Norman Daniel mencatat bahwa Robertus “selalu mengambil jalan ekstrem dalam menerjemahkan teks yang tidak agresif sekalipun, membuatnya tampak menjijikkan atau pornografis” (dikutip dalam Abdul Muttalib et al., 2024: 185). Ini bukan sekadar kesalahan, melainkan faktor kesengajaan.

Contoh paling nyata adalah komentar Robertus terhadap Sūrat al-Ghāshiyah ayat 21–22. Dalam bahasa Arab, ayat itu berbunyi: fa-dhakkir innamā anta mudhakkir, lasta ‘alayhim bi-muṣayṭir. Artinya: “Maka berilah peringatan, karena engkau hanyalah pemberi peringatan, engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”

Ayat ini dengan tegas menolak pemaksaan dalam agama. Namun, Robertus justru menuduh Muḥammad memaksa orang masuk Islam dengan pedang. Ia menulis dalam catatan kaki: “Mengapa engkau mencoba meyakinkan orang untuk masuk agamamu menggunakan pedang?” (Abdul Muttalib et al., 2024: 188). Tuduhan tersebut jelas bertentangan dengan teks yang ia terjemahkan.

Ironisnya, terjemahan ini lahir di tengah kegemilangan intelektual Eropa yang justru berutang banyak pada dunia Islam. Para sarjana Eropa saat itu sangat mengagumi Ibn Sīnā (Avicenna) dan Ibn Rushd (Averroes). Karya mereka diajarkan di universitas-universitas Eropa (Abdul Muttalib et al., 2024: 187).

Bahkan Thomas Aquinas, pilar teologi Kristen, bergantung pada pemikiran Ibn Rushd. Namun, kekaguman pada ilmuwan Muslim tidak pernah melunakkan kebencian terhadap Islam sebagai agama.

Dante Alighieri dalam Divina Commedia menempatkan Avicenna dan Averroes di Limbus, tempat orang kafir berbudi luhur. Namun, ia tetap memberi mereka posisi lebih rendah daripada filsuf Yunani dan Romawi. Islam diakui kontribusinya, tetapi direndahkan statusnya.

Petrus Venerabilis sendiri menunjukkan kontradiksi yang lebih ekstrem. Dalam satu tulisan ia mengaku mengasihi Muslim dan lebih memilih “kata-kata daripada senjata, akal daripada kebencian, cinta di atas segalanya” (dikutip dalam Abdul Muttalib et al., 2024: 188). Ia menulis bahwa ia ingin menjangkau Muslim dengan kasih.

Namun, di kesempatan lain, ia berharap Raja Ludovicus VII dari Prancis membunuh sebanyak mungkin Muslim dalam Perang Salib (Abdul Muttalib et al., 2024: 187). Ia membandingkannya dengan tindakan Musa dan Iosue yang membantai bangsa Amorrhaei dan Chanaan.

Petrus juga menulis sebuah risalah tentang Islam. Ia memberi judul Synopsis haereticae doctrinae Sarracenorum ‘Ikhtisar Sesat dari Doktrin Setan Saracen’. Ia tidak pernah bisa melepaskan diri dari kerangka polemik yang menganggap Islam sebagai bid’ah Kristen (Abdul Muttalib et al., 2024: 188).

Terjemahan Latin pertama ini tidak langsung dicetak setelah selesai pada 1143. Pihak gereja khawatir publikasinya justru akan mempromosikan Islam di tengah emosi Perang Salib yang masih menyala (Abdul Muttalib et al., 2024: 185).

Baru pada 1543, tepat 400 tahun kemudian, Theodorus Bibliander menerbitkannya di Basel. Menariknya, Bibliander adalah seorang reformis Protestan. Ia menggunakan Alkoranus sebagai alat untuk melawan kepausan. Islam tiba-tiba menjadi “sekutu” dalam perdebatan internal Kristen (Ferrero Hernández, 2021: 7).

3. Cetakan Terjemahan Latin


Setelah dicetak, terjemahan ini menjadi sangat populer. Cetakan ulang muncul di Zurich pada 1550 dan 1556 (Abdul Muttalib et al., 2024: 185). Para sarjana, pendeta, dan pemikir Eropa membaca Al-Qur’ān dari terjemahan yang salah dan cacat ini. Mereka mengira sedang memahami Islam, padahal sedang mengonsumsi distorsi.

Marcus Toletanus (Mark dari Toledo) membuat terjemahan Latin kedua pada 1210. Ia menggunakan pendekatan harfiah kata per kata, berbeda dengan gaya retoris Robertus. Namun, perbedaan metode tidak mengubah misi utama dari kedua terjemahan tersebut yang tetap lahir dari semangat anti-Islam (Ferrero Hernández, 2021: 4).

Mengapa kisah ini penting untuk direnungkan hari ini? Karena warisan distorsi abad ke-12 masih hidup di abad ke-21. Banyak orang Barat masih menganggap Islam sebagai ‘agama pedang’. Mereka tidak tahu bahwa citra itu sengaja dikonstruksi oleh para penerjemah abad pertengahan.

Citra “Islam dengan kekerasan” terus diulang dalam media, film, dan pernyataan politisi. Padahal, seperti ditunjukkan oleh ayat yang sengaja disalahartikan oleh Robertus, Al-Qur’ān sendiri menolak pemaksaan. Ironisnya, pembelaan iman ala Petrus Venerabilis justru melanggar ajaran kasih yang ia klaim.

Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa penerjemahan bukanlah kegiatan netral. Setiap penerjemah membawa agenda, bias, dan konteks zamannya. Ketika penerjemah membenci teks yang ia terjemahkan, hasilnya bukanlah pemahaman, melainkan karikatur.

Petrus Venerabilis dan Robertus Ketenensis mungkin tidak pernah menyadari ironi terbesar mereka. Upaya untuk “membantah” Islam melalui terjemahan justru menjadi satu-satunya jendela bagi Eropa untuk melihat Al-Qur’ān selama 400 tahun. Mereka memberi makan kebencian dengan pengetahuan yang buruk dan cacat.

Pada akhirnya, yang tersisa dari proyek Cluny bukanlah kebenaran tentang Islam. Yang tersisa adalah peringatan tentang bahaya membaca teks suci orang lain dengan niat menghancurkan, bukan memahami. Alkoranus Latin 1143 adalah monumen bagi niat baik yang dijalankan dengan cara yang salah.

4. Nasib Terjemahan Latin

Nasib dari kedua terjemahan Latin pertama Al-Qur’ān juga menunjukkan perbedaan menarik. Terjemahan Robertus dari Ketton tersimpan dalam 26 naskah, sementara terjemahan Marcus Toletanus hanya dalam 7 naskah (Petrus Pons, 2021: 285). Marcus memilih pendekatan harfiah kata per kata, bukan gaya retoris Robertus. Naskah Marcus juga tidak memiliki anotasi polemik yang sengaja memicu kebencian. Ironisnya, terjemahan yang lebih setia justru kurang populer dibandingkan terjemahan yang penuh distorsi.

5. Daftar Pustaka

Abdul Muttalib, F., Hawamdeh, M. A., Al-Yousuf, H., & Mansour, A. W. (2024). A Historical-Critical Study of the First Latin Translation of the Holy Quran. International Journal of Linguistics, Literature and Translation, 7(1), 1–8.

Cándida Ferrero Hernández. (2021). “Introduction.” Dalam The Latin Qur’an, 1143–1500: Translation, Transition, Interpretation, edited by Cándida Ferrero Hernández and John Tolan, 1–6. Berlin/Boston: De Gruyter.

Petrus Pons, N. (2021). “The Glosses on Mark of Toledo's Alchoranus Latinus.” Dalam C. Ferrero Hernández & J. Tolan (Eds.), The Latin Qur'an, 1143–1500: Translation, Transition, Interpretation (hlm. 283–297). Walter de Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783110702712-015
Baca juga:
Labels : #alquran ,#latin ,#terjemah ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar