Di Balik Viral dan Konten: Memudarnya Empati Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Silma Nabila
Universitas Islam Darussalam Ciamis

1. Pendahuluan

Masyarakat saat ini sering kali lebih memilih merekam daripada menolong ketika melihat seseorang mengalami musibah. Akibatnya, media sosial dipenuhi komentar yang menghina, merendahkan, atau menjadikan penderitaan orang lain sebagai hiburan demi konten dan viralitas. Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa empati semakin memudar di tengah kemajuan teknologi. Padahal, teknologi semestinya memudahkan manusia untuk saling membantu dan mengutamakan kepedulian terhadap sesama, bukan sekadar mengejar perhatian publik.

Krisis empati bukan sekadar persoalan moral individu, tetapi telah menjadi persoalan sosial yang memengaruhi hubungan antarmanusia. Ketika kepedulian semakin memudar, rasa persaudaraan, solidaritas, dan semangat tolong-menolong ikut melemah. Padahal, dalam perspektif Islam, empati merupakan salah satu nilai utama yang menjadi fondasi terbentuknya kehidupan sosial yang harmonis.

Perkembangan teknologi digital membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru dalam kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran media sosial tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara seseorang merespons penderitaan orang lain. Tidak sedikit orang yang lebih memilih mengabadikan suatu peristiwa daripada memberikan pertolongan secara langsung. Bahkan, penderitaan seseorang sering dijadikan bahan candaan, konten, atau sekadar sarana memperoleh perhatian di media sosial.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa empati tidak lagi menjadi respons utama ketika melihat orang lain mengalami kesulitan. Keinginan memperoleh pengakuan, perhatian, atau popularitas sering kali lebih diutamakan daripada nilai-nilai kemanusiaan. Akibatnya, sikap peduli dan rasa tanggung jawab terhadap sesama perlahan mengalami penurunan.

Fenomena memudarnya empati tersebut bertolak belakang dengan ajaran Islam. Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menekankan pentingnya hubungan sosial yang dilandasi kepedulian dan semangat tolong-menolong. Salah satu ayat yang menegaskan hal tersebut adalah QS. Al-Mā’idah ayat 2 yang memerintahkan umat Islam untuk saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan. Dalam konteks inilah Al-Qur’an dan hadis memberikan pedoman agar manusia tetap menjaga kepedulian, kasih sayang, dan semangat tolong-menolong di tengah perubahan zaman.

Sumber: Ilustrasi AI


2. Meneguhkan Kembali Nilai Kepedulian

Nilai empati dan kepedulian sosial bukanlah hal baru dalam Islam. Sejak awal, Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang jelas mengenai pentingnya hubungan antarsesama. Salah satu ayat yang menegaskan hal tersebut adalah QS. Al-Mā’idah ayat 2.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحِلُّواْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهۡرَ ٱلۡحَرَامَ وَلَا ٱلۡهَدۡيَ وَلَا ٱلۡقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَٰنٗاۚ وَإِذَا حَلَلۡتُمۡ فَٱصۡطَادُواْۚ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنََٔانُ قَوۡمٍ أَن صَدُّوكُمۡ عَنِ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ أَن تَعۡتَدُواْۘ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya”


Dalam kitab karya Jalaluddin al-Suyuthi dijelaskan bahwa turunnya QS. Al-Mā’idah ayat 2 berkaitan dengan peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Pada saat itu Rasulullah saw. bersama para sahabat bermaksud menuju Baitullah untuk melaksanakan umrah, namun mereka dihalangi oleh kaum Quraisy sehingga tidak dapat memasuki Makkah. Di tengah situasi tersebut, para sahabat melihat sekelompok kaum musyrik dari arah timur yang hendak menuju Baitullah. Sebagian sahabat ingin membalas perlakuan kaum Quraisy dengan menghalangi rombongan tersebut. Lalu Allah menurunkan ayat ini sebagai petunjuk bahwa kaum Muslimin tidak dibenarkan bertindak atas dasar kebencian atau balas dendam, melainkan diperintahkan untuk saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa maupun permusuhan.

Menurut Tafsir al-Maraghi, perintah saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan merupakan salah satu prinsip utama kehidupan sosial Islam. Allah menghendaki manusia saling membantu, baik dalam kepentingan individu maupun masyarakat, baik dalam urusan agama maupun kehidupan dunia. Sebaliknya, segala bentuk kerja sama yang bertujuan melakukan kemaksiatan, kezaliman, atau permusuhan dilarang karena hanya akan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan bersama.

Solidaritas sosial dalam Islam berakar kuat pada konsep ukhuwah Islamiyah dan ta’āwun ‘alā al-birr. Di era digital, teknologi semestinya tidak merusak hubungan sosial, tetapi justru menjadi media yang efektif untuk memperkuat ukhuwah dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan.

Dari QS. Al-Mā’idah ayat 2 tersebut dapat dipetik pelajaran bahwa umat Islam diperintahkan membiasakan kerja sama dalam kebajikan serta saling membantu dalam setiap aktivitas yang membawa manfaat dan bernilai ibadah. Oleh karena itu, setiap bentuk dukungan dan bantuan hendaknya tetap disesuaikan dengan nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam.

Dengan demikian, tolong-menolong tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi, tetapi juga melalui kepedulian, kehadiran, dan tindakan nyata ketika seseorang membutuhkan bantuan. Nilai ta’āwun yang diajarkan Al-Qur’an sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Di era digital, tidak sedikit orang yang lebih terdorong merekam daripada menolong, padahal perilaku tersebut bertentangan dengan prinsip saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan.

3. Merawat Persaudaraan di Era Digital

Krisis empati yang terjadi di tengah masyarakat tidak hanya ditandai dengan berkurangnya sikap tolong-menolong, tetapi juga semakin maraknya perilaku saling menghina, merendahkan, dan menghakimi orang lain. Hal ini bertolak belakang dengan pesan QS. Al-Hujurāt ayat 10–12.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ١٠َ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ  ١٢

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim. Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

 

Menurut Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, QS. Al-Hujurāt ayat 10–12 menegaskan bahwa seluruh orang beriman adalah saudara. Oleh karena itu, setiap muslim diperintahkan menjaga persaudaraan dengan mendamaikan perselisihan, menghindari sikap saling mengolok, mencela, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, serta menggunjing. Larangan tersebut bertujuan menjaga kehormatan setiap individu sekaligus menciptakan kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan penuh rasa saling menghormati. Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar hubungan karena kesamaan agama, tetapi diwujudkan melalui sikap saling menjaga, saling menghormati, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai yang terkandung dalam QS. Al-Hujurāt tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Kemajuan teknologi dan media sosial memang memudahkan komunikasi, tetapi di sisi lain juga memunculkan berbagai perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti cyberbullying, penghinaan, hingga menghakimi orang lain melalui kolom komentar. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa menjaga kehormatan dan perasaan sesama merupakan bagian dari wujud persaudaraan dan empati.

4. Kesimpulan

Fenomena memudarnya empati di tengah perkembangan media sosial menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan meningkatnya kepedulian terhadap sesama. Kebiasaan mengutamakan konten dan viralitas dibandingkan memberikan pertolongan merupakan bentuk krisis nilai kemanusiaan yang perlu menjadi perhatian bersama.

Melalui QS. Al-Mā’idah ayat 2, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya semangat tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Sementara itu, QS. Al-Hujurāt ayat 10–12 menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan, menghormati sesama, serta menghindari perilaku yang dapat melukai orang lain. Oleh karena itu, nilai-nilai Al-Qur’an perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penggunaan media sosial, sehingga teknologi tidak menjadi penyebab memudarnya empati, melainkan menjadi sarana menyebarkan kepedulian, kebaikan, dan kasih sayang antarsesama.

5. Daftar Pustaka

Puspitasari, Maya. "Kerja Sama dalam Lembaga Pendidikan Berdasarkan Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Mā’idah Ayat 2." LEARNING: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran 2, no. 3 (2022).

Putri, Salsabila Decha. "Peran Agama Islam dalam Pembentukan Moral dan Solidaritas Sosial di Era Digital." Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ) (2024).
Baca juga:
Labels : #alquran ,#Mahasiswa ,#media sosial ,#solidaritas sosial ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar