1. Pendahuluan
Dalam
studi naskah termasuk naskah Al-Qur’an, interlinear dan marginalia merupakan
bagian penting dari manuskrip, yaitu unsur-unsur yang menyertai teks utama
namun berada di luar badan teks ayat. Dimana keduanya bukan hanya sekadar tulisan
semata, melainkan menjadi sesuatu yang penting dan menjadi dan oembelajaran
tambahan pada setaip naskah.
Catatan
pinggir atau marginalia kerap dipandang sebagai tempelan yang tidak penting
terhadap teks utama. Padahal, dalam kajian naskah dan sejarah intelektual, ia
merupakan jejak personal yang merekam cara pembaca memahami, menafsirkan,
bahkan mengoreksi teks lintas ruang dan waktu.[1]
Marginalia berfungsi sebagai bentuk tambahan penjelasan atau komentar yang
diberikan oleh penyalın atau penulis naskah, tambahan tersebut tidak hanya
memperkaya teks isi utama, tetapi mencerminkan juga upaya intelektual dalam
menjelaskan, menafsirkan, atau mengkritisi isi pokok tafsir dan menjadi sebuah
refleksi pribadi terhadap pemahaman makna yang terdapat dalam naskah. Sehingga
Hadirnya catatan penanda di pinggir teks menandakan bahwa teks tafsir tidak
dipahami sebagai karya yang baru, melainkan sebagai entitas dinamis yang
terbuka terhadap pembacaan ulang dan penyempurnaan.
Marginalia
merupakan catatan yang ditulis di bagian pinggir halaman mushaf, baik pada sisi
kanan, kiri, atas, maupun bawah. Catatan ini juga bukan hanya sekedar tambahan
dari teks naskah, melainkan juga sebagai fungsi seperti mengoreksi bagian
kesalah teks atau sebagai materi tambahan misalnya, seperti varian dalam bacaan
Al-Qur’an tanda qiro’at, komentar terhadap teks tersebut dan yang lainnya.[2]
Sementara
itu secara etimologis, istilah interlinear
berasal dari bahasa Latin inter lineas yang berarti “di
antara baris-baris. Jadi interlinear merupakan catatan yang ditulis
diantara baris-baris teks utama. Di Jawa naskah sendiri naskah yang
diterjemahkan perbaris sering disebut jenggotan, karena terjemahannya
menyerupai jenggot dan terlihat menggantung pada teks asli. Hal ini tersebut
dikaitkan oleh masyarakat Jawa karena jenggot identik dengan orang yang tinggi
ilmunya.[3]
Dalam
tradisi terjemahan interlinear dan marginalia ini bertujuan untuk untuk
memberikan yang lebih luas, maupun itu secara gramatikal, atau terjemahan lokal. Hal ini dilakukan karena memberikan penjelasan
yang lebih luas terhadap teks pada sebuah naskah. Di kawasan Nusantara, model
interlinear berkembang kuat dalam bentuk makna gandul, yakni penerjemahan antar
baris menggunakan bahasa Jawa Pegon, Melayu Jawi, atau bahasa daerah lain
dengan aksara Arab. Bentuk ini menunjukkan bahwa mushaf tidak hanya berfungsi
sebagai media tilawah, tetapi juga sebagai sarana pedagogis dalam proses
belajar tafsir, nahwu, dan pemahaman lafaz Al-Qur’an.
Secara
metodologis, analisis marginalia dan interlinear membuka ruang pembacaan yang
lebih luas terhadap mushaf, tidak hanya sebagai artefak seni atau objek
filologis, tetapi juga sebagai dokumen sejarah intelektual. Melalui catatan
pinggir dan antarbaris, peneliti dapat menelusuri pola pembelajaran, otoritas
keilmuan, bahasa lokal yang digunakan, bahkan jejak resepsi sosial Al-Qur’an
dalam komunitas tertentu. Karena itu, marginalia dan interlinear sebaiknya
dibaca sebagai bukti aktifnya interaksi manusia dengan mushaf dalam lintasan
sejarah.
2. Sekilas Tentang Naskah
Gambar 1. Naskah A. 54a-e Banten
Naskah
yang dianalisis merupakan naskah yang berasal dari Banten namun tidak diketahui
penulisnya dan tahunnya. Kemudian didalamnya terdiri dari lima jilid, di mana
setiap jilid terdiri dari enam juz. Kondisi naskah masih cukup baik, dengan
tulisan yang dapat dibaca dengan jelas, meskipun terdapat beberapa bagian yang
terpotong akibat proses penjilidan. Naskah ini berukuran besar, dengan sampul
dan halaman berukuran 50,5 x 36 cm, sedangkan bidang teks berukuran 43 x 24 cm.
Jumlah halaman untuk masing-masing jilid adalah [a] 346, [b] 355, [c] 242, [d]
332, dan [e] 306 halaman, dengan ketebalan setiap jilid sekitar 4 cm. Kertas
yang digunakan adalah kertas Eropa berwarna coklat dan tebal dan tidak terdapat
cap kertas.
Naskah
ini merupakan naskah surat alfatihah dan al-baqarah ayat 1-4 yang mana
didalamnya terdapat tanda-tanda ayat berbentuk bundaran berwarna kuning dengan
enam titik kecil di pinggirnya. Selain itu juga pada teks ayatnya memiliki
warna yang berbeda, pada lafadz basmallah berwarna hitam sedangkan pada ayatnya
berwarna merah. Hal ini menunjukkan bisa bisa jadi pada penulisan naskahnya
tidak konsisten. Kemudian juga terdapat terjemahan antar barisnya dalam bahasa
Jawa yang ditulis dengan tinta berwarna hitam dengan gaya tulisan yang sama.
Di
sela-sela teks Al-Qur'an yang ditulis dengan tinta merah terdapat terjemahan
dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan tinta hitam. Komposisi penulisan teks
Al-Qur'an mengikuti terjemahannya, sehingga kadang-kadang terlihat berspasi
sangat renggang. Teks Al-Qur'an ditulis dalam gaya Naskhī mirip Muhaqqaq.
Terjemahan ditulis dengan gaya tulisan yang sama, dan berharakat lengkap. Tanda-tanda
tajwid dan juz ditulis dengan tinta merah, sedang tanda-tanda ayat berbentuk
bundaran berwarna kuning, dengan enam titik kecil di pinggirnya. Naskah ini
sangat lengkap, karena di samping adanya terjemahan dan tanda tajwid,
dilengkapi pula dengan ragam qirā'āt sab'ah. Tidak ada keterangan mengenai asal
naskah.
3. Penjelasan Interlinear Naskah A.54a-e
|
Terjemahan |
Ayat |
|
Utawi
sakabe puji |
اَلْحَمْدُ |
|
puji
iku kaduwe ing Allah |
لِلّٰهِ |
|
Pangeran
ing alam kabeh. |
رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ |
|
Kang
murah ing dunya, |
الرَّحْمٰنِ |
|
Kang
asih ing akherat. |
الرَّحِيْمِۙ |
|
Ratu
ingdina kiamat. |
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ |
|
Ing
tuan oge |
اِيَّاكَ |
|
ambata
nambah lan ing tuan oge |
نَعْبُد |
|
ing
tuan oge |
وَاِيَّاكَ |
|
Amba
enda tulung |
نَسْتَعِيْنُ |
|
Tuan
tuduhanna amba |
هْدِنَا |
|
Ing
dadalan, ka benar |
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ |
|
dadalan
kang tuan |
صِرَاطَ الَّذِيْنَ |
|
sugi
nikmat |
اَنْعَمْتَ |
|
ingate
wong iku kabeh, |
عَلَيْهِمْ |
|
lian
wongkang tuan bedon |
غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ |
|
Ingate
wong iku kabeh |
َلَيْهِمْ |
|
lan
lian wengkang sasar iku. |
وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ |
|
Terjemahan |
Ayat |
|
Allohu A'lam bi muroddi |
الۤمّۤ ۚ |
|
Ikilah
kitab, ojo tsakbir , ing jorone iku |
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ |
|
kang
anu nuduhken ie |
هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ |
|
ing
wongkang wedi ing allah, Wongkangkabeh iku, Ingkang gaib, lan kang anjangken
kabeh iku, ing sholat |
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ
الصَّلٰوةَ |
|
lan saking kang sun rojayqoka ing kabeh iku,
anifqoha Kabeh iku ing anbakti ing allah wengkang ing allah iku iya iku
wengkang percaya ingkang goib kaya
saking kubur lan percaya ing sawarga lan naraka lan jenengan kan
sholat lan amalandaken ing barangkang sinungan daning allah ingdalem arah
kabajikan. |
وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ |
Naskah
ini berisikan surat al fatihah ayat satu sampai tujuh, dan surat Al-Baqarah
ayat satu sampai tiga. Di dalam naskah ini, sebelum menuliskan lafadz
basmallah, penulis menulis terlebih dahulu keterangan tentang surat yang akan
di tulis, yang berisikan tentang nama surat, jumlah ayat, jumlah huruf dan
dimana surat itu di turunkan. Di dalam penulisan naskah ini, terdapat kombinasi
warna untuk penulisan ayat Al-Quran, lafadz basmallah di tulis menggunakan
tinta hitam , sedangkat ayat yang lainnyandi tulis menggunakan tinta berwarna
merah.
Selain
itu juga terdapat ruang kosong di antara teks perkatanya. Ruang ini kemungkinan
disediakan untuk diisi dengan terjemahan. Selain itu, terdapat tulisan kecil
yang terletak di antara baris teks utama dengan arah yang bervariasi; sebagian
ditulis miring, sementara sebagian lainnya lurus. Terdapat juga tulisan kecil
yang mengelilingi teks ayat, namun kami mengalami kesulitan untuk memahami
tulisan tersebut karena kurang jelas dan sulit dibaca.
Di
samping itu, terdapat tulisan berukuran kecil di antara baris terjemahan dengan
posisi yang miring. Sayangnya, kami tidak dapat menganalisis tulisan tersebut
karena ukurannya yang sangat kecil, sehingga sulit untuk dibaca dan kurang
jelas. Namun, kami meyakini bahwa tulisan tersebut merupakan teks tambahan yang
berkaitan dengan terjemahan atau teks utama.
4. Penjelasan Marginalia Naskah
Gambar 2 Marginalia A 54a fol. 2v sisi kanan, diputar 90° ke kanan
Potongan gambar di atas merupakan marginalia yang terdapat pada bagian sebelah kanan naskah. Kemudian pada tulisannya menggunakan dua warna, teks Arab menggunakan warna merah dan terjemahannya menggunakan tinta warna hitam dengan berbahasa Jawa. Pada tulisannya menjelaskan hukum washal dalam surat al-fatihah menurut imam Maki dan Kuffi. Yang mana imam Maki dan Kuffi menghitung basmallah dalam satu ayat, sehingga pada kalimat انعمت عليهم tidak dihitung satu ayat. Hal ini juga sejalan dengan riwayat imam hafs yang menghitung basmallah merupakan ayat pertama pada surat al-fatihah. Sebagaimana tulisannya berikut ini:
فواصلها اختلافها اذا وقف القاري على ايتان بسم الله الرحمن الرحيم عدها المكي والكوفي انعمت عليهم لم يعدها المكي والكوفي
Selain itu juga terdapat perbedaan
cara memnulis pada kalimat ما لك dengan menggunakan harokat fathah berdiri dan pada huruf mim
nay menggunakan alif. Dimana tulisan ini berbeda dengan tulisan mayoritas yang
digunakan di Indonesia (hafs). Selain itu juga terdapat perbedaan cara
penulisan pada kalimat صراط. Perbedaan tersebut bisa dilihat dari awal kalimat. Terdapat
empat perbedaan dalam cara membacanya sebagaimana berikut ini:
1. الصراط dengan menggunakan huruf shad dan didahului oleh huruf
alif lam.
2. السراط dengan menggunakan huruf sin dan didahului oleh huruf alif lam.
3. سراط dengan menggunakan huruf sin
tanpa menggunakan huruf alif lam.
4. صراط dengan menggunakan huruf
shad tanpa menggunakan huruf alif lam.
Pada
gambar di atas terdapat kalimat yang ditandai dengan lingkaran warna hijau.
Dimana kalimat عليهم pada gambar tersebut menggunakan harokat dhommah pada huruf ha.
Hal ini berbeda dengan bacaan yang sering digunakan di Indonesia yang
menggunakan harokat kasrah.
Gambar 3. Marginalia A 5a
Potongan
gambar di atas merupakan marginalia yang terdapat pada bagian atas naskah
tersebut dengan cara membacanya dimulai dari arah sebelah kanan ke sebelah kiri
dan alur tulisannya mengarah ke bawah. Selain itu juga pada tulisannya
menggunakan dua warna, teks Arab menggunakan warna merah dan terjemahannya
menggunakan tinta warna hitam dengan berbahasa Jawa.
Gambar 4. Marginalia A 54a fol. 2r sisi kiri, diputar 90° ke kanan.
Pada
potongan gambar di atas juga merupakan sambungan dari Gambar 2, hal
ini menunjukkan bahwa penulis naskah menulis teks marginalianya secara horizontal
menuju vertikal dikarenakan ruang pada margin halaman tidak mencukupi. Selain
itu juga terdapat tulisan warna merah yang saling berlawanan. Tulisan yang
berlawan itu berisi kalimat berikut “فواصلها وركوعها لوازمها”. Alasan tulisan
ini dibuat ke arah atas dan bawah karena kemungkinan ruang dibagian margin
terbatas. Apabila ditulis mendatar seperti tulisan yang lainnya dikhawatirkan
tidak cukup.
Potongan garmbar diatas terdapat di
sebelah bawah naskah, yang mana isi dari tulisan ini masih memiliki
ketersambungan dengan isi dari gambar-gambar sebelumnya. Tulisan marginalia di
bagian bawah ini terlihat lebih kecil dari pada tulisan marginalia yang
sebelumnya, dan tulisan ini terlihat lebih menyeret ke arah ujung halaman.
Isi
dari gambar-gambar di atas menjelaskan tentang hadist Qudsy dengan berikut ini:
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال السعيد بن
المحلى لا تحب ان اعلمك اعظم سورة في القرآن قلت بلى يا رسول الله قال الحمد لله
قال عليه الصلاة والسلام قال الله تعالى قمت الصلوة بيني وبين عبدي نصفين فاإذا
قال لعبد بسم الله الرحمن الرحيم قال الله تعالی مجدني عبدي فا إذا قال العبد
الحمد لله رب العالمين حمدنی عبدی فااذا قبال الرحمن الرحيم قال الله عز وجل اثنى
على عبدي ما اذا قال مالك يوم الدين قال الله عز وجل خوض فى عبدى ما اد ا قال اياك
نعبد واياك نستعين. قال هذا بيني وبين عبدي ما سأل ما اذا قال اهدنا الصراط
المستقيم. صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ
“Saking Resulullah saw Satuhune ngandike le ing said andde mu'ali, ero demen sira yen amuruken isun Ing sirang levi agung surat ingdalem Qur'an anu ngucap amba, he ya rasulullah ngandike rasullullah Sakabe Puji ing Allah engandike nabi ingate iku rohmat lan salam ngandike Allah kang Maha luthur, andum yun ing sholawat iku ing antar, kaula niun Saparo sewang maka tatkal a ngucap kaula iku bismillahirrohma-nirrohim engandika allah taal a Ngang gurig aken kaula nibun, maka tatkala kaula ngucap kaula iku Sakabe Puji kaduwe ing Allah Pagera ning alam kabeh engandike allah kang maha, Maka tatkala ngucap ja kang. murah ing dunya, kang asih ing akherat, engandike Allah kang mulya lan kang agun, Maka tatkala anu noucap ie ratu ing dina kiamat angandike allah kang mulya. Maka taatkaala anu ngucap ing tuan oge amba nambah lan ing tuan oge amba anda tulung. engandike allah antara isun lan antarane kaula isun lan ing kaula. Maka tatkala engandike tuan nuduhan amba ing dadalan kam bener dadalan tuan Sugi nikmat ingatase wong ikku kabeh lian Wengkang tuan benduan ingatase wong iku kabeh lan lian wengkang Sasar iku.
5. Kesimpulan
keberadaan interlinear dalam naskah A.54.a-e Banten berfungsi sebagai sarana penerjemahan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam naskah tersebut. Penerjemahan ini menggunakan bahasa Jawa yang dituliskan dengan aksara Arab Pegon. Sedangkan, marginalia dalam naskah tersebut memiliki peranan sebagai sumber pengetahuan tambahan, khususnya yang berkaitan dengan Surat Al-Fatihah. Marginalia dalam naskah tersebut memuat tentang hadist dan menguraikan adanya perbedaan pembacaan dalam beberapa kalimat dari surat Al-fatihah dan menjelaskan mengenai konsep washol. jadi, marginalia berfungsi sebagai pelengkap dalam memahami teks utama. Dengan demikian, interlinear dan marginalia dalam naskah ini saling melengkapi dalam memperkaya pemahaman pembaca terhadap isi Al-Qur’an.
[1] Zoe
Screti, “Finding the Marginal in Marginalia: The Importance of Including
Marginalia Descriptions in Catalog Entries,” Collections: A Journal for
Museum and Archives Professionals 20, no. 1 (2024): 122–41,
https://doi.org/10.1177/15501906231220976.
[2] Asma
Hilali, “Writing the Qur’ān Between the Lines: Marginal and Interlinear Notes
in Selected Qur’ān Fragments from the Museum of Islamic Art, Qatar,” in From
Scrolls to Scrolling, ed. Bradford A. Anderson (De Gruyter, 2020),
https://doi.org/10.1515/9783110634440-004.
[3] Muhammad
Dluha Luthfillah, “Tafsīr Al-Jalālayn Ber-‘Jenggot’: Naskah Tulis Pewaris
Praktik Lisan Penerjemahan Al-Qur’an Ke Bahasa Jawa,” Manuskripta 14,
no. 2 (2024): 401–52, https://doi.org/10.33656/manuskripta.v14i2.48.






