Interlinear dan Marginalia Naskah A.54a-e Banten

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Cahya Sirii Aolia
Universitas Islam Darussalam Ciamis

1. Pendahuluan

Dalam studi naskah termasuk naskah Al-Qur’an, interlinear dan marginalia merupakan bagian penting dari manuskrip, yaitu unsur-unsur yang menyertai teks utama namun berada di luar badan teks ayat. Dimana keduanya bukan hanya sekadar tulisan semata, melainkan menjadi sesuatu yang penting dan menjadi dan oembelajaran tambahan pada setaip naskah.  

Catatan pinggir atau marginalia kerap dipandang sebagai tempelan yang tidak penting terhadap teks utama. Padahal, dalam kajian naskah dan sejarah intelektual, ia merupakan jejak personal yang merekam cara pembaca memahami, menafsirkan, bahkan mengoreksi teks lintas ruang dan waktu.[1] Marginalia berfungsi sebagai bentuk tambahan penjelasan atau komentar yang diberikan oleh penyalın atau penulis naskah, tambahan tersebut tidak hanya memperkaya teks isi utama, tetapi mencerminkan juga upaya intelektual dalam menjelaskan, menafsirkan, atau mengkritisi isi pokok tafsir dan menjadi sebuah refleksi pribadi terhadap pemahaman makna yang terdapat dalam naskah. Sehingga Hadirnya catatan penanda di pinggir teks menandakan bahwa teks tafsir tidak dipahami sebagai karya yang baru, melainkan sebagai entitas dinamis yang terbuka terhadap pembacaan ulang dan penyempurnaan.

Marginalia merupakan catatan yang ditulis di bagian pinggir halaman mushaf, baik pada sisi kanan, kiri, atas, maupun bawah. Catatan ini juga bukan hanya sekedar tambahan dari teks naskah, melainkan juga sebagai fungsi seperti mengoreksi bagian kesalah teks atau sebagai materi tambahan misalnya, seperti varian dalam bacaan Al-Qur’an tanda qiro’at, komentar terhadap teks tersebut dan yang lainnya.[2]

Sementara itu secara etimologis, istilah interlinear berasal dari bahasa Latin inter lineas yang berarti “di antara baris-baris. Jadi interlinear merupakan catatan yang ditulis diantara baris-baris teks utama. Di Jawa naskah sendiri naskah yang diterjemahkan perbaris sering disebut jenggotan, karena terjemahannya menyerupai jenggot dan terlihat menggantung pada teks asli. Hal ini tersebut dikaitkan oleh masyarakat Jawa karena jenggot identik dengan orang yang tinggi ilmunya.[3]

Dalam tradisi terjemahan interlinear dan marginalia ini bertujuan untuk untuk memberikan yang lebih luas, maupun itu secara  gramatikal, atau terjemahan lokal. Hal  ini dilakukan karena memberikan penjelasan yang lebih luas terhadap teks pada sebuah naskah. Di kawasan Nusantara, model interlinear berkembang kuat dalam bentuk makna gandul, yakni penerjemahan antar baris menggunakan bahasa Jawa Pegon, Melayu Jawi, atau bahasa daerah lain dengan aksara Arab. Bentuk ini menunjukkan bahwa mushaf tidak hanya berfungsi sebagai media tilawah, tetapi juga sebagai sarana pedagogis dalam proses belajar tafsir, nahwu, dan pemahaman lafaz Al-Qur’an.

Secara metodologis, analisis marginalia dan interlinear membuka ruang pembacaan yang lebih luas terhadap mushaf, tidak hanya sebagai artefak seni atau objek filologis, tetapi juga sebagai dokumen sejarah intelektual. Melalui catatan pinggir dan antarbaris, peneliti dapat menelusuri pola pembelajaran, otoritas keilmuan, bahasa lokal yang digunakan, bahkan jejak resepsi sosial Al-Qur’an dalam komunitas tertentu. Karena itu, marginalia dan interlinear sebaiknya dibaca sebagai bukti aktifnya interaksi manusia dengan mushaf dalam lintasan sejarah.

 

2. Sekilas Tentang Naskah


Gambar 1. Naskah A. 54a-e Banten


Naskah yang dianalisis merupakan naskah yang berasal dari Banten namun tidak diketahui penulisnya dan tahunnya. Kemudian didalamnya terdiri dari lima jilid, di mana setiap jilid terdiri dari enam juz. Kondisi naskah masih cukup baik, dengan tulisan yang dapat dibaca dengan jelas, meskipun terdapat beberapa bagian yang terpotong akibat proses penjilidan. Naskah ini berukuran besar, dengan sampul dan halaman berukuran 50,5 x 36 cm, sedangkan bidang teks berukuran 43 x 24 cm. Jumlah halaman untuk masing-masing jilid adalah [a] 346, [b] 355, [c] 242, [d] 332, dan [e] 306 halaman, dengan ketebalan setiap jilid sekitar 4 cm. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa berwarna coklat dan tebal dan tidak terdapat cap kertas.

Naskah ini merupakan naskah surat alfatihah dan al-baqarah ayat 1-4 yang mana didalamnya terdapat tanda-tanda ayat berbentuk bundaran berwarna kuning dengan enam titik kecil di pinggirnya. Selain itu juga pada teks ayatnya memiliki warna yang berbeda, pada lafadz basmallah berwarna hitam sedangkan pada ayatnya berwarna merah. Hal ini menunjukkan bisa bisa jadi pada penulisan naskahnya tidak konsisten. Kemudian juga terdapat terjemahan antar barisnya dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan tinta berwarna hitam  dengan gaya tulisan yang sama.

Di sela-sela teks Al-Qur'an yang ditulis dengan tinta merah terdapat terjemahan dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan tinta hitam. Komposisi penulisan teks Al-Qur'an mengikuti terjemahannya, sehingga kadang-kadang terlihat berspasi sangat renggang. Teks Al-Qur'an ditulis dalam gaya Naskhī mirip Muhaqqaq. Terjemahan ditulis dengan gaya tulisan yang sama, dan berharakat lengkap. Tanda-tanda tajwid dan juz ditulis dengan tinta merah, sedang tanda-tanda ayat berbentuk bundaran berwarna kuning, dengan enam titik kecil di pinggirnya. Naskah ini sangat lengkap, karena di samping adanya terjemahan dan tanda tajwid, dilengkapi pula dengan ragam qirā'āt sab'ah. Tidak ada keterangan mengenai asal naskah.

 

3. Penjelasan Interlinear Naskah A.54a-e


Terjemahan

Ayat

Utawi sakabe puji

اَلْحَمْدُ

puji iku kaduwe ing Allah

لِلّٰهِ

Pangeran ing alam kabeh.

رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Kang murah ing dunya,

الرَّحْمٰنِ

Kang asih ing akherat.

الرَّحِيْمِۙ

Ratu ingdina kiamat.

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

Ing tuan oge

اِيَّاكَ

ambata nambah lan ing tuan oge

نَعْبُد

ing tuan oge

وَاِيَّاكَ

Amba enda tulung

نَسْتَعِيْنُ

Tuan tuduhanna amba

هْدِنَا

Ing dadalan, ka benar

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

dadalan kang tuan

صِرَاطَ الَّذِيْنَ

sugi nikmat

اَنْعَمْتَ

ingate wong iku kabeh,

عَلَيْهِمْ

lian wongkang tuan bedon

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ

Ingate wong iku kabeh

َلَيْهِمْ

lan lian wengkang sasar iku.

وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

 

Terjemahan

Ayat

 Allohu A'lam bi muroddi

الۤمّۤ ۚ

Ikilah kitab, ojo tsakbir , ing jorone iku

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ

kang anu nuduhken ie

هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

ing wongkang wedi ing allah, Wongkangkabeh iku, Ingkang gaib, lan kang anjangken kabeh iku, ing sholat

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ

 lan saking kang sun rojayqoka ing kabeh iku, anifqoha Kabeh iku ing anbakti ing allah wengkang ing allah iku iya iku wengkang percaya ingkang goib kaya   saking kubur lan percaya ing sawarga lan naraka lan jenengan kan sholat lan amalandaken ing barangkang sinungan daning allah ingdalem arah kabajikan.

وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

 

Naskah ini berisikan surat al fatihah ayat satu sampai tujuh, dan surat Al-Baqarah ayat satu sampai tiga. Di dalam naskah ini, sebelum menuliskan lafadz basmallah, penulis menulis terlebih dahulu keterangan tentang surat yang akan di tulis, yang berisikan tentang nama surat, jumlah ayat, jumlah huruf dan dimana surat itu di turunkan. Di dalam penulisan naskah ini, terdapat kombinasi warna untuk penulisan ayat Al-Quran, lafadz basmallah di tulis menggunakan tinta hitam , sedangkat ayat yang lainnyandi tulis menggunakan tinta berwarna merah.

Selain itu juga terdapat ruang kosong di antara teks perkatanya. Ruang ini kemungkinan disediakan untuk diisi dengan terjemahan. Selain itu, terdapat tulisan kecil yang terletak di antara baris teks utama dengan arah yang bervariasi; sebagian ditulis miring, sementara sebagian lainnya lurus. Terdapat juga tulisan kecil yang mengelilingi teks ayat, namun kami mengalami kesulitan untuk memahami tulisan tersebut karena kurang jelas dan sulit dibaca.

Di samping itu, terdapat tulisan berukuran kecil di antara baris terjemahan dengan posisi yang miring. Sayangnya, kami tidak dapat menganalisis tulisan tersebut karena ukurannya yang sangat kecil, sehingga sulit untuk dibaca dan kurang jelas. Namun, kami meyakini bahwa tulisan tersebut merupakan teks tambahan yang berkaitan dengan terjemahan atau teks utama.

 

4. Penjelasan Marginalia Naskah

 


Gambar 2 Marginalia A 54a fol. 2v sisi kanan, diputar 90° ke kanan

 

Potongan gambar di atas merupakan marginalia yang terdapat pada bagian sebelah kanan naskah. Kemudian pada tulisannya menggunakan dua warna, teks Arab menggunakan warna merah dan terjemahannya menggunakan tinta warna hitam dengan berbahasa Jawa. Pada tulisannya menjelaskan hukum washal dalam surat al-fatihah menurut imam Maki dan Kuffi. Yang mana imam Maki dan Kuffi menghitung basmallah dalam satu ayat, sehingga pada kalimat انعمت عليهم tidak dihitung satu ayat. Hal ini juga sejalan dengan riwayat imam hafs yang menghitung basmallah merupakan ayat pertama pada surat al-fatihah. Sebagaimana tulisannya berikut ini:

فواصلها اختلافها اذا وقف القاري على ايتان بسم الله الرحمن الرحيم عدها المكي والكوفي انعمت عليهم لم يعدها المكي والكوفي 

Selain itu juga terdapat perbedaan cara memnulis pada kalimat ما لك dengan menggunakan harokat fathah berdiri dan pada huruf mim nay menggunakan alif. Dimana tulisan ini berbeda dengan tulisan mayoritas yang digunakan di Indonesia (hafs). Selain itu juga terdapat perbedaan cara penulisan pada kalimat صراط. Perbedaan tersebut bisa dilihat dari awal kalimat. Terdapat empat perbedaan dalam cara membacanya sebagaimana berikut ini:

1.     الصراط dengan menggunakan huruf shad dan didahului oleh huruf alif lam.

2.     السراط dengan menggunakan huruf sin dan didahului oleh huruf alif lam.

3.     سراط dengan menggunakan huruf sin  tanpa menggunakan huruf alif lam.

4.     صراط  dengan menggunakan huruf shad tanpa menggunakan huruf alif lam.

 


Pada gambar di atas terdapat kalimat yang ditandai dengan lingkaran warna hijau. Dimana kalimat عليهم pada gambar tersebut menggunakan harokat dhommah pada huruf ha. Hal ini berbeda dengan bacaan yang sering digunakan di Indonesia yang menggunakan harokat kasrah.

 


Gambar 3.  Marginalia A 5a

 

Potongan gambar di atas merupakan marginalia yang terdapat pada bagian atas naskah tersebut dengan cara membacanya dimulai dari arah sebelah kanan ke sebelah kiri dan alur tulisannya mengarah ke bawah. Selain itu juga pada tulisannya menggunakan dua warna, teks Arab menggunakan warna merah dan terjemahannya menggunakan tinta warna hitam dengan berbahasa Jawa.

 


Gambar 4. Marginalia A 54a fol. 2r sisi kiri, diputar 90° ke kanan.

 

Pada potongan gambar di atas juga merupakan sambungan dari Gambar 2, hal ini menunjukkan bahwa penulis naskah menulis teks marginalianya secara horizontal menuju vertikal dikarenakan ruang pada margin halaman tidak mencukupi. Selain itu juga terdapat tulisan warna merah yang saling berlawanan. Tulisan yang berlawan itu berisi kalimat berikut  فواصلها وركوعها لوازمها”. Alasan tulisan ini dibuat ke arah atas dan bawah karena kemungkinan ruang dibagian margin terbatas. Apabila ditulis mendatar seperti tulisan yang lainnya dikhawatirkan tidak cukup.





Gambar 5. Marginalia A 54a

Potongan garmbar diatas terdapat di sebelah bawah naskah, yang mana isi dari tulisan ini masih memiliki ketersambungan dengan isi dari gambar-gambar sebelumnya. Tulisan marginalia di bagian bawah ini terlihat lebih kecil dari pada tulisan marginalia yang sebelumnya, dan tulisan ini terlihat lebih menyeret ke arah ujung halaman.

Isi dari gambar-gambar di atas menjelaskan tentang hadist Qudsy dengan  berikut ini:

عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال السعيد بن المحلى لا تحب ان اعلمك اعظم سورة في القرآن قلت بلى يا رسول الله قال الحمد لله قال عليه الصلاة والسلام قال الله تعالى قمت الصلوة بيني وبين عبدي نصفين فاإذا قال لعبد بسم الله الرحمن الرحيم قال الله تعالی مجدني عبدي فا إذا قال العبد الحمد لله رب العالمين حمدنی عبدی فااذا قبال الرحمن الرحيم قال الله عز وجل اثنى على عبدي ما اذا قال مالك يوم الدين قال الله عز وجل خوض فى عبدى ما اد ا قال اياك نعبد واياك نستعين. قال هذا بيني وبين عبدي ما سأل ما اذا قال اهدنا الصراط المستقيم. صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ

 

Saking Resulullah saw Satuhune ngandike le ing said andde mu'ali, ero demen sira yen amuruken isun Ing sirang levi agung surat ingdalem Qur'an anu ngucap amba, he ya rasulullah ngandike rasullullah Sakabe Puji ing Allah engandike nabi ingate iku rohmat lan salam ngandike Allah kang Maha luthur, andum yun ing sholawat iku ing antar, kaula niun Saparo sewang maka tatkal a ngucap kaula iku bismillahirrohma-nirrohim engandika allah taal a Ngang gurig aken kaula nibun, maka tatkala kaula ngucap kaula iku Sakabe Puji kaduwe ing Allah Pagera ning alam kabeh engandike allah kang maha, Maka tatkala ngucap ja kang. murah ing dunya, kang asih ing akherat, engandike Allah kang mulya lan kang agun, Maka tatkala anu noucap ie ratu ing dina kiamat angandike allah kang mulya. Maka taatkaala anu ngucap ing tuan oge amba nambah lan ing tuan oge amba anda tulung. engandike allah antara isun lan antarane kaula isun lan ing kaula. Maka tatkala engandike tuan nuduhan amba ing dadalan kam bener dadalan tuan Sugi nikmat ingatase wong ikku kabeh lian Wengkang tuan benduan ingatase wong iku kabeh lan lian wengkang Sasar iku.

5. Kesimpulan

keberadaan interlinear dalam naskah A.54.a-e Banten berfungsi sebagai sarana penerjemahan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam naskah tersebut. Penerjemahan ini menggunakan bahasa Jawa yang dituliskan dengan aksara Arab Pegon. Sedangkan, marginalia dalam naskah tersebut memiliki peranan sebagai sumber pengetahuan tambahan, khususnya yang berkaitan dengan Surat Al-Fatihah. Marginalia dalam naskah tersebut memuat tentang hadist dan menguraikan adanya perbedaan pembacaan dalam beberapa kalimat dari surat Al-fatihah dan menjelaskan mengenai konsep washol. jadi, marginalia berfungsi sebagai pelengkap dalam memahami teks utama. Dengan demikian, interlinear dan marginalia dalam naskah ini saling melengkapi dalam memperkaya pemahaman pembaca terhadap isi Al-Qur’an.



[1] Zoe Screti, “Finding the Marginal in Marginalia: The Importance of Including Marginalia Descriptions in Catalog Entries,” Collections: A Journal for Museum and Archives Professionals 20, no. 1 (2024): 122–41, https://doi.org/10.1177/15501906231220976.

[2] Asma Hilali, “Writing the Qur’ān Between the Lines: Marginal and Interlinear Notes in Selected Qur’ān Fragments from the Museum of Islamic Art, Qatar,” in From Scrolls to Scrolling, ed. Bradford A. Anderson (De Gruyter, 2020), https://doi.org/10.1515/9783110634440-004.

[3] Muhammad Dluha Luthfillah, “Tafsīr Al-Jalālayn Ber-‘Jenggot’: Naskah Tulis Pewaris Praktik Lisan Penerjemahan Al-Qur’an Ke Bahasa Jawa,” Manuskripta 14, no. 2 (2024): 401–52, https://doi.org/10.33656/manuskripta.v14i2.48.


Baca juga:
Labels : #alquran ,#banten ,#manuskrip ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar