Oleh: Syifa Siti Luthfiah
Mahasiswa Prodi IAT Universitas Islam Darussalam Ciamis
1. Pendahuluan
Di balik lembar-lembar kertas yang menguning dan tinta yang mulai memudar, tersimpan khazanah ilmu yang tak ternilai. Naskah Yapena KBN 189 adalah salah satu dari sekian banyak peninggalan budaya tulis Islam di Nusantara yang layak dikaji secara mendalam.
Naskah ini merupakan peninggalan dari abad ke-20 yang ditemukan di Bandung, Jawa Barat. Manuskrip Al-Qur’an ini terdaftar dalam katalog DREAMSEA dengan nomor DS 0029 00395 dan kode shelf mark KBN 189. Ukurannya 16,5 x 11 cm dengan bidang tulisan 14 x 10 cm, menjadikannya naskah berukuran sedang yang mudah dibawa, dan tercatat berasal dari tangan seorang bernama Anda bin Madkasih dari kampung Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.
Berkat kerja sama antara Hill Museum & Manuscript
Library (HMML) dan Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in
Southeast Asia (DREAMSEA), naskah ini kini telah terdigitalisasi dan bisa
diakses oleh siapa saja dari seluruh penjuru dunia. Sebuah langkah kecil yang
berarti besar bagi pelestarian khazanah Islam Nusantara.
Gambar 1. Foto Naskah KBN 189 Surah Al-Fatihah (DREAMSEA)
2. Kondisi Fisik dan Isi Naskah
Naskah KBN 189 hanya terdiri dari sembilan
halaman dalam satu jilid, seluruhnya ditulis dengan tinta hitam. Meski keadaan
kertasnya sudah menguning dan jilidnya mulai kendur, tulisan di dalamnya masih
cukup terbaca. Kondisi ini menunjukkan bahwa naskah ini pernah dirawat dan
digunakan secara aktif.
Ada satu detail menarik yang mencolok dari
naskah ini; penomoran halaman tidak ditulis bersamaan dengan teks utamanya.
Nomor-nomor itu ditambahkan belakangan, menggunakan tinta yang berbeda.
Artinya, ada tangan lain yang pernah memegang dan mengelola naskah ini setelah
selesai disalin, sebuah petunjuk kecil tentang Riwayat Panjang yang menyertai
keberadaannya.
Dari sisi isi, naskah ini memuat 14 surah pendek dari juz 30, diawali dengan al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah-surah pendek seperti al-Ikhlas, al-Falaq, dan al-Nas. Mengingat isinya yang tidak lengkap, besar kemungkinan naskah ini hanyalah potongan dari mushaf yang lebih besar yang kini sudah tidak utuh.
3. Rasm Usmani dan Vernakularisasi Teks Suci
Salah satu temuan paling menarik dari
naskah ini adalah system penulisannya. Alih-alih mengikuti kaidah baku Rasm Usmani
yang menjadi standar mushaf resmi, naskah KBN 189 menggunakan sistem imlā'ī, yaitu
penulisan yang lebih mengutamakan representasi bunyi. Setiap huruf ditulis
secara lengkap tanpa mengikuti konvensi penghilangan yang lazim dalam tradisi
mushaf kanonik.
Fenomena ini mencerminkan proses vernakularisasi
teks suci dalam konteks lokal. Di banyak wilayah non-Arab, sering ditemukan
kecenderungan menyederhanakan sistem ortografi demi kepentingan pedagogis.
Manuskrip ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transmisi teks, melainkan juga
sebagai alat adaptasi linguistik yang menjembatani bahasa Arab klasik dengan
kompetensi pembaca lokal.
Keberadaan harakat yang relatif lengkap termasuk
fathah, kasrah, dhammah, mad dan tasydid mengindikasikan fungsi didaktik naskah
ini. Kelengkapan harakat lazim ditemukan pada naskah yang digunakan untuk
keperluan pengajaran dasar Al-Qur’an, dimana akurasi pelafalan menjadi
prioritas utama.
Dalam naskah KBN tidak ditemukan tanda waqaf selain lingkaran dan titik yang menandai ayat, sedangkan dalam Qur’an cetak setelah bagian الحمد لله رب العلمين terdapat tanda waqf (لا) atau la waqfa fiih begitupun setelah الرحمن الرحيم dan اهدنا الصراط المستقيم sedangkan diantara عليهمdengan غير المغضوب terdapat tanda waqaf yang sama namun disertai tanda waru atau hati (ەۙ) yang menandakan adanya perbedaan perhitungan ayat di kalangan ahli qiraat tanda tersebut untuk selain al-Kufiyyun (Imam ‘Ashim, Hamzah, dan al-Kisa’i) menganggap sebagai akhir ayat.
4. Kesalahan Penulisan Sebagai Bukti Kemanusiaan Penyalin
Kajian tektualitas naskah ini juga mengungkap sejumlah kekeliruan penulisan yang justru menjadi bukti otentisitas naskah sebagai produk tangan manusia. Seperti halnya pada kata (اِيَّاكَ) dalam surah al-Fatihah ayat 5 huruf (ك) dalam naskah KBN 189 ditulis terbalik. Kemudian pada kata (رِحْلَةَ الشِّتَاۤء) pada surah al-Quraisy ayat 2 pada naskah KBN 189 disana penulisan kata (الشِّتَاۤء) begitu rancu.
Kemudian pada kata (فِيْ تَضْلِيْلٍۙ) dalam surah al-Fiil ayat 2 dalam naskah KBN 189 terdapat penghilangan huruf (ي) entah karena tertinggal atau memang disengaja. Kemudian pada kata (اَخْلَدَهٗۚ) pada surah al-Humazah ayat 3 pada naskah KBN 189 disana huruf (خ) tidak diberi titik, menyebabkan penulisan terlihat seperti huruf (ح) dan tidak terdapat huruf (ه) di ujung kalimatnya, menyebabkan kalimatnya tidak sempurna.
Kekeliruan-kekeliruan ini kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan kompetensi penyalin, proses penyalinan manual yang rentan kesalahan, atau pengaruh tradisi lisan dalam pembacaan Al-Qur’an. Bagaimanapun, naskah KBN 189 menjadi saksi bisu bahwa transmisi Al-Qur’an di Nusantara berlangsung secara dinamis, melibatkan interpretasi dan praktik lokal yang kaya dan beragam.
Dengan segala kekurangan dan keunikannya, naskah Yapena KBN 189 bukan sekadar artefak kuno yang patut disimpan. Ia adalah cermin dari tradisi intelektual Islam di Jawa Barat yang terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan konteks masyarakatnya. Upaya digitalisasi yang dilakukan oleh DREAMSEA dan HMML patut diapresiasi sebagai langkah nyata dalam melestarikan warisan peradaban Islam Nusantara untuk generasi mendatang

