1. Pendahuluan
Seiring
berjalannya waktu Sslam telah menyebar di seluruh penjuru dunia. Dengan
penyebarannya ini ajaran Islam pun dibutuhkan, sehingga menjadikan al-Qur'an
sebagai pedoman untuk mengatur segala urusan yang berkaitan dengan ajaran ataupun
aturan yang berlaku.
Namun,
penggunaan bahasa dalam al-Qur’an yaitu bahasa Arab menjadi halangan tertentu
bagi sebagian muslim yang bukan asli penutur Arab. Oleh sebab itu, muncullah
sebuah usaha untuk menerjemahkan al-Qur'an sebagai kebutuhan untuk para muslim
di wilayah tertentu untuk memahami pesan atau maksud dari ayat al-Qur'an.
Proses
terjemahan al-Qur'an ini tentunya berkaitan dengan bahasa, yang mana melibatkan
perubahan bentuk kata dari satu bahasa ke bahasa yang lain atau dari teks
tulisan asli ke teks tulisan target bahasa yang dituju. [1]
Dalam
hal ini memunculkan beberapa pertanyaan, sejauh mana sebuah terjemahan mampu
mempertahankan makna asli dari teks suci (al-Qur'an) yang dimiliki karena dari
segi aspek linguistik dan konteks budaya setiap wilayah memiliki perbedaan.
Hal
ini karena setiap bahasa yang digunakan dalam al-Qur'an bukan hanya berfungsi
sebagai alat komunikasi antara Tuhan dan hambanya, melainkan juga untuk
membentuk cara pandang dan pemahaman seseorang terhadap realitas mengenai makna
wahyu yang diturunkan.
Secara
dalam terjemahan ada yang disebut Word-for-Word ( terjemahan dari kata
ke kata) dan Sense-for-Sense (terjemahan dari makna ke makna). [2]
Namun, ada beberapa terjemahan ini menjadikan bahasa tidak bersifat netral,
dengan berbagai perspektif cara memahami makna (terjemahan) yang berbeda-beda.
Oleh
karena itu, oleh karena itu proses penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata
dari satu bahasa ke bahasa yang lain melainkan ada sesuatu yang lebih dalam
lagi yaitu proses interpretasi makna tergantung keterbatasan bahasa penerima.
2. Penerjemahan Al-Qur'an dan Keterbatasan Bahasa
![]() |
| Edward Sapir Source: Pinterest |
![]() |
| Benjamin Lee Whorf Source: Pinterest |
Lebih
jauh lagi bahasa sebagai kata kunci yang dipahami sebagai alat yang bisa
mempengaruhi sebuah terjemahan dari segi ideologi maupun politik. Terjemahan
al-Qur’an sendiri ada tiga tipe ketika melakukan penerjemahan secara
perorangan, swasta dan pemerintahan.
Dan
jika kita lihat hasil semua produk terjemahan al-Qur’an ada pengaruh dari
ideologi dan politik tertentu. Namun untungnya seiring berkembangnya
intelektual dan studi tentang penerjemahan semua unsur tersebut mencoba untuk
dihilangkan.
Hal
ini sebagai bentuk usaha manusia agar benar-benar bisa memahami wahyu yang diturunkan
tanpa ada campur tangan maksud manusia apa pun. Dan pandangan ini sejalan
dengan hipotesis Sapir-Whorf yang disebut Linguistic Relativity.[3]
3. Hipotesis Sapir-Whorf dan Relativitas Bahasa
Dalam
artikelnya Paul Kay dan Willet Kempton untuk memahami hipotesis ini menjadi
beberapa bagian. Yang pertama, perbedaan struktur antar bahasa akan diikuti
oleh perbedaan acara berpikir(kognisi) non bahasa dan penuturnya.
Hipotesis
yang kedua, struktur bahasa ibu sangat mempengaruhi pandangan memahami dunia (worldview)
yang didapat seseorang ketika
mempelajari bahasa tersebut. Dan
hipotesis yang terakhir mengenai sistem makna (semantik) pada berbagai bahasa
di dunia dapat berbeda-beda tanpa batasan. [4]
Secara
sederhananya dijelaskan dalam suatu eksperimen mengenai warna, yang mana konsep
eksperimen ini adalah membandingkan dua penutur bahasa yang berbeda. Seperti
penutur bahasa Inggris dengan penutur bahasa Tarahumara (bahasa suku asli
Meksiko).
Secara
ketika bahasa Inggris membedakan antara warna biru (blue) dan hijau (green)
sedangkan Tarahumara menjadikan dua warna tersebut menjadi satu yakni Siyóname
yang berarti hijau atau biru saja.
Sejalan
ketika menerjemahkan al-Qur'an bahasa Arab sebagai bahasa kompleks dari segi
linguistiknya ketika diterjemahkan ke bahasa lain ada keterbatasan dalam
memahami tatanan bahasa Arab tersebut. [5]
![]() |
| Source: Pinterest |
4. Film Arrival dan Ilustrasi Relativitas Bahasa
Konsep
ini dapat dilihat secara ilustratif dalam film Arrival (2016) karya
Denis Villeneuve yang mengisahkan tentang datangnya makhluk asing yang disebut
Alien datang ke bumi yang diduga ingin menyatakan perang.
Namun,
sebelum terjadinya Perang antara dua belah pihak tersebut seorang ahli
linguistik bernama Loire Banks mencoba untuk memahami bahasa mereka karena
ditakutkan ada kesalahpahaman antara pihak manusia dan pihak makhluk asing.
Dan terbukti benar bahwa makhluk asing tersebut hanya ingin menawarkan senjata berupa “bahasa” yang bernama Heptapod, bahasa yang digunakan Alien untuk berkomunikasi dengan manusia seperti diceritakan di awal tadi.
![]() |
| Source: Pinterest |
Kelebihan
ketika kita menguasai bahasa ini adalah seseorang akan memahami tiga dimensi
waktu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Sedangkan manusia hanya berfokus
pada satu waktu yaitu masa sekarang. [6]
Film
ini sejalan dengan hipotesis Sapir-Whorf yang menyatakan bahwa bahasa dapat
mempengaruhi cara manusia memahami dunia. Meskipun Arrival ini bersifat fiksi
ilmiah, tetapi ini memberikan gambaran menarik bahwa perbedaan bahasa dapat
mempengaruhi perbedaan cara berpikir dan memaknai pengalaman.
5. Kesimpulan
Dengan
demikian, proses penerjemahan tidak dapat dipahami sebagai sekadar penggantian kata
melainkan juga perpindahan makna dari satu kerangka ke kerangka yang lain. Dan
tentunya, persoalan ini akan jauh lebih mendalam dan kompleks ketika diterapkan
dalam penerjemahan al-Qur’an. Hal itu karena al-Qur'an tidak hanya membuat
informasi, nilai ataupun ajaran, tetapi juga konsep dan pandangan dunia yang
lahir dari struktur bahasa Arab itu sendiri.
6. Daftar Pustaka
Carruthers,
Anne. “Temporality, Reproduction and the Not-Yet in Denis Villeneuve’s Arrival.”
Film-Philosophy 22, no. 3 (2018).
Kay,
Paul, dan Willett Kempton. “What Is the Sapir-Whorf Hypothesis?” American
Anthropologist,
86,
no. 1 (1984): 65–79.
Munday,
Jeremy, Sara Ramos Pinto, dan Jacob Blakesley. Introducing Translation Studies:
Theories
and Applications. 5th ed. London: Routledge, 2022.
[1] Jeremy Munday,
Sara Ramos Pinto, dan Jacob Blakesley, Introducing Translation Studies:
Theories and Applications, 5th ed. (London: Routledge, 2022), 8.
[2] Ibid.,
26.
[4] Paul Kay dan
Willett Kempton, “What Is the Sapir-Whorf Hypothesis?,” American Anthropologist,
86, no. 1 (Maret 1984): 66.
[5] Ibid.,
68.
[6] Anne
Carruthers, “Temporality, Reproduction and the Not-Yet in Denis Villeneuve’s
Arrival,” Film-Philosophy 22, no. 3 (2018): 322.



