Mereka Menerjemahkan, Mereka Mengendalikan: Orientalisme Spanyol dan Pembajakan Makna Al-Qur’an

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Elyana Zulfa Fauziah
Universitas Islam Darussalam Ciamis

1. Pendahuluan

Penerjemahan Al-Qur’an ke berbagai bahasa dunia telah berjalan selama berabad-abad. Meski demikian, proses alih bahasa ini tidak pernah murni bebas dari nilai. Sudut pandang dan agenda penerjemah sangat memengaruhi pemilihan kosakata yang dipakai. Akibatnya, konstruksi makna dan pemahaman pembaca terhadap isi bacaan ikut berubah. Fenomena tersebut turut mewarnai Al-Qur’an terjemahan bahasa Spanyol (Baihaki, 2017 hlm, 22).

Esai ini berargumen bahwa terjemahan Al-Qur’an berbahasa Spanyol yang berakar dari tradisi penerjemahan non-Muslim Barat secara konsisten mengandung bias orientalisme baik dalam pilihan diksi, pembingkaian narasi, maupun penghilangan konteks yang berdampak pada distorsi pemahaman Islam di kalangan masyarakat berbahasa Spanyol.

2. Pembahasan

Tonggak awal penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa Latin ditancapkan pada 1143 M oleh seorang rohaniwan Kristen, Robert of Ketton, yang bekerja atas mandat langsung dari Petrus yang Terhormat, pemimpin berpengaruh Gereja Katolik Roma. Proyek ini sejak awal tidak diniatkan sebagai jembatan dialog antaragama, melainkan lahir di tengah berkecamuknya Perang Salib yang sarat kepentingan politik dan teologis.

Sikap permusuhan itu tercermin jelas pada judulnya, Lex Mahumet pseudoprophete, yang secara eksplisit menyebut Muhammad sebagai nabi palsu. Pilihan judul tersebut bukan sekadar ungkapan akademis, melainkan pernyataan sikap yang menempatkan Al-Qur’an sebagai teks yang perlu dibantah, bukan dipahami (Sakinah & Mubarik, 2024, hlm 55).

 

 

Foto Terjemahan Latin Karya Robert of Ketton


Perang Salib bukan sekadar perang agama di baliknya tersimpan kepentingan yang jauh lebih kompleks. Ambisi merebut kembali Yerusalem memang menjadi pemantik utama, namun konfrontasi antara pasukan Kristen Eropa dan umat Muslim itu juga digerakkan oleh kalkulasi politik, perebutan sumber daya ekonomi, dan persaingan penguasaan wilayah yang saling tumpang tindih.

Pilihan kata dalam judul karya Robert of Ketton bukan kebetulan, istilah “pseudoprophete” adalah pernyataan teologis yang sengaja ditempatkan untuk menolak legitimasi kenabian Muhammad SAW sejak baris pertama. Proyek ini tidak pernah diniatkan untuk memahami Islam secara adil; ia dirancang justru untuk meruntuhkan otoritas Al-Qur’an di hadapan pembaca Barat dengan mengemas penolakan itu dalam bungkus karya ilmiah.

Dalam konteks Perang Salib, terjemahan ini memiliki fungsi yang sangat spesifik: memetakan cara berpikir musuh. Teks Latin Ketton diproduksi bukan untuk dialog, melainkan sebagai senjata intelektual bagi para teolog Kristen yang tengah mencari celah argumentatif untuk membantah ajaran Islam. Dengan demikian, proyek ini sejak awal adalah bentuk perlawanan yang dibungkus dalam jubah penerjemahan.

Beberapa abad setelah Robert of Ketton menyelesaikan karyanya, naskah Latin yang semula hanya beredar dalam lingkaran terbatas itu mendapatkan jangkauan yang jauh lebih luas. Pada 1543, sarjana Swiss Theodore Bibliander menerbitkan ulang teks tersebut di Basel, salah satu pusat intelektual Eropa kala itu, dan menjadikannya dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas (Faizin, 2011, hlm, 142).

Namun penerbitan ini bukan sekadar reproduksi. Bibliander turut menyuntingnya dengan menambahkan catatan-catatan tepi yang semakin mempertebal bias teologis teks aslinya. Label lex carnalis yang ia sisipkan di pinggir halaman menjadi bukti bahwa distorsi makna bukan warisan yang ia koreksi, melainkan tradisi yang ia pilih untuk dilestarikan dan diperkuat.

 

Theodore Bibliander


Dalam Orientalism (1978), Edward Said menguraikan bagaimana Barat secara sistematis membangun citra tentang dunia Timur bukan sebagai upaya pemahaman yang netral, melainkan sebagai mekanisme dominasi. Ia tumbuh dari ketimpangan relasi kuasa yang menempatkan Barat sebagai pihak yang mendefinisikan, sementara Timur tidak diberi ruang untuk berbicara atas namanya sendiri (Said, 1978).

Akibatnya, Timur kerap digambarkan sebagai entitas yang eksotis, irasional, dan pasif selalu menjadi objek yang membutuhkan "penafsiran" dari luar dirinya sendiri. Representasi semacam ini bukan sekadar kesalahan persepsi, melainkan konstruksi yang disengaja demi melanggengkan supremasi epistemik Barat, yang dalam konteks penerjemahan Al-Qur’an bekerja secara halus lewat pilihan diksi dan pembingkaian narasi.

Orientalisme tidak selalu bekerja secara kasar dan terang-terangan, justru kekuatannya terletak pada cara kerjanya yang senyap. Dalam ranah penerjemahan teks keagamaan, bias itu menyusup lewat hal-hal yang tampak teknis: pemilihan padanan kata dan penambahan catatan penjelas.

Melalui dua instrumen sederhana ini, penerjemah Barat sesungguhnya memegang kendali penuh atas bagaimana Islam akan dipersepsikan pembacanya. Hasilnya adalah terjemahan yang secara lahiriah terlihat ilmiah, namun secara substantif telah bergeser jauh dari cara umat Muslim memahami teks suci mereka sendiri.

Pola pembingkaian subjektif ini bukan fenomena baru, akarnya dapat dilacak hingga abad pertengahan. Warisan intelektual Theodore Bibliander menjadi salah satu mata rantai paling awal dalam sejarah panjang orientalisme penerjemahan Al-Qur’an. Pengaruh metodologisnya turut membentuk karakteristik terjemahan Al-Qur’an berbahasa Spanyol.

Bukti konkret bias ideologis ini tampak pada Surah An-Nisa ayat 3, yang berbunyi:

 

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

 

Yang memiliki arti: “...maka nikahilah perempuan yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” Ayat ini diturunkan dalam konteks perlindungan terhadap hak-hak anak yatim. Di dalamnya terdapat prasyarat mutlak bagi pria, yaitu kewajiban berlaku adil.

Burman (2007) mengungkapkan bahwa Robert of Ketton secara sadar memilih mengabaikan prinsip keadilan yang menjadi inti Surah An-Nisa ayat 3. Alih-alih menyampaikan syarat moral yang melekat pada ayat tersebut, terjemahan Latinnya justru menonjolkan angka jumlah istri semata. Penghilangan dimensi etis ini bukan kelalaian, melainkan pilihan ideologis yang disengaja.

Bibliander kemudian memperparah distorsi ini dengan menyisipkan anotasi lex carnalis di pinggir halaman cetakannya, sebuah label yang secara terang-terangan membingkai hukum pernikahan Islam sebagai legitimasi nafsu belaka. Konstruksi naratif ini secara efektif mengubur nilai keadilan universal yang sesungguhnya menjadi landasan ayat tersebut (Burman, 2007, hlm 150).

Dampak dari bias penerjemahan ini memiliki efek domino yang melampaui batas halaman buku. Di lanskap sosiologis negara-negara berbahasa Spanyol, di mana populasi Muslim sering kali menjadi minoritas, terjemahan Al-Qur’an bukan sekadar teks keagamaan, melainkan satu-satunya jembatan epistemologis (ilmu pengetahuan) bagi masyarakat awam untuk bersentuhan dengan Islam.

Ketika jembatan ini dibangun di atas fondasi diksi yang bias dengan mengaburkan prinsip keadilan universal, kesetaraan gender, dan elastisitas konteks sosial di dalamnya, maka potret Islam yang sampai ke benak publik adalah sebuah karikatur yang cacat. Islam akhirnya dipersepsikan sebagai entitas yang asing, kaku, dan anakronis (tidak sesuai zaman) terhadap nilai-nilai kemanusiaan modern.

Yang memiliki arti: “...maka nikahilah perempuan yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” Ayat ini diturunkan dalam konteks perlindungan terhadap hak-hak anak yatim. Di dalamnya terdapat prasyarat mutlak bagi pria, yaitu kewajiban berlaku adil.

Burman (2007) mengungkapkan bahwa Robert of Ketton secara sadar memilih mengabaikan prinsip keadilan yang menjadi inti Surah An-Nisa ayat 3. Alih-alih menyampaikan syarat moral yang melekat pada ayat tersebut, terjemahan Latinnya justru menonjolkan angka jumlah istri semata. Penghilangan dimensi etis ini bukan kelalaian, melainkan pilihan ideologis yang disengaja.

Bibliander kemudian memperparah distorsi ini dengan menyisipkan anotasi lex carnalis di pinggir halaman cetakannya, sebuah label yang secara terang-terangan membingkai hukum pernikahan Islam sebagai legitimasi nafsu belaka. Konstruksi naratif ini secara efektif mengubur nilai keadilan universal yang sesungguhnya menjadi landasan ayat tersebut (Burman, 2007, hlm 150).

Dampak dari bias penerjemahan ini memiliki efek domino yang melampaui batas halaman buku. Di lanskap sosiologis negara-negara berbahasa Spanyol, di mana populasi Muslim sering kali menjadi minoritas, terjemahan Al-Qur’an bukan sekadar teks keagamaan, melainkan satu-satunya jembatan epistemologis (ilmu pengetahuan) bagi masyarakat awam untuk bersentuhan dengan Islam.

Ketika jembatan ini dibangun di atas fondasi diksi yang bias dengan mengaburkan prinsip keadilan universal, kesetaraan gender, dan elastisitas konteks sosial di dalamnya, maka potret Islam yang sampai ke benak publik adalah sebuah karikatur yang cacat. Islam akhirnya dipersepsikan sebagai entitas yang asing, kaku, dan anakronis (tidak sesuai zaman) terhadap nilai-nilai kemanusiaan modern.

3. Kesimpulan

Ada sebuah realitas yang tak terbantahkan, bahwa adakalanya setiap tindakan menerjemahkan adalah bentuk pemaksaan kekuasaan atas makna. Kita tidak sedang membicarakan pertukaran kata yang netral, melainkan bagaimana latar belakang tradisi dan agenda terselubung sang penerjemah ikut mendikte apa yang boleh dan tidak boleh dipahami oleh pembaca.

Realitas pahit ini membayangi sejarah panjang terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Spanyol. Estafet bias dari era Robert of Ketton hingga Bibliander belum sepenuhnya terputus, ia hanya bermutasi, bekerja lebih halus melalui diksi yang mendistorsi, narasi yang menyudutkan, dan pengabaian konteks historis demi melanggengkan stereotip lama.

Sikap yang tepat dalam menghadapi fenomena ini bukanlah penolakan buta terhadap seluruh karya penerjemah non-Muslim, melainkan kedewasaan berpikir untuk tidak menelan mentah-mentah apa yang disajikan. Diperlukan kesadaran penuh dari pembaca kontemporer bahwa tidak ada penerjemahan yang lahir dari ruang hampa yang suci. Objektivitas mutlak dalam proses dialek kebahasaan ini menuntut filter kritis.

Pada hakikatnya, setiap lembar terjemahan adalah produk nyata dari arus zaman dan dinamika politik tempat teks itu diproduksi. Setiap penerjemah, secara sadar maupun tidak sadar, pasti membawa persoalan dunia, ideologi, serta bias kulturnya sendiri ke dalam teks yang mereka ciptakan. Oleh karena itu, membaca karya mereka menuntut kita untuk selalu mengaitkannya dengan latar belakang historis.( Wahyudi, 2021, hlm. 51).

4. Sumber / Referensi

Baihaki, Egi Sukma. 2017. "Orientalisme dan Penerjemahan Al-Qur’an." Ilmu Ushuluddin 16 (1): 22.

Faizin, Hamam. "Pencetakan Al-Qur’an dari Venesia hingga Indonesia." Suhuf 4, no. 1 (2011): 142.

Sakinah, Ekatul Hilwatis, dan Syahidil Mubarik. "Dinamika Penerjemahan Al-QUR’an di Kalangan Orientalis." EL-ADABI: Jurnal Studi Islam 3, no. 1 (2024): 55.

Burman, Thomas E. Reading the Qur’an in Latin Christendom, 1140–1560. Philadelphia: University of Pennsylvania Press, ( 2007) : 150.

Wahyudi, Rudi. "Kritik terhadap Qira’ah Al-Qur’an Perspektif Orientalis." TAFAKKUR: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 2, no. 1 (2021): 49–62.

Baca juga:
Labels : #alquran ,#spanyol ,#terjemah ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar