1. Pendahuluan
Sejak umat Turki mulai memeluk Islam secara massal
pada pertengahan abad ke-10, pertanyaan mengenai bagaimana memahami Al-Qur'an
dalam bahasa ibu mereka sendiri tidak pernah benar-benar padam. Di satu sisi,
tradisi keilmuan klasik menempatkan bahasa Arab sebagai bahasa suci yang tidak
tergantikan. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat awam untuk memahami kandungan
kitab suci yang mereka yakini sebagai pedoman hidup mendorong lahirnya berbagai
upaya penerjemahan, mulai dari bentuk yang paling sederhana berupa terjemahan
kata demi kata hingga tafsir-meal yang disusun secara sistematis.
Dalam khazanah Turki, karya semacam itu dikenal
dengan istilah meal, sebuah kata yang pada mulanya berarti "makna
yang dituju", kemudian berkembang menjadi istilah khusus untuk menyebut
terjemahan makna Al-Qur'an ke dalam bahasa Turki.
Perjalanan meal Turki bukan sekadar riwayat
filologis. Perkembangannya berkaitan erat dengan pergolakan politik dan
keagamaan yang jauh lebih besar, mulai dari runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah,
lahirnya Republik Turki yang sekuler, proyek modernisasi Mustafa Kemal Atatürk,
hingga perdebatan kontemporer mengenai penggunaan bahasa Turki dalam ibadah.
Tulisan ini menelusuri sejarah dan dinamika
penerjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Turki, mulai dari akar paling awal di
Asia Tengah, masa kemandekan pada era Utsmaniyah, kebangkitan pada masa
Tanzimat dan awal Republik, hingga perkembangan corak meal pada paruh
kedua abad ke-20 sampai masa kontemporer.
2. Pembahasan
A. Akar Awal Terjemahan Perbaris Era Samani
Al-Qur'an merupakan salah satu kitab suci yang
paling awal diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat
Turki. Terjemahan tertua yang tercatat dilakukan atas perintah penguasa Dinasti
Samani, Mansur bin Nuh, oleh sebuah tim ulama dari Khurasan dan Transoxiana,
wilayah yang pada masa itu telah dihuni oleh komunitas masyarakat Turki
(Karaman & Dönmez, t.t.).
Karya tersebut pada mulanya disusun dalam bahasa
Persia dengan metode antarbaris (satır arası), yaitu padanan kata dalam
bahasa sasaran dituliskan tepat di bawah setiap kata Arab tanpa mengikuti kaidah
tata bahasa Persia maupun Turki secara utuh. Metode ini kemudian menjadi model
bagi terjemahan-terjemahan Al-Qur'an paling awal dalam bahasa Turki yang
diperkirakan muncul sekitar abad ke-10 hingga ke-11. Tradisi tersebut dibawa
oleh para ulama dari Khurasan dan Khawarizm ke Anatolia (Karaman & Dönmez,
t.t.).
Sepanjang masa Kesultanan Seljuk, perkembangan
penerjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Turki berlangsung relatif terbatas. Hal
ini disebabkan oleh dominasi bahasa Arab dan Persia sebagai bahasa utama ilmu
pengetahuan, keagamaan, dan sastra istana. Oleh karena itu, naskah-naskah meal
antarbaris lebih banyak berfungsi sebagai media pembelajaran di kalangan
terbatas daripada sebagai bacaan masyarakat secara luas.
B. Masa Utsmaniyah dan Kebangkitan Era Tanzimat
Pada masa Kesultanan Utsmaniyah, tradisi tafsir
berbahasa Turki sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Akan tetapi,
karya-karya yang muncul lebih banyak berupa syarah terhadap kitab-kitab tafsir
besar berbahasa Arab, seperti karya al-Zamakhsyari, Fakhruddin al-Razi, dan
al-Baydawi, daripada berupa meal yang berdiri secara mandiri (Karaman
& Dönmez, t.t.).
Perkembangan meal dalam pengertian modern
baru memperoleh momentum pada masa Tanzimat (1839–1876), seiring dengan
gelombang reformasi administratif, pendidikan, dan intelektual yang berlangsung
di Kesultanan Utsmaniyah. Reformasi tersebut mendorong munculnya kebutuhan akan
literatur keagamaan yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat Turki.
Meskipun demikian, karya-karya yang lahir pada
periode ini masih terbatas jumlahnya. Sebagian besar merupakan terjemahan tidak
langsung, yakni diterjemahkan melalui bahasa Persia, bukan langsung dari teks
Al-Qur'an berbahasa Arab. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pembentukan
tradisi meal Turki masih berada pada tahap awal sebelum berkembang
secara lebih sistematis pada awal abad ke-20.
C. Lahirnya Istilah Meal pada Awal Republik
Momentum penting dalam sejarah penerjemahan
Al-Qur'an ke bahasa Turki terjadi pada masa II. Meşrutiyet (Konstitusi Kedua,
1908–1918). Berkembangnya nasionalisme Turki dan gerakan Turkisme melahirkan
tuntutan agar masyarakat dapat membaca dan memahami Al-Qur'an dalam bahasa
mereka sendiri.
Dalam suasana tersebut terbit tiga karya terjemahan
Al-Qur'an yang hampir bersamaan antara April hingga September 1924,
masing-masing disusun oleh Süleyman Tevfik el-Hüseynî, Hüseyin Kâzım Kadri, dan
Albay Cemil Said (Mustafa Öztürk, 2011).
Ketiga karya tersebut segera menuai kritik dari
otoritas keagamaan resmi, yaitu Ketua Diyanet İşleri Rifat Börekçi dan
wakilnya, Ahmed Hamdi Akseki. Mereka menilai bahwa kualitas ilmiah
terjemahan-terjemahan tersebut masih belum memenuhi standar yang diharapkan
sebagai terjemahan Al-Qur'an (Mustafa Öztürk, 2011).
Pada periode inilah istilah meal mulai
memperoleh makna khusus sebagai sebutan bagi terjemahan makna Al-Qur'an ke
dalam bahasa Turki. Istilah tersebut dipopulerkan oleh Elmalılı Muhammed Hamdi
Yazır melalui mukadimah karya monumentalnya Hak Dini Kur'an Dili.
Bahkan, karya tersebut menggunakan subjudul Yeni Mealli Türkçe Tefsir
yang kemudian menjadi salah satu rujukan penting dalam perkembangan terminologi
penerjemahan Al-Qur'an di Turki (TDV İslâm Ansiklopedisi, "Meâl").
Dengan demikian, istilah meal tidak lagi
dipahami sekadar sebagai "makna", melainkan berkembang menjadi
istilah teknis dalam tradisi keilmuan Turki untuk membedakan terjemahan makna
Al-Qur'an dari karya tafsir yang lebih luas dan interpretatif.
D. Proyek Besar Elmalılı Hamdi Yazır dan Polemik di Baliknya
Babak paling monumental dalam sejarah meal Turki
adalah proyek tafsir resmi negara yang dipercayakan kepada Elmalılı Muhammed
Hamdi Yazır. Pada tahun 1925, Diyanet İşleri Riyaseti berencana menyusun
tafsir baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Tugas menulis meal pada
awalnya diberikan kepada penyair Mehmed Akif Ersoy, sedangkan penyusunan tafsir
dipercayakan kepada Elmalılı Muhammed Hamdi Yazır (TDV İslâm Ansiklopedisi,
"Hak Dini Kur'an Dili").
Mehmed Akif sempat melanjutkan pekerjaannya di
Mesir dan mengirimkan hasil terjemahannya kepada Elmalılı untuk disisipkan ke
dalam tafsir. Namun, kemudian ia mengundurkan diri karena khawatir meal
yang disusunnya akan dijadikan dasar pelaksanaan salat berbahasa Turki. Oleh
sebab itu, ia tidak pernah menyerahkan naskah lengkapnya kepada parlemen (TDV
İslâm Ansiklopedisi, "Meâl"; TDV İslâm Ansiklopedisi, "Hak Dini
Kur'an Dili").
Tugas penyusunan meal akhirnya turut
dibebankan kepada Elmalılı Muhammed Hamdi Yazır. Ia berhasil menyelesaikan
proyek tafsir sembilan jilid tersebut dalam kurun waktu dua belas tahun (1926–1938).
Karya tersebut kemudian diterbitkan oleh Diyanet İşleri Riyaseti secara
bertahap antara tahun 1935 hingga 1939 (Atik, t.t.). Hingga saat ini, Hak
Dini Kur'an Dili masih dipandang sebagai salah satu karya tafsir berbahasa
Turki yang paling otoritatif (Ataturkansiklopedisi.gov.tr, t.t.).
Proyek besar ini tidak lepas dari berbagai
kontroversi. Sejumlah sumber mengaitkannya dengan agenda modernisasi Mustafa
Kemal Atatürk yang berupaya mendorong "pen-Turki-an Islam", termasuk
gagasan agar Al-Qur'an dapat dibaca dan dilantunkan dalam bahasa Turki
sebagaimana bahasa Arab (Ataturkansiklopedisi.gov.tr, t.t.; Aydar, 2007).
Namun demikian, terdapat pula pandangan lain yang
membantah narasi tersebut. Beberapa peneliti menegaskan bahwa tugas resmi yang
diberikan kepada Elmalılı adalah menyusun tafsir Al-Qur'an, bukan menyediakan
sarana ibadah dalam bahasa Turki. Bahkan, Elmalılı sendiri dikenal sebagai
salah seorang ulama yang menolak gagasan salat berbahasa Turki (TDV İslâm
Ansiklopedisi, "Meâl").
Sebagian catatan juga menyebutkan bahwa Elmalılı
sengaja menyusun meal-nya dengan gaya bahasa yang relatif berat dan
tidak terlalu komunikatif agar tidak mudah digunakan sebagai bacaan dalam salat
sehari-hari (TDV İslâm Ansiklopedisi, "Meâl"; Atik, t.t.).
E. Perdebatan Ibadah Berbahasa Turki
Perdebatan mengenai penggunaan bahasa Turki dalam
ibadah sesungguhnya telah muncul sejak masa Tanzimat dan II. Meşrutiyet.
Akan tetapi, gagasan tersebut baru memperoleh bentuk kebijakan yang nyata pada
masa Republik Turki.
Fakultas Ilahiyat Universitas Istanbul (Darülfünun)
pernah menyusun laporan yang mendukung penggunaan bahasa Turki dalam
pelaksanaan ibadah. Mustafa Kemal Atatürk bahkan disebut memberikan dukungan
terhadap gagasan tersebut dengan menginstruksikan sejumlah imam untuk
mengumandangkan azan dan membaca Al-Qur'an dalam bahasa Turki (Aydar, 2007).
Kebijakan tersebut menjadikan azan berbahasa Turki
berlaku secara resmi selama kurang lebih delapan belas tahun. Baru pada tahun
1950, setelah pergantian pemerintahan melalui pemilu multipartai pertama di
Turki, penggunaan azan dalam bahasa Arab kembali diberlakukan.
Perdebatan mengenai bahasa ibadah ini menunjukkan
bahwa persoalan penerjemahan Al-Qur'an di Turki tidak hanya berkaitan dengan
aspek linguistik maupun pendidikan, tetapi juga menyangkut identitas nasional,
relasi antara agama dan negara, serta arah modernisasi yang ditempuh Republik
Turki pada masa awal pembentukannya.
F. Dinamika Pasca-1950: Pertumbuhan Meal dan Gerakan Mealcilik
Memasuki dekade 1950-an, jumlah meal
berbahasa Turki mulai bertambah secara signifikan. Salah satu karya yang
berpengaruh pada periode ini adalah Kur'an-ı Hakîm ve Meal-i Kerim karya
Hasan Basri Çantay yang diterbitkan pada 1952–1953. Setelah itu, berbagai karya
meal dan tafsir-meal terus bermunculan pada dekade-dekade
berikutnya.
Perkembangan tersebut semakin menguat pada
pertengahan 1970-an hingga 1980-an dengan munculnya kecenderungan baru yang
dikenal sebagai gerakan Mealcilik atau "aliran berorientasi meal".
Gerakan ini menekankan pembacaan langsung terhadap makna Al-Qur'an tanpa
terlalu bergantung pada kerangka tafsir mazhab klasik. Tokoh-tokoh yang sering
dikaitkan dengan kecenderungan ini antara lain Hüseyin Atay, Yaşar Nuri Öztürk,
Edip Yüksel, Süleyman Ateş, dan Bayraktar Bayraklı (Mustafa Öztürk, 2012).
Gerakan Mealcilik juga dipengaruhi oleh
pendekatan pembacaan Al-Qur'an berdasarkan urutan turunnya wahyu (nüzul)
serta penekanan pada analisis semantik terhadap konsep-konsep kunci dalam
Al-Qur'an. Pendekatan tersebut tampak dalam berbagai tulisan yang diterbitkan
di majalah Kalem pada akhir dekade 1980-an.
Kehadiran gerakan ini memperlihatkan perubahan
orientasi dalam studi Al-Qur'an di Turki. Jika sebelumnya masyarakat lebih
bergantung pada otoritas kitab-kitab tafsir klasik, maka sebagian kalangan
mulai mendorong pembacaan Al-Qur'an secara langsung melalui meal.
Pergeseran ini sekaligus melahirkan perdebatan baru mengenai hubungan antara meal,
tafsir, dan otoritas keilmuan Islam.
G. Meal Kontemporer:
Diyanet, Yaşar Nuri Öztürk, dan Kontroversi yang Berlanjut
Pada masa kontemporer, perkembangan meal di
Turki berlangsung melalui dua jalur utama, yaitu jalur resmi negara dan jalur
independen.
Di ranah resmi, Diyanet İşleri Başkanlığı
terus memperbarui produk meal dan tafsirnya agar sesuai dengan kebutuhan
masyarakat modern. Salah satu karya yang paling berpengaruh ialah Kur'an
Yolu Türkçe Meal ve Tefsir yang disusun oleh tim akademisi, antara lain
Hayreddin Karaman dan İbrahim Kâfi Dönmez (Karaman & Dönmez, t.t.). Karya
ini menjadi salah satu rujukan utama dalam kajian Al-Qur'an di Turki karena
menggabungkan pendekatan akademik dengan otoritas kelembagaan negara.
Sementara itu, di luar jalur resmi, meal
karya Yaşar Nuri Öztürk menjadi salah satu fenomena penerbitan paling menonjol
dalam sejarah Republik Turki. Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1993,
karya tersebut telah dicetak ulang lebih dari tiga ratus kali dan disebut
sebagai salah satu buku dengan jumlah cetakan terbanyak dalam sejarah
penerbitan Turki (Yaşar Nuri Öztürk, 1993).
Yaşar Nuri Öztürk juga dikenal sebagai salah satu
tokoh yang paling vokal mendukung penggunaan bahasa Turki dalam ibadah.
Pandangan tersebut memunculkan berbagai perdebatan dengan kalangan ulama
tradisional yang tetap mempertahankan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa
ibadah (İnce, 2021).
Perkembangan ini menunjukkan bahwa tradisi meal
di Turki masih terus bergerak mengikuti dinamika sosial, politik, dan keagamaan
masyarakatnya. Perdebatan mengenai batas antara terjemahan, tafsir, dan
otoritas keagamaan belum berakhir, bahkan terus berkembang seiring munculnya
generasi baru penafsir dan penerjemah Al-Qur'an.
3. Kesimpulan
Sejarah penerjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa
Turki merupakan cerminan dari pergulatan panjang antara otoritas tradisi,
kebutuhan masyarakat untuk memahami Al-Qur'an, dan dinamika politik yang
berkembang di Turki. Mulai dari tradisi terjemahan antarbaris pada era Samani,
masa kemandekan pada periode Utsmaniyah, hingga proyek monumental Elmalılı
Muhammed Hamdi Yazır pada awal Republik, perkembangan meal selalu berada
di persimpangan antara kepentingan keagamaan, kebahasaan, dan kebangsaan.
Perdebatan mengenai penggunaan bahasa Turki dalam
ibadah yang berkembang sejak masa Tanzimat dan mencapai puncaknya pada era
Mustafa Kemal Atatürk menunjukkan bahwa persoalan penerjemahan Al-Qur'an tidak
pernah semata-mata bersifat filologis. Di baliknya terdapat persoalan identitas
nasional, hubungan agama dan negara, serta arah modernisasi masyarakat Turki.
Dinamika tersebut terus berlanjut hingga masa kini
melalui dua kecenderungan utama. Di satu sisi, Diyanet İşleri Başkanlığı
menghadirkan meal dan tafsir resmi yang disusun secara kolektif dengan
pendekatan akademik. Di sisi lain, muncul berbagai meal independen yang
menawarkan corak penafsiran berbeda, sebagaimana tampak dalam karya-karya Yaşar
Nuri Öztürk dan para tokoh Mealcilik. Kedua arus tersebut menunjukkan
bahwa penerjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Turki bukan sekadar proses alih
bahasa, melainkan ruang dialog yang terus mempertemukan tradisi, pembaruan, dan
kebutuhan umat Islam dalam memahami kitab sucinya.
4. Daftar Pustaka
Atik, Necmi. "Elmalılı Muhammed Hamdi Yazır'ın
Yazdığı Son Meâl." Diakses tahun 2026. https://dergipark.org.tr/en/download/article-file/2194950.
Ataturkansiklopedisi.gov.tr. "Elmalılı
Muhammed Hamdi Yazır (1877–1942)." Diakses tahun 2026. https://ataturkansiklopedisi.gov.tr/detay/659/.
Aydar, Hidayet. "Türklerde Anadilde İbadet
Meselesi – Cumhuriyet Dönemi." İstanbul Üniversitesi İlahiyat Fakültesi
Dergisi, No. 15 (2007).
İnce, Özdemir. "Yaşar Nuri Öztürk ve Türkçe
Kur'an." Cumhuriyet, 2021.
Karaman, Hayreddin, & İbrahim Kâfi Dönmez. Kur'an
Yolu Türkçe Meal ve Tefsir. Ankara: Diyanet İşleri Başkanlığı Yayınları.
Öztürk, Mustafa. "II. Meşrutiyet'ten Günümüze
Kur'an Mealleri." TALİD (Türkiye Araştırmaları Literatür Dergisi),
Vol. 9, No. 18 (2011).
Öztürk, Mustafa. "Cumhuriyet Dönemi Telif
Tefsirler." TALİD (Türkiye Araştırmaları Literatür Dergisi), Vol.
10, No. 19–20 (2012).
Öztürk, Yaşar Nuri. Kur'an-ı Kerim Meali: İniş
Sırasına Göre. İstanbul, 1993.
TDV İslâm Ansiklopedisi. "Hak Dini Kur'an
Dili."
TDV İslâm Ansiklopedisi. "Meâl."
Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. "Keunikan Tefsiru Cüz'ü Amme Karya
Sulaiman Hilmi Tunahan dalam Kajian Tafsir Al-Qur'an di Turki."
