Tafsir Al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan Al-Andalusi

Daftar Isi [Tampilkan]

Oleh: Puad Ramdani 
Universitas Islam Darussalam Ciamis


Kitab Tafsir al-Bahr al-Muhith. Dokumentasi Wikipedia


1. Pendahuluan

Penafsiran terhadap Al-Qur’an selalu menjadi fokus utama para ulama abad pertengahan, termasuk pada abad ke-8 Hijriah. Pada abad tersebut, perkembangan ilmu keislaman mengalami kemajuan yang pesat dan semakin matang. Sejak masa sahabat hingga periode klasik dan pertengahan, penafsiran Al-Qur’an mengalami transformasi metodologis yang signifikan.

Pada fase awal, tafsir lebih dominan berbasis riwayat (bi al-ma’tsūr) dengan mengandalkan penjelasan Nabi, sahabat, dan tabi‘in. Namun, seiring berkembangnya berbagai disiplin ilmu seperti nahwu, balaghah, ushul fikih, dan ilmu kalam, muncul pendekatan tafsir yang lebih sistematis dan rasional.

Salah satu mufasir paling representatif dalam kategori tafsir linguistik adalah Abu Hayyan al-Andalusi (w. 745 H). Karya monumentalnya, Al-Baḥr al-Muḥīṭ, menjadi salah satu rujukan utama dalam studi i‘rab Al-Qur’an dan analisis gramatikal ayat.

Hal ini menunjukkan bahwa kajian gramatikal atau analisis bahasa menjadi salah satu tolok ukur utama dan memiliki posisi penting dalam epistemologi tafsir Al-Qur’an.

Keunikan Al-Baḥr al-Muḥīṭ terletak pada kedalaman pembahasan linguistik yang sistematis dan argumentatif. Abu Hayyan tidak sekadar menyebutkan pendapat, tetapi juga membedah struktur kalimat, menjelaskan berbagai kemungkinan i‘rab, mengemukakan perbedaan qira’at, kemudian melakukan tarjīḥ secara kritis.

Pendekatan tersebut menjadikan tafsirnya sebagai karya akademik yang merepresentasikan integrasi antara ilmu bahasa dan kajian tafsir.

2. Biografi

Abu Hayyan al-Andalusi memiliki nama lengkap Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan al-Gharnathi al-Andalusi. Ia lahir di Granada (Gharnathah), Andalusia, pada tahun 654 H/1256 M. Lingkungan Andalusia pada masa itu dikenal sebagai pusat intelektual yang kaya dengan tradisi bahasa, sastra, dan filsafat. Kondisi tersebut membentuk fondasi keilmuan Abu Hayyan sejak usia dini.

Sejak muda, ia menunjukkan ketekunan luar biasa dalam menuntut ilmu. Ia mendalami berbagai disiplin ilmu seperti nahwu, sharaf, balaghah, qira’at, hadis, dan tafsir. Perjalanan ilmiahnya membawanya ke berbagai wilayah Islam, termasuk Afrika Utara dan Mesir. Di Kairo, ia menetap dan menjadi salah satu ulama terkemuka hingga wafat pada tahun 745 H/1344 M.

Keunggulan Abu Hayyan terletak pada penguasaannya terhadap ilmu bahasa Arab. Ia dikenal sebagai salah satu pakar nahwu terbesar pada abad ke-8 H. Kecenderungannya mengikuti mazhab Basrah tidak membuatnya bersikap fanatik; ia tetap kritis dan independen dalam menilai berbagai argumentasi gramatikal.

Sikap ilmiah ini sangat tampak dalam karya tafsirnya. Selain Al-Baḥr al-Muḥīṭ, ia menulis sejumlah karya penting seperti Al-Nahr al-Mādd min al-Baḥr al-Muḥīṭ (ringkasan tafsirnya), Tuḥfat al-Arīb dalam bidang kosakata Al-Qur’an, serta karya-karya dalam bidang qira’at dan nahwu.

Produktivitasnya menunjukkan keluasan disiplin ilmu yang dikuasainya. Secara teologis, ia cenderung kepada Ahl al-Sunnah dan sering mengkritik pandangan Mu‘tazilah, khususnya dalam tafsir yang memiliki kecenderungan teologis seperti karya al-Zamakhsyari. Namun, kritiknya lebih bersifat argumentatif daripada polemis.

3. Karakteristik Penafsiran

Karakteristik paling menonjol dari Al-Baḥr al-Muḥīṭ adalah dominasi pembahasan nahwu dan i‘rab. Dalam banyak kasus, penjelasan mengenai kedudukan gramatikal suatu kata dapat memakan ruang yang cukup panjang, bahkan lebih panjang daripada penjelasan mengenai makna global ayat.

Abu Hayyan sering menyebutkan beberapa kemungkinan i‘rab, kemudian membandingkan dan menilai kekuatan masing-masing berdasarkan kaidah bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa tafsir ini tidak sekadar menjelaskan makna, tetapi juga merekam dinamika perdebatan linguistik di kalangan ulama.

Selain nahwu, pembahasan sharaf (morfologi) juga mendapat perhatian, terutama ketika bentuk suatu kata memiliki implikasi terhadap makna tertentu. Integrasi antara sintaksis dan morfologi menjadikan kitab ini kaya dalam kajian linguistik.

4. Contoh Penafsiran

Surat Al-Jatsiyah ayat 24:

وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ

Di sini kita akan melihat bagaimana Abu Hayyan dalam menafsirkan dahr yang berkaitan dengan masa (waktu). Penguraian tafsir yang dilakukan berdasarkan analisis bahasa sangat terlihat dalam menafsirkan ayat ini, meskipun dengan membandingkan dan mengutip pendapat dari para ulama tafsir lainnya. Cara pandang inilah yang menjadi ciri khas Abu Hayyan.

Lafaz وَمَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا adalah perkataan orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari hari kebangkitan. Maksud kematian di sini adalah berpisahnya ruh dari jasad seseorang. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kematian seorang ayah kemudian digantikan dengan kehidupan anaknya sebagai bentuk regenerasi.

Adapun Zaid bin Ali membaca lafaz نَحْيَا dengan dhammah pada huruf nun. Menurut Abu Hayyan, tidak ada yang mematikan atau membinasakan kecuali perputaran waktu atau masa. Analisis berbasis ilmu nahwu akan semakin sering ditemukan dalam sejumlah penafsiran beliau terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam tafsir al-Maraghi disebutkan bahwa lafaz وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ merupakan perkataan kaum kafir Quraisy: “Tidak ada yang membinasakan kita kecuali berjalannya malam dan siang.” Dengan demikian, pergantian malam dan siang dianggap sebagai sesuatu yang memengaruhi kebinasaan manusia.

Demikianlah penafsiran ayat yang dilakukan oleh Abu Hayyan, yang juga didasarkan pada pendapat-pendapat para ulama dari kalangan tabi’in dan mufasir lainnya.

Al-Maraghi mengatakan: “Allah mengecam perkataan mereka tersebut yang menyatakan bahwa kehidupan ini hanyalah kehidupan dunia saja dan yang membinasakan adalah masa. Mereka tidak memiliki ilmu yang didasarkan pada dalil naqli maupun akal. Ayat ini merupakan isyarat bahwa perkataan tanpa pembuktian dan hujjah tidak patut dijadikan pedoman.”

Dengan demikian, Abu Hayyan al-Andalusi memaknai kata الدَّهْر (waktu) sebagai sesuatu yang berlangsung panjang yang dilalui manusia, yaitu sejak penciptaannya hingga kematian.

Pola penafsiran semacam ini dilakukan oleh beliau untuk semakin memfokuskan pembahasan terhadap kata ad-dahr dari sisi pemaknaan bahasa (lughowi).

5. Daftar Pustaka

Abu Hayyan al-Andalusi. Al-Bahr al-Muhith. Beirut: Dar al-Fikr, n.d.

Al-Dzahabi, Muhammad Husain. Al-Tafsir wa al-Mufassirun. Vol. 2. Kairo: Dar al-Hadith, 2005.

Al-Qaththan, Manna’. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah, 2000.

Anshari, F. A., & Hilmi, R. (2021). Metodologi Khusus Penafsiran Al-Quran dalam Kitab Tafsir Al-Maraghi. Jurnal Iman Dan Spiritualitas, 1(1), 55–62.

Rohmanudin, D. (2019). Sifat-sifat Allah SWT. dalam tafsir Al Kasysyaf dan Bahrul Muhith: Sebuah kajian komparatif. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Baca juga:
Labels : #al-Andalus ,#tafsir ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar