1. Pendahuluan
Penafsiran terhadap Al-Qur’an selalu
menjadi fokus utama para ulama abad pertengahan, termasuk pada abad ke-8
Hijriah. Pada abad tersebut, perkembangan ilmu keislaman mengalami kemajuan
yang pesat dan semakin matang. Sejak masa sahabat hingga periode klasik dan
pertengahan, penafsiran Al-Qur’an mengalami transformasi metodologis yang
signifikan.
Pada fase awal, tafsir lebih dominan
berbasis riwayat (bi al-ma’tsūr) dengan mengandalkan penjelasan Nabi,
sahabat, dan tabi‘in. Namun, seiring berkembangnya berbagai disiplin ilmu
seperti nahwu, balaghah, ushul fikih, dan ilmu kalam, muncul pendekatan tafsir
yang lebih sistematis dan rasional.
Salah satu mufasir paling
representatif dalam kategori tafsir linguistik adalah Abu Hayyan al-Andalusi
(w. 745 H). Karya monumentalnya, Al-Baḥr al-Muḥīṭ, menjadi salah satu
rujukan utama dalam studi i‘rab Al-Qur’an dan analisis gramatikal
ayat.
Hal ini menunjukkan bahwa kajian
gramatikal atau analisis bahasa menjadi salah satu tolok ukur utama dan
memiliki posisi penting dalam epistemologi tafsir Al-Qur’an.
Keunikan Al-Baḥr al-Muḥīṭ
terletak pada kedalaman pembahasan linguistik yang sistematis dan argumentatif.
Abu Hayyan tidak sekadar menyebutkan pendapat, tetapi juga membedah struktur
kalimat, menjelaskan berbagai kemungkinan i‘rab, mengemukakan
perbedaan qira’at, kemudian melakukan tarjīḥ secara kritis.
Pendekatan tersebut menjadikan
tafsirnya sebagai karya akademik yang merepresentasikan integrasi antara ilmu
bahasa dan kajian tafsir.
2. Biografi
Abu Hayyan al-Andalusi memiliki nama
lengkap Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan al-Gharnathi
al-Andalusi. Ia lahir di Granada (Gharnathah), Andalusia, pada tahun 654 H/1256
M. Lingkungan Andalusia pada masa itu dikenal sebagai pusat intelektual yang
kaya dengan tradisi bahasa, sastra, dan filsafat. Kondisi tersebut membentuk
fondasi keilmuan Abu Hayyan sejak usia dini.
Sejak muda, ia menunjukkan ketekunan
luar biasa dalam menuntut ilmu. Ia mendalami berbagai disiplin ilmu seperti
nahwu, sharaf, balaghah, qira’at, hadis, dan tafsir. Perjalanan ilmiahnya
membawanya ke berbagai wilayah Islam, termasuk Afrika Utara dan Mesir. Di
Kairo, ia menetap dan menjadi salah satu ulama terkemuka hingga wafat pada
tahun 745 H/1344 M.
Keunggulan Abu Hayyan terletak pada
penguasaannya terhadap ilmu bahasa Arab. Ia dikenal sebagai salah satu pakar
nahwu terbesar pada abad ke-8 H. Kecenderungannya mengikuti mazhab Basrah tidak
membuatnya bersikap fanatik; ia tetap kritis dan independen dalam menilai
berbagai argumentasi gramatikal.
Sikap ilmiah ini sangat tampak dalam
karya tafsirnya. Selain Al-Baḥr al-Muḥīṭ, ia menulis sejumlah karya
penting seperti Al-Nahr al-Mādd min al-Baḥr al-Muḥīṭ (ringkasan
tafsirnya), Tuḥfat al-Arīb dalam bidang kosakata Al-Qur’an, serta
karya-karya dalam bidang qira’at dan nahwu.
Produktivitasnya menunjukkan keluasan
disiplin ilmu yang dikuasainya. Secara teologis, ia cenderung kepada Ahl
al-Sunnah dan sering mengkritik pandangan Mu‘tazilah, khususnya dalam tafsir
yang memiliki kecenderungan teologis seperti karya al-Zamakhsyari.
Namun, kritiknya lebih bersifat argumentatif daripada polemis.
3. Karakteristik Penafsiran
Karakteristik paling menonjol dari Al-Baḥr
al-Muḥīṭ adalah dominasi pembahasan nahwu dan i‘rab. Dalam banyak
kasus, penjelasan mengenai kedudukan gramatikal suatu kata dapat memakan ruang
yang cukup panjang, bahkan lebih panjang daripada penjelasan mengenai makna
global ayat.
Abu Hayyan sering menyebutkan beberapa
kemungkinan i‘rab, kemudian membandingkan dan menilai kekuatan
masing-masing berdasarkan kaidah bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa tafsir ini
tidak sekadar menjelaskan makna, tetapi juga merekam dinamika perdebatan
linguistik di kalangan ulama.
Selain nahwu, pembahasan sharaf (morfologi)
juga mendapat perhatian, terutama ketika bentuk suatu kata memiliki implikasi
terhadap makna tertentu. Integrasi antara sintaksis dan morfologi
menjadikan kitab ini kaya dalam kajian linguistik.
4. Contoh Penafsiran
Surat
Al-Jatsiyah ayat 24:
وَقَالُوْا
مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ
اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا
يَظُنُّوْنَ
Di sini kita akan melihat bagaimana
Abu Hayyan dalam menafsirkan dahr yang berkaitan dengan masa (waktu).
Penguraian tafsir yang dilakukan berdasarkan analisis bahasa sangat terlihat
dalam menafsirkan ayat ini, meskipun dengan membandingkan dan mengutip pendapat
dari para ulama tafsir lainnya. Cara pandang inilah yang menjadi ciri khas Abu
Hayyan.
Lafaz وَمَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا adalah perkataan orang-orang kafir Quraisy yang
mengingkari hari kebangkitan. Maksud kematian di sini adalah berpisahnya ruh
dari jasad seseorang. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kematian seorang
ayah kemudian digantikan dengan kehidupan anaknya sebagai bentuk regenerasi.
Adapun Zaid bin Ali membaca lafaz نَحْيَا dengan dhammah
pada huruf nun. Menurut Abu Hayyan, tidak ada yang mematikan atau
membinasakan kecuali perputaran waktu atau masa. Analisis berbasis ilmu nahwu
akan semakin sering ditemukan dalam sejumlah penafsiran beliau terhadap
ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam tafsir al-Maraghi
disebutkan bahwa lafaz وَمَا يُهْلِكُنَا
إِلَّا الدَّهْرُ merupakan
perkataan kaum kafir Quraisy: “Tidak ada yang membinasakan kita kecuali
berjalannya malam dan siang.” Dengan demikian, pergantian malam dan siang
dianggap sebagai sesuatu yang memengaruhi kebinasaan manusia.
Demikianlah penafsiran ayat yang
dilakukan oleh Abu Hayyan, yang juga didasarkan pada pendapat-pendapat para
ulama dari kalangan tabi’in dan mufasir lainnya.
Al-Maraghi mengatakan: “Allah
mengecam perkataan mereka tersebut yang menyatakan bahwa kehidupan ini hanyalah
kehidupan dunia saja dan yang membinasakan adalah masa. Mereka tidak memiliki
ilmu yang didasarkan pada dalil naqli maupun akal. Ayat ini merupakan isyarat
bahwa perkataan tanpa pembuktian dan hujjah tidak patut dijadikan pedoman.”
Dengan demikian, Abu Hayyan
al-Andalusi memaknai kata الدَّهْر (waktu) sebagai sesuatu yang
berlangsung panjang yang dilalui manusia, yaitu sejak penciptaannya hingga
kematian.
Pola penafsiran semacam ini dilakukan
oleh beliau untuk semakin memfokuskan pembahasan terhadap kata ad-dahr
dari sisi pemaknaan bahasa (lughowi).
5. Daftar Pustaka
Abu Hayyan
al-Andalusi. Al-Bahr al-Muhith. Beirut:
Dar al-Fikr, n.d.
Al-Dzahabi,
Muhammad Husain. Al-Tafsir wa
al-Mufassirun. Vol. 2. Kairo: Dar al-Hadith, 2005.
Al-Qaththan, Manna’.
Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah, 2000.
Anshari, F. A., &
Hilmi, R. (2021). Metodologi Khusus Penafsiran Al-Quran
dalam Kitab Tafsir Al-Maraghi. Jurnal Iman Dan Spiritualitas, 1(1),
55–62.